Menjadi Pemimpin (dalam Islam)


Sistem pemilihan pemimpin di indonesia sekarang ini terkesan menghambur-hamburkan uang negara. Setiap bulan –mungkin– ada saja pemilihan di kabupaten atau kota. Calon yang akan dipilih biasanya bermodal ketenaran dan uang, yang biasanya artis. Beberapa waktu lalu, bahkan artis yang biasa tampil seronok dicalonkan oleh partai untuk menjadi bupati di suatu kabupaten. Otonomi daerah dan reformasi dijadikan dalih agar pemilihan pemimpin dilaksanakan sendiri-sendiri di daerah. Padahal ini bisa menjadi peluang penggelembungan dana a.k.a korupsi. Lebih dari itu, calon yang maju tidak sesuai harapan.

Dari itu semua, kalah dan menang sudah lumrah adanya. Tetapi ada –bahkan banyak– orang tidak bisa menerima kekalahan. Misalnya saja caleg yang tidak lolos banyak yang menjadi stress –jika tidak dikatakan gila. Mereka ini sudah dipastikan mencalonkan diri karena money oriented, atau termotivasi oleh kedudukan dan uang. Mereka ini bisa disamakan dengan para pejudi. Mereka bertaruh demi mendapat kedudukan dalam dewan yang terhormat. Sungguh picik sekali pemikiran yang demikian itu.

Terlepas dari itu semua, kampanye-kampanye yang digalakkan para calon tidak hanya dalam bentuk orasi. Ada yang mengunjungi TPA untuk mendapat simpati dari wong cilik, tak jarang yang mengunjungi pasar tradisional untuk mendengar aspirasi pedagang di sana –dan sekaligus sekali-kali melihat pasar tradisional karena sering ke mal. Tetapi jika terpilih, apakah mereka akan ingat janji mereka itu? Kemungkinannya iya dan tidak. Pemimpin yang amanah adalah pemimpin yang menepati janjinya itu.

Rupanya momen pemilihan umum lebih menguntungkan sebagian golongan saja. Masyarakat yang dijanjikan kesejahteraan, yang sebagian orang miskin, hanyalah dijadikan objek pelengkap penggembira. Pada saat kampanye, rakyat seperti “dimanja-manja”, tetapi setelah selesai, seolah sang pemerintah lepas tangan –sekali lagi seolah. Para anggota dewan hanya menginginkan gajinya perbulan, tetapi hasil kerjanya mandul. Lihat saja kasus-kasus yang menimpa anggota dewan terkait korupsi waktu-waktu lalu.

Itulah yang saya pikirkan selama ini. Apakah politik seperti itu? Memanfaatkan rakyat sebagai obyek kampanye dan kepentingan masing-masing pribadi atau golongan? Katanya, dasar negara Indonesia yaitu Pancasila. Yang salah satu silanya mengatakan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Sudah jelas bahwa rakyat Indonesia butuh keadilan, keadilan sosial. Ya mbok daripada mengurus proyek untuk sepakbola (membangun stadion atau yang lain) lebih baik membangun rumah-rumah untuk gelandangan dan orang terlantar.

“Nasionalisme” telah luntur dari diri masyarakat kita. Dan individualisme sebagai hasil liberalisme telah menyusup begitu dalam di setiap pribadi. Padahal imperialisme telah menjajah bangsa kita ini sebagai hasil dari kapitalisme. Dekadensi moral telah merusakkan peradaban dan kehidupan. Sehingga korupsi seolah telah membudaya dalam pemerintahan kita.

Sebenarnya tujuan atau motivasi utama seseorang ingin menjadi pemimpin itu apa? Apakah ia sudah merasa pantas? Sudahkah mereka memiliki kriteria seorang pemimpin? Kriteria pemimpin antara lain:

1. niat yang lurus

2. laki-laki

3. tidak minta jabatan

4. berpegang pada hukum Allah

5. memutuskan perkara dengan adil

6. tidak menutup diri saat rakyat membutuhkan

7. menasihati rakyat

8. tidak menerima hadiah

9. mencari pemimpin (pengganti) yang baik

10. lemah lembut

11. tidak meragui dan memata-matai rakyat

dalam konteks ini adalah syarat seorang pemimpin dalam Islam, karena mayoritas di Indonesia adalah Islam. Sudahkah Anda wahai para pemimpin, memenuhi syarat-syarat tersebut?

Sungguh sunnah Rasulullah saw telah menunjukkan bahwa kekuasaan adalah amanat yang wajib dipertanggungjawabkan, seperti yang disebutkan Nabi saw kepada Abu Dzar tentang kekuasaan:

“sesungguhnya kekuasaan itu adalah amanat dan kelak pada hari kiamat akan menjadi penyebab kehinaan dan penyesalan kecuali bagi orang yang mengambilnya dengan cara yang benar dan melakukan kewajiban-kewajiban yang harus dipikulnya.” (HR Ibnu Taimiyah)

About these ads

Tag:, ,

One response to “Menjadi Pemimpin (dalam Islam)”

  1. wachid says :

    kenapa gak ada yang komen?

Silakan berikan gagasan mengenai tulisan ini

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 237 pengikut lainnya.