Teladan dan Idola Keluarga


Asian Idol
Asian Idol (Photo credit: Wikipedia)

Dr. Imaduddin Khalil dalam bukunya Muasyaratu fi ‘Ashri As Sur’ah menceritakan bahwa di salah satu pusat pendidikan amerika pernah berkumpul seluruh pakar pendidikan negeri itu. Mereka berdiskusi tentang cara terbaik untuk menyebarkan pengaruh amerika ke segala penjuru dunia. Hal itu dalam rangka penyebaran ideologi saat perang dingin melawan Soviet. Salah seorang dari mereka mengusulkan agar mereka menentukan dan menginternasionalkan sosok-sosok pribadi ala Amerika yang menjadi dewa penyelamat yang sedang melanda dunia saat ini. Setelah terjadi perbincangan agak lama, akhirnya mereka menetapkan sosok itu sebagai ‘Superman’. Rencana ini digulirkan dan direalisasikan dalam praktek nyata. Mereka memproduksi film-film, kartun, gambar, poster, stiker, dan lain-lain agar anak-anak di seluruh dunia mengidolakan tokoh-tokoh itu.

Akibatnya, saat ini kita kebanjiran tokoh-tokoh dan idola jahiliyah yang langsung atau tidak menjauhkan anak-anak kaum mislimin dari ajaran Islam. Lihatlah bagaimana anak-anak mengenal akrab Superman, Rambo, Robocops, Batman, Power Rangers, dan lain-lain. Belum lagi tokoh-tokoh dunia khayal jepang dan Cina yang juga diproduksi semata-mata untuk bisnis.

Melalui televisi, koran, majalah, internet, dan media massa lainnya, anak-anak kita diberi idola dari dunia khayal dan lamunan yang menyesatkan. Idola itu sangat rapuh, dari segi lepribadian ataupun akhlak. Dia hanya menjadikan anak-anak sebagai penghayal dan pengagum negeri yang menjadi produsernya. Tetapi inilah realita yang dihadapi setiap keluarga muslim di dunia sekarang ini.

Kaum musimin sebenarnya mewarisi sejarah dan peradaban islam yang agung. Di dalamnya terdapat ribuan tokoh yang patut diteladani dan dicontoh. Bukan merupakan tokoh idola dari alam khayal dan lamunan, tetapi dari kenyataan yang dapat diakuui kebenarannya. Para mujahid dan ulama islam itu bukan hanya cara hidupnya yang dapat dicontoh dan ditiru, kata-kata dan pendapat mereka pun dapat dijadikan pegangan.

Para tokoh dan pejuang Islam bermuara pada Rasulullah sang teladan utama. Artinya kita wajib meneladani Rasulullah untuk kemudian mengikuti salah satu di antara tokoh islam itu dalam spesifikasi yang kita minati. Karena firman Allah, “Sungguh telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang-orang yang mengharap (rahmat)Allah dan (kedatangan) hari akhir dan dia banyak dzikrullah (mengingat Allah).” (QS Al Ahzab 21)

Setiap Nabi sebelum Muhammad SAW memiliki karakteistik yang khas. Keutamaan sifat dan wataknya diungkapkan oleh Al Quran. Namun semua karakter ini berkumpul dalam pribadi Muhammad SAW. Karena pribadi Muhammad adalah pribadi AlQuran sebagaimana dilukiskan oleh Aisya RA. “Adalah akhlak Rasulullah itu Al Quran.” (HR Sahihain)

Karena itu, dalam akidah Islam, teladan utama itu hanya satu yaitu Muhammad SAW. Para sahabat Nabi juga orang yang meneladani Nabi Muhammad. Namun dengan keterbatasan mereka sebagai manusia lahirlah karakter pribadi yang khas. Semisal Ummar bin Khattab, Bilal bin Rabah, Utsman bin Affan, dan sebagainya. Masing-masing memiliki keutamaan yang dapat dicontoh dan ditiru.

Bagaimanakah generasi sahabat itu mewariskan keteladanan Rasulullah kepada orang-orang sesudah mereka? Para sahabat Nabi, tabi’in, dan tabi’it-tabi’in mewariskan peradaban ini dengan jalan bertutur kepada anak-anak mereka. Karena itu Muadz bin Jabal berkata, “Kami para sahabat Nabi mengajarkan anak-anak kami tentang perang-perang Rasulullah sebagaimana mereka menghafalkan Al Quran.”

Peristiwa peperangan bersifat heroik dan sangat berpengaruh kepada jiwa anak-anak. Kepahlawanan seorang tokoh yang diceritakan oleh ayahnya akan terkenang terus di benak sang anak. Dalam budaya Islam, kita mengenal Khalid bin Walid sebagai pedang Allah. Hamzah sebagai syahid yang agung dalam perang Uhud, Umar bin Khattab sebagai seorang yang tidak pernah berkompromi dengan kebathilan, Utsman bin Affan dengan kedermawanannya, dan sebagainya. Bila hal itu diungkapkan lengkap dengan kisah-kisahnya tentu berpengaruh positif ke dalam jiwa anak-anak.

Dari itu, teladan dan idola Islami ini hendaknya ditanamkan sejak dini kepada anak-anak kita. Jangan berikan kesempatan kepadanya untuk mengagumi idola yang tidak jelas arah dan tujuannya. Mereka akan menjadi masalah besar kelak di kemudian hari. seorang anak yang idolanya ‘Satria Baja Hitam’ misalnya, hanya mengerti kekerasan, berkelahi, dan bergaya. Satria baja hitam tidak dapat direalisasi dalam kehidupan karena dia tidak lebih hanya tokoh alam khayal.


lihat http://www.ummi-online.com/

Silakan berikan gagasan mengenai tulisan ini

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s