Iman Hidup, Hidup Nyaman


perjalanan hidup
Perjalanan

Malam itu Saad bin Abi Waqqash keluar dari tendanya. Ia ingin buang air kecil. Dicarinya tempat yang tersembunyi dan gelap, di situlah ia melepas hajatnya. Tapi kemudian ia tertegun, air seninya tak langsung mengenai tanah tapi mengenai sebuah benda. “Ah itu suara kulit kena air.” Segera setelah beristinja’ ia mengambil kulit tadi, membersihkannya, lalu membawanya pulang ke tenda. Setibanya di tenda, kulit itu pun dimasak untuk kemudian dimakan.

Itulah salah satu malam di antara seribu hari yang penuh dengan kesulitan dalam kehidupan Rasulullah dan para sahabat dan karib kerabatnya. Mereka diboikot habis-habisan oleh penduduk Mekkah. Mereka seperti dipenjara dalam sebuah penjara besar yaitu bukit Tsi’ib. Tak seorang pun berani mendekat kepada mereka, berniaga, apalagi memberi bantuan pangan. Hidup mereka betul-betul dihimpit kesulitan, apalagi setelah persediaan makanan mereka habis sama sekali. Mereka benar-benar seakan terasingkan dari kehidupan, tak bebas bergerak, tak bebas bergaul, apalagi mengambil peran dalam masyarakat. Tiga tahun bukanlah waktu yang singkat untuk menghadapi penderitaan berat ini.

Tapi, ternyata mereka tabah. Tak seorang pun yang ingin menggadai keimanannya untuk digantikan dengan kebebasan dan kemudahan hidup. Tak seorang pun yang berpikir ingin mengakhiri hidup untuk mengakhiri penderitaan ini. Mereka begitu teguh. Mereka tidak gamang. Bahkan mereka rasakan ini merupakan bagian dari perjuangan hidup dalam menegakkan agama Allah.

Apakah mereka malaikat yang tak punya perasaan, hawa nafsu dan kebutuhan? Tidak! Mereka adalah manusia biasa seperti kita yang menurut Al Quran potensi untuk memiliki kegamangan hidup. Al Quran menjelaskan:

إِنَّ الْإِنْسَانَ خُلِقَ هَلُوعًا[19] إِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ جَزُوعًا[20] وَإِذَا مَسَّهُ الْخَيْرُ مَنُوعًا[21]

“Sesungguhnya manusia diciptakan dalam keadaan keluh kesah. Jika keburukan menimpanya dia gelisah dan jika ia menerima kebaikan (karunia, kenikmatan) ia bersifat kikir.” (Al Ma’arij: 19-21).

Pada dasarnya, kenyamanan dan kegamangan hidup tidaklah ditentukan oleh apakah seseorang itu memiliki hawa nafsu (kebutuhan) hidup atau tidak. Al quran menjelaskan kenyamanan dan kegamangan itu lebih ditentukan oleh ‘jarak’ dengan Allah. Semakin dekat seseorang dengan Allah, semakin kecil peluang orang itu terkena kegamangan hidup, demikian pula sebaliknya. Dan yang mendekatkan jarak seseorang kepada Allah itu tidak lain adalah keimanan kepada-Nya. Firman Allah:

الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولَئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُونَ[82]

“Orang-orang yang beriman dan tidak mecampuradukkan keimanan mereka dengan kezhaliman, bagi merekalah orang-orang yang mendapat keimanan dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (Al An’am : 82).

Jadi, imanlah yang mendekatkan seseorang dengan Allah. Semakin dekat orang itu dengan Allah, semakin mantap jiwanya dan semakin jauh dari rasa takut dan kecemasan.

أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ[62] الَّذِينَ آمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ[63] لَهُمُ الْبُشْرَىٰ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ ۚ لَا تَبْدِيلَ لِكَلِمَاتِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ[64]

“Ingatlah bahwa para kekasih Allah itu tidak akan merasa takut dan tidak akan merasa sedih. Mereka adalah orang-orang yang beriman dengan keadaan mereka bertakwa. Bagi mereka berita gembira dalam kehidupan di dunia dan (dalam kehidupan) akhirat.” (Yunus 62-64)

Namun tentu saja iman yang mampu mewujudkan perasaan tentram jiwa dan mengusir kegalauan hidup adalah iman yang hidup dan memiliki vitalitas. Hidupnya iman adalah dengan amal perbuatan dan pengorbanan nyata. Iman yang hidup senantiasa melakukan terobosan-terobosan demi mencari kedekatan kepada Allah. Dan salah satu bukti vitalitas iman itu adalah aktif melakukan dzikrullah (mengingat Allah) dengan segala cara yang diajarkan Rasulullah saw.

Oleh karena itu, Allah berfirman:

… أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ[28]

“Ingatlah, dengan dzikrullah-lah hati akan menjadi tentram.” (Ar Ra’d 28)

Dalam ayat lain, bukti-bukti vitalitas iman itu disebutkan secara lebih rinci sebagai sifat-sifat yang harus ada pada seorang Mukmin. Setelah Allah menyebutkan watak manusia yang memiliki potensi keluh kesah (70: 19-21), ayat-ayat berikutnya (70: 22-34) kemudian merinci sifat-sifat itu dan menyebutnya sebagai obat yang akan mampu meetralisir kegelisahan, kecemasan, dan kekikiran. Sifat-sifat itu adalah:

  • melaksanakan sholat secara dawam (kontinu)
  • mencanangkan jatah untuk fakir miskin dari hartanya
  • meyakini adanya hari pembalasan
  • merasa takut akan azab Allah>
  • memelihara kesucian kemaluannya dengan tidak mengumbarnya selain pada jalan yang dibenarkan Allah
  • menjaga amanah yang diembankan atasnya
  • menunaikan janji yang dibuatnya
  • dan –sekali lagi– memelihara shalatnya

Bukan hanya itu vitalitas iman pada seseorang terkait pula dengan persepsinya tentang duniadan kehidupan. Ada banyak ayat Al Quran yang mengecam orang-orang kafir dan dikaitkan dengan pandangan dan sikap mereka terhadap dunia dan kehidupan. Di antaranya:

الَّذِينَ يَسْتَحِبُّونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا عَلَى الْآخِرَةِ وَيَصُدُّونَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ وَيَبْغُونَهَا عِوَجًا ۚ أُولَئِكَ فِي ضَلَالٍ بَعِيدٍ[3] وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ رَسُولٍ إِلَّا بِلِسَانِ قَوْمِهِ لِيُبَيِّنَ لَهُمْ ۖ فَيُضِلُّ اللَّهُ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي مَنْ يَشَاءُ ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ[4]

“(yaitu) orang-orang yang lebih menyukai kehidupan dunia dari pada kehidupan akhirat, dan menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah dan menginginkan agar jalan Allah itu bengkok. Mereka itu berada dalam kesesatan yang jauh. Kami tidak mengutus seorang rasulpun, melainkan dengan bahasa kaumnya, supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka. Maka Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki, dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Dialah Tuhan Yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana.”

Ada trilogi pemahaman tentang kehidupan yang merupakan jaminan munculnya vitalitas iman itu:

Pertama, Memahami Tujuan Hidup

Firman Allah SWT:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ[56]

“Dan tidaklah kami ciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepada-Ku.” (Adz-Dzariyat : 56)

Firman-Nya pula:

وَهُوَ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ وَكَانَ عَرْشُهُ عَلَى الْمَاءِ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا ۗ وَلَئِنْ قُلْتَ إِنَّكُمْ مَبْعُوثُونَ مِنْ بَعْدِ الْمَوْتِ لَيَقُولَنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا إِنْ هَذَا إِلَّا سِحْرٌ مُبِينٌ[7]

“Dan Dialah Yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, dan adalah ‘Arsy-Nya di atas air agar Ia menguji kalian siapakah di antara kalian yang paling baik amalnya.” (Hud 7)

Kedua, Memahami Kedudukan Dunia Dibandingkan Akhirat.

Firman Allah:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا مَا لَكُمْ إِذَا قِيلَ لَكُمُ انْفِرُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ اثَّاقَلْتُمْ إِلَى الْأَرْضِ ۚ أَرَضِيتُمْ بِالْحَيَاةِ الدُّنْيَا مِنَ الْآخِرَةِ ۚ فَمَا مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا فِي الْآخِرَةِ إِلَّا قَلِيلٌ38]

“Apakah kamu puas dengan kehidupan dunia sebagai ganti kehidupan akhirat? Padahal kenikmatan kehidupan di dunia ini (dibandingkan dengan kehidupan) di akhirat hanyalah sedikit.” (At Taubah: 38)

Diriwayatkan bahwa suatu hari, Rasulullah SAW berdiri di atas tempat sampah seraya memanggil para sahabatnya. “Kemarilah menuju dunia.” Lalu, Rasulullah mengambil sobekan dari kain yang sudah lusuh dan sepotong tulang yang sudah membusuk seraya mengatakan, “Inilah dunia!”

Pada kesempatan lain, Rasulullah melihat bangkai seekor domba yang dibuang oleh pemiliknya. Beliau menoleh kepada para sahabatnya lalumengatakan, “Tidakkah kalian melihat bahwa bangkai itu tak lagi berarti bagi pemiliknya? Demi Allah, sesungguhnya dunia lebih rendah bagi Allah ketimbang bingkai ini bagi pemiliknya. Dan seandainya dunia ini senilai sayap nyamuk saja, niscaya Dia tak akan memberi minum kepada orang kafir meskipun hanya seteguk air.”

Ketiga, hal yang tak boleh dilupakan, meskipun seseorang mengalami ketidakpastian hidup, tetapi satu hal yang pasti adalah kematian.

Firman Allah:

كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍ[>26> وَيَبْقَىٰ وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ[27]

“Semua yang ada di bumi ini akan binasa dan tetap kekal Dzat Rabbmu yang mempunyai kebesaran dan kemulyaan.” (Ar Rahman 26-27)

Abu Dzar al Ghifary pernah mengatakan: akuu bertanya pada Rasulullah SAW, “Ya Rasulullah, apa isi kandungan shuhuf Musa AS?” Rasulullah saw menjawab, “Seluruh isi kandungannya ‘ibrah (yakni): aku merasa heran dengan orang yang sudah yakin tentang api neraka akan tetapi dia tertawa. Aku merasa heran dengan orang yang sudah yakin tentang qodar, tetapi ia merasa payah (dalam beramal). Aku merasa heran dengan orang yang sudah melihat dunia dan perpindahannya di tangan-tangan penghuninya, akan tetapi (tetap saja) ia merasa puas dengannya. Dan aku merasa heran dengan orang yang sudah yakin adanya hari perhitungan amal (hisab) akan tetapi ia tidak bekerja untuk menghadapinya.” (Riwayat Ibnu Hibban)

Begitulah para sahabat Rasul. Mereka tegar dalam menghadapi ketidakpastian hidup, kesempitan nafkah, dan pengasingan oleh para musuh. Tapi, mereka menjadi gelisah dan resah manakala mereka terhambat untuk mempersiapkan diri menghadapi kepastian kematian. Adalah Ka’ab bin Malik r.a. contoh nyata dari pernyataan ini.

Suatu kali Ka’ab khilaf tidak ikut berperang bersama Rasulullah, tak ada sebab yang jelas mengapa ia tak ikut. Sepulangnya Rasulullah bersama kaum muslimin dari medan perang, Ka’ab melaporkan ihwalnya kepada Rasulullah. Ia sangat menyesali kelalaiannya itu dan ia sangat takut akan murka Allah.

Benar saja, Allah dan Rasul-Nya memutuskan agar Ka’ab beserta dua orang sahabat lain yang juga tak ikut berperang menjalani hukuman isolasi. Betapa galau hati ketiga sahabat ini, mereka merasa kehidupan ini menjadi begitu sempit. Mereka tak lagi memperoleh kesempatan beramal bersama kaum muslimin untuk mempersiapkan kematian. Kegalauan yang diikuti harapan penerimaan taubat dari Allah terus menghantui kehidupan mereka sampai akhirnya Allah benar-benar menerima taubat mereka dan memberikan kesempatan kepada mereka untuk beramal kembali bersama kaum muslimin.

Sekali lagi, kegamangan hidup merupakan masalah kejiwaan. Penyelesaiannya haruslah memakai cara yang telah ditawarkan oleh Pemilik jiwa itu sendiri: Allah SWT.

وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَىٰ[>124]

“Barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit dan Kami akan menghidupkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.” (Thaha 124)

“Para dokter penyakit jiwa,” kata Dale Carnegie, “tahu bahwa iman yang kuat dan keteguhan memegang agama merupakan dua buah senjata ampuh untuk menekan kegoncangan jiwa dan ketegangan syaraf serta untuk menyembuhkan berbagai macam penyakit.”

»http://ummi-online.com/


Diperbarui pada 14 Sept 2012

Silakan berikan gagasan mengenai tulisan ini

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s