Olimpiade: Bukan Pesta Olahraga


stadion stadium london, olah raga, logo olimpiade china london

Beberapa waktu yang lalu seluruh bumi gegap gempita dengan perayaan olimpiade Beijing. Praktis seluruh kehidupan masyarakat ter-sibghah yang serba Olympic minded. Arus informasi global yang menjangkau sudut-sudut dunia memungkinkan perhelatan internasional itu diindera jutaan anak manusia di berbagai penjuru dunia. Orang jadi susah mengelak dari riam olimpiade yang demikian dahsyat, sekalipun bukan pecandu olahraga sekalipun. Siapa pun akan terimbas. Sejak dari percakapan di warung kopi antara abang becak sampai ke suasana santai para eksekutif dan bincang-bincangnya selebritis lapis atas sosio kultur negeri ini semuanya menjadikan olimpiade sebagai tema pembicaraan. Tak kurang seorang perawat kesehatan di suatu rumah sakit menuturkan pengalamannya di surat pembaca sebuah koran, “Gara-gara keenakan nonton acara olimpiade, sampai bayi saya jatuh dari boks dan terkencing-kencing.”

Olimpiade dan ghazwul fikri

Olimpiade adalah sebuah fenomena yang tidak lagi bisa dipandang sebagai peristiwa olahraga an sich. Namun telah melebar mengangkangi bidang-bidang lain yang memiliki nilai strategis. Artinya, ia telah menjadi isu sentral yang seakan-akan ‘wajib’ untuk direspons dalam berbagai seginya. Ia pun membuat sejumlah nilai yang secara aktif diimplementasikan pada sisi-sisi non-olahraga, seperti nilai-nilai peradaban, sejarah, politik, budaya, ekonomi dan seterusnya. Dengan demikian olimpiade yang kerap dikonotasikan sebagai pesta olahraga sejagat itu tidak lagi sesederhana slogan yang diikrarkan. Sebaliknya, substansi yang dikandung olimpiade –menurut hemat penulis—justru berada di sektor-sektor yang berada di luar gelanggang. Alhasil, sejumlah misi dan rekayasa fikrah amat boleh jadi ditumpangkan pada event semacam ini. Dalam konteks ghazwul fikri, menjadi jelas betapa olimpiade adalah instrumen budaya untuk mendiktekan hegemoni negara-negara besar kepada negara-negara gurem dalam seluruh lini kehidupan. Yang mana notabene negeri-negeri muslim berada di kelompok terakhir. Sehingga dalam kasus ini ummat islam yang masih tsiqoh (setia) kepada ajaran dien-nya berposisi lemah (dan di lemahkan) yang tak punya bargaining power. Jadilah mereka pihak konsumen dari fikroh yang negara-negara barat pasarkan.

Kalau kita membagi ummat manusia ini dari perspektif islam, maka hanya ada dua blok besar, islami dan jahili. Seperti dipahami, pembagian semacam ini telah masyhur sejak zaman-zaman awal nubuwah Muhammad SAW. Dan telah secara luas dihayati oleh pelanjut sejarah islam dari masa ke masa. Dari era pertumbuhan shahwah islamiyah (kebangkitan islam) kontemporer saat ini ide terhadap pembagian manusia menjadi islami dan jahili tersebut masih sangat relevan bahkan akan tetap relevan sampai akhir zaman. Seperti yang diuraikan oleh ustadz Sayyid Quthb dalam bukunya ‘Ma’alim fi at-thoriq’ (petunjuk jalan) atau oleh ustadz muhammad Quthb ‘Jahiliyah modern’. Nah, akan halnya seluruh pusaran kebudayaan yang beredar di planet bumi sekarangini pada hakikatnya hanya terdapat dua kemungkinan, islami atau jahili. Maka seluruh aktivitas sosiokultur yang tidak diasasi oleh sistem nilai islam bisa dipastikan muatan jahilinya. Tak terkecuali olimpiade Beijing, China beberapa waktu lalu.

 

 


»http://www.ummi-online.com
bersambung »

Silakan berikan gagasan mengenai tulisan ini

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s