Kumpulan Artikel dalam Blog Ini

sabilurasyad

Rehat dalam perjalanan panjang

Assalamu’alaikum wa rahmatullah.

Tak terasa sudah lebih dari 3 tahun blog ini mengudara di jagat maya. Perjalanan yang cukup panjang ini sudah membawa kami sejauh ini. Meskipun tidak banyak yang kami bagikan dalam blog ini, cukup kiranya rasa puas yang didapatkan dari menulis, atau membagikan ide dalam tulisan. Selain tentunya rasa menyesal bila ada kesalahan di sana-sini.

Baca Lanjutannya…

Adab Salam dalam Kehidupan Sehari-hari

“Orang Yahudi itu kaum pendengki. Dan tidak ada kedengkian mereka yang lebih besar selain kepada ‘salam’ (ucapan assalamu’alaikum) dan amin.”

As Salam, Peaceful Sanctuary

As Salam (Asma’ul Husna), Peaceful Sanctuary (Photo credit: Sunflower Central)

Ucapan assalamu’alaikum adalah salah satu syi’ar Islam. Bahkan syi’ar yang satu ini termasuk yang paling populer di kalangan kaum Muslimin. Betapa tidak, dari anak kecil yang baru belajar bicara hingga orang tua yang mulai sulit bicara, begitu akrab dengan ucapan ini. Tidak mengherankan bila orang-orang yahudi, seperti disebutkan oleh Rasulullah saw., begitu benci dengan syi’ar yang sederhana untuk diucapkan, namun memiliki arti yang dalam itu.

Pernah seorang Arab gunung menyapa Rasulullah saw. dengan an’im shabahan (selamat pagi), maka Rasulullah saw. mengatakan “Allah swt. telah mengganti ucapan itu dengan yang lebih baik yaitu assalamu’alaikum.”

“Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah penghormatan itu (dengan yang serupa). Sesungguhnya Allah memperhitungankan segala sesuatu” (QS. An-Nisa‘: 86)

“Kalian tidak akan masuk surga sehingga beriman, dan tidaklah beriman sehingga saling mencintai. Inginkah aku tunjukkan kepada kalian sesuatu yang jika dilakukan, kalian akan saling mencintai? Sebarkanlah salam di antara kalian.” (HR. Muslim)

Baca Lanjutannya…

Tujuh Langkah Menjernihkan Hati

Green Heart (And the Green Grass Grows All Aro...

Green Heart (Photo credit: CarbonNYC)

Jika kita menatap kehidupan manusia sekarang ini, maka hati kita akan pilu. Mereka kebanyakan adalah manusia sipil, tetapi berkarakter militer. Mereka manusia yang sehat secara fisik tetapi ruhaninya sakit. Mereka memproklamirkan dirinya sebagai makhluk modern, tetapi miskin adab dan cenderung primitif.

Merekalah makhluk yang tidak utuh, terbelah jiwanya (split personality), serta tidak pandai menjalani kehidupan ini secara seimbang. Mereka mamandang agama hanya sebatas pencuci dosa, bukan pencegah dari perbuatan yang fahsya’ dan munkar.

Di satu sisi mereka rajin berdoa di masjid, tapi setelah keluar dari masjid mereka melakukan perbuatan yang bertentangan dengan isi dosanya.

Mereka adalah manusia sekuler, menceraikan makhluk dari al-Khaliq. Mereka membuat dikotomi-dikotomi, memisahkan ranah ruhani dan jasmani, ritual dan sosial, akal dan iman, dunia dan akhirat, serta jiwa dan raga.

Allah ta’ala berfirman:

Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta. (Al-Baqarah [2]: 10)

Para mufassir menjelaskan bahwa penyakit yang dimaksud dalam ayat itu adalah keyakinan mereka terhadap kebenaran Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wassalam lemah. Kelemahan keyakinan itu, menimbulkan kedengkian, iri hati, serta dendam terhadap Nabi Shalallahu alaihi wassalam dan orang-orang Islam. Baca Lanjutannya…

Pemuda Ansor, Jadilah Pembela Islam

Pada awal-awal berdirinya, Ansor, yang merupakan organisasi kepemudaan NU, selalu membela Islam dari penjajah dan musuh-musah Islam lainnya. Ansor dulu tidak pernah menjadi antek penjajah.

KH. Wahid Hasyim pada acara reuni Pengurus Besar Ansor Nadlatul Ulama (nama lama GP Ansor) pada 14 Desember 1949 di Surabaya mengemukakan pentingnya membangun kembali organisasi Pemuda Ansor karena dua hal: (1) Untuk membentengi perjuangan umat Islam Indonesia; (2) Untuk mempersiapkan diri sebagai kader penerus NU.

via Pemuda Ansor, Jadilah Pembela Islam (1) – Hidayatullah.com.

Irsyad al-‘Ibad ila Sabil al-Rasyad

Kembali ke masa lampau, mengingat asbab pemilihan nama Sabil ar-Rasyad.

Kitab Irsyadul ‘Ibad ila Sabil al-Rasyad (إرشاد العباد إلى سبيل ارشاد) adalah karya Syeikh Zaynuddin bin Abdul Aziz bin Zaynuddin bin ‘Ali al-Ma’bari al-Malibari.

Karya Ulama: Irsyad ‘Ibad Ila Sabil al-Rasyad.

Jangan Panggil Kami Ustadz!

Sabil Rasyid:

Jangan panggil kami ustadz gara-gara di wajah kami tumbuh jenggotnya.

Jangan panggil kami ustadz gara-gara pakaian kami tidak isbal.

Jangan panggil kami ustadz gara-gara di jidat kami ada tanda hitamnya, bisa jadi itu karena kulit kami yang sensitif jika bersentuhan dengan benda keras (lantai tempat sujud).

Jangan panggil kami ustadz gara-gara kadang kami pakai pecis.

Originally posted on Al Bandary:

Jangan panggil kami ustadz gara-gara di wajah kami tumbuh jenggotnya.

Jangan panggil kami ustadz gara-gara pakaian kami tidak isbal.

Jangan panggil kami ustadz gara-gara di jidat kami ada tanda hitamnya, bisa jadi itu karena kulit kami yang sensitif jika bersentuhan dengan benda keras (lantai tempat sujud).

Jangan panggil kami ustadz gara-gara kadang kami pakai pecis.

Jangan panggil kami ustadz gara-gara kami mengajak shalat berjama’ah di masjid.

Jangan panggil kami ustadz gara-gara kami kadang ngaji (tilawah Al-Qur’an) di tempat umum.

Jangan panggil kami ustadz gara-gara kami mengajak untuk datang kajian.

Jangan panggil kami ustadz gara-gara kami memberi sms motivasi nan islami.

Jangan panggil kami ustadz gara-gara kami tidak berpacaran.

Jangan panggil kami ustadz gara-gara status facebook, twitter, blog kami yang kadang-kadang sok ‘alim.

Jangan panggil kami ustadz…

Jangan panggil kami ustadz, karena yang demikian belum tentu ustadz.

Ustadz paham ilmu agama secara mendalam dan mengajarkannya. Sedangkan kami? Kami hanyalah muridnya…

View original 40 more words

Apa Kata Ulama Tentang Syi’ah?

Apa Kata Ulama Tentang Syi’ah?.

Imam Malik -rahimahullah- (w 179) berkata, “Orang yang mencela sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak memiliki tempat dalam Islam.” (Sunnah, Al Khallal, 1/493)

Beliau juga pernah ditanya bagaimana menyikapi orang-orang Rafidhah, maka ia menjawab, “Jangan berbicara kepada mereka dan jangan bersikap manis, karena mereka semua pendusta.” (Minhaj Sunnah, 1/61)

Selengkapnya pada Apa Kata Ulama Tentang Syi’ah?.

EKSIS Adakan Salon Kepribadian

EKSIS Rohis Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Semarang, hari Sabtu, 7 Juni 2014 akan mengadakan Seminar Kemuslimahan (SEMUSIM).

Acara yang di-handle oleh Departemen Annisa ini rencananya akan mendatangkan Asma Nadia, pembicara tingkat nasional yang sudah banyak menulis buku best seller dan mendapat berbagai macam penghargaan.

Dengan tema yang sama dengan judul buku karya pembicaranya yaitu Salon Kepribadian Jangan Jadi Muslimah Nyebelin ini, harapannya peserta kelak akan menjadi muslimah yang tidak menyebalkan.

Banyak manfaat dan fasilitas yang in syaa Allah akan peserta dapatkan.

Bagi pengunjung blog ini yang berminat untuk mengikuti, silahkan untuk mendaftarkan diri anda ke panitia. Adapun cara mendaftar dan biaya pendaftarannya bisa anda lihat di pamflet berikut.

#JUST FOR MUSLIMAH

SEMUSIM

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 237 pengikut lainnya.