Olimpiade adalah Gerakan (lanjutan dari “olimpiade bukan pesta olahraga”)


Tak bisa dipungkiri bahwa perhelatan olahraga internasional, olimpiade, ditangani secara rapi dan terstruktur dengan tujuan-tujuan, misi, dan orientasi yang matang. Apa yang menamakan dirinya sebagai ‘olympic movement’ pada dasarnya mengorganisasi kegiatan-kegiatan olimpiade dengan landasan berpikir yang murni sekuler-materialistik. Artinya, motivasi yang menggerakkan pelaksanaan event ini sepenuhnya disemangati oleh tata nilai barat yang memandang kehidupan ini sebagai hal yang terpisah dengan ajaran agama serta menganggap perikebendaan sebagai prestasi tertinggi pencapaian ikhtiar manusia dalam menyejahterakan hidupnya. Sehingga sejak A sampai Z program ini berlangsung tampak kental filosofi semacam ini. Seluruh aktivitas gerakan olimpiade diwarnai oleh ‘the way of life’ yang mengejar beragam privilege-privilege materi an sich dan tidak mengarah pada nilai-nilai yang lebih tinggi dari itu.Maka dalam slogan yang ditampilkan oleh olimpic movement ini kita bisa melihat bagaimana mereka memobilisasi kekuatan-kekuatan internasional untuk turut terlibat mendukung. Seperti dipahami bahwa slogan gerakan ini menawarkan upaya menggalang persatuan dan kesatuan kemanusiaan menuju dunia yang damai dan aman. Melalui ini, dikerahkanlah semua potensi untuk merealisasikannya.

The Olympic Rings, the symbol of the modern Ol...
The Olympic Rings, the symbol of the modern Olympic Games, inspired by Pierre de Coubertin (Photo credit: Wikipedia)

Sedangkan olimpiade telah menancapkan pengaruhnya dalam berbagai bidang kehidupan. Sehingga kalau anda mengamati sebuah penyelenggaraan olimpiade, misalnya di Beijing tahun lalu, akan tampak potret olimpiade modern yang kosmopolitan dengan mengarahkan unsur-unsur seni budaya, politik, ekonomi, bahkan ke hal-hal yang berbau sistem religi sekalipun tak luput dari jangkauannya. Dalam masing-masing bidang tadi, olimpic movement secara aktif memberi sibghah nilai-nilai sekuler-materialistik, menggerakkan orang untuk selalu tabik –atau minimal tidak antipati- terhadap peradaban barat.

    1. Ideologi dan aspek spiritual

Olimpiade ini dalam sejarahnya tak bisa dipisahkan dari tradisi paganisme Yunani kuno. Konon di event olimpiade tradisional yang difilsafati oleh ruh penyembahan dewa-dewa, gerak-gerak badan yang dilakukan diniatkan untuk mengagungkan dewa Olimpus. Sehingga nama yang diproklamirkan oleh Baron Pierre de Coubertin –peletak dasar olimpiade modern– untuk menyebut pesta olahraga internasional itu mengambil filosofi peradaban Yunani kuno yang politeistik. Olimpiade modern dalam kenyataannya masih pekat dengan ideologi dasar olimpiade kuno. Bahkan terkesan melestarikannya. Misalnya dalam penyalaan api di upacara pembukaan yang demikian sakral, secara tersirat menyimbolkan suasana serupa di yunani. Selain itu pencanangan olimpiade modern diukur dan dimulai dari momentum perdana olimpiade Athena 1896, kota yang dianggap sebagai ilham spiritual olimpic movement. Demikian juga seluruh kegiatan berupa upacara-upacara yang mengagungkan simbol-simbol abstrak, hasil kesepakatan nenek moyang zaman dahulu. Semuanya menunjukkan dengan jelas ide yang melatarbelakangi gerakan ini.

  • Politik

Penyelenggaraan setiap olimpiade hampir-hampir tak bisa diceraikan dari aspek politik. Artinya, momentum olimpiade karena terselenggara karena besarnya lobbying internasional dari olimpic movement terhadap kekuatan-kekuatan strategis suatu negara maka penguasa politik seluruh negeri di muka bumi ini selalu menganggap olimpiade sebagai bagian yang tak bisa dipisahkan dari politik luar negerinya. Mereka menjadikan event olimpiade internasional sebagai sarana untuk memperkenalkan bangsanya masing-masing di hadapan masyarakat dunia. Sehingga amat boleh jadi negeri yang tadinya tidak begitu dikenal, lantaran olimpiade menjadi amat populer. Dalam perspektif seperti ini, gerakan olimpiade internasional bisa dibilang turut aktif menyuburkan perasaan nasionalisme. Wallahu a’lam, yang jelas setiap negara yang menggondol kepingan medali emas, lagu kebangsaannya diperdengarkan secara khusyuk. Masih di sektor siyasah, konon olimpiade dipakai juga untuk memasarkan isme-isme tertentu. Kita mungkin masih ingat ketika masih terjadi perang dingin antara Soviet yang sosialis-komunis dengan Amerika yang liberal-kapitalis, mereka memakai olimpiade sebagai arena permainan politik mereka. Maka pada tahun 1980 ketika berlangsung olimpiade ke-22 yang dilaksanakan di Moskow, diboikot oleh AS dan sekutu-sekutunya yang berjumlah sekitar 60 negara akibat invasi Soviet ke Afganistan. Sebagai balasan, pada tahun 1984 ketika olimpiade diselenggarakan di Los angeles, Soviet pun mengerahkan Konco-konco politiknya untuk memboikot olimpiade tersebut. Ini menunjukkan secara tersirat, di pesta olahraga sejagad ini anasir-anasir polotis tidak bisa dikesampingkan. Bahkan negara seperti Israel yang secara de facto sebenarnya masih harus berstatus penjajah menjadi sejajar dan seakan tak memiliki dosa-dosa politik seperti negara lain, manakala menjadi peserta olimpiade ini. Pada akhirnya orang akan melihat Israel sebagai negeri yang manis mukanya sambil melupakan prestasi hitam yang masih disandang: penjagal ribuan muslim Palestina.

  • Ekonomi

Sejak dilakukan swastanisasi penyelenggaraan olimpiade sejak 1984, maka yang terlibat sebagai penyangga ekonomi tidak lagi ditumpukan di pundak negara. Perusahaan-perusahaan raksasa semakin diuntungkan karena dengan menjadi penyandang dana, mereka bisa promosi apa saja dari produk mereka dengan skup yang menginternasional. Yang paling terkenal adalah perusahaan minuman –disinyalir sebagai beralkohol- coca cola. Perusahaan minuman yang kebetulan berpusat di Atlanta Georgia ini pula konon bersedia mengeluarkan sekitar satu trilyun rupiah (’84) dari koceknya sendiri untuk membiayai pelaksanaan plus mempromosikan produknya. Namun sebagaimana dilansir BBC London, coca cola banyak dikritik karena hanya bersedia membiayai atau men-sponsori negara-negara raksasa olahraga saja seraya mengesampingkan negeri-negeri yang bila dibiayai secara strategis tidak menguntungkan. Disamping coca-cola, yang banyak merogoh dollar dari kantong perusahaan untuk ikut mengais rezeki dari olimpiade adalah perusahaan elektronik IBM (International Bussiness Machine) yang telah tersohor di belantara perbisnisan dunia itu. Tak ketinggalan jaringan televisi yang memancarkan peristiwa empat tahunan ini, konon memiliki akses yang besar dalam menyukseskan program-program olimpiade. Sebuah jaringan televisi bersedia membiayai seluruh kegiatan dengan harapan bisa dijualnya kepada stasiun televisi lain. NBC misalnya, mesti membayar 456 juta dollar kepada panitia untuk mendapatkan hal siar eksklusif.

  • Seni budaya

Sektor ini pun tidak luput dari cakupan olimpiade modern. Terutama di acara pembukaan dan penutupan yang cenderung mewah, dan sekuler itu. Untuk keperluan tersebut, panitia melibatkan sejumlah artis kenamaan yang sudah dikenal publik. Seni budaya yang ditampilkan dalam olimpiade ini adalah seni budaya barat yang mengaku sebagai satu-satunya kekuatan universal. Melalui program-program semacam ini mereka hendak mengekalkan peradaban barat di mata dunia internasional. Termasuk dalam bidang budaya adalah jenis permainan yang dipertandingkan dan dilombakan, yang ternyata banyak didominasi oleh game yang berakar pada lungkungan sosio-kultural barat. Sehingga membawa implikasi ter-sibghah-nya seluruh tatacara, tradisi dan gaya hidup pelaksanaan olimpiade yang mau tidak mau mesti ditiru oleh negeri-negeri seluruh dunia. Misalnya dalam berpakaian atlet wanita yang cenderung vulgar. Tentu saja gaya berpakaian yang dalam pandangan Islam jelas-jelas menampakkan aurat itu menjadi tren yang meluas dan terpromosi secara tidak langsung. Dalam tinjauan yang lebih dalam , inilah sebenarnya bentuk lain dari penjajahan; imperialisme budaya! Sebab hampir-hampir tidak ada peluang alternatif dari pola berbudaya yang disuguhkan. Semuanya mesti mengikuti ‘pesan’ kultural yang western minded. Lagi-lagi ummat Islam terkena getahnya, terkondisikan oleh suasana non-Islami.

Penutup

Dari analisis sederhana di atas tampak bahwa sebenarnya di belakang peristiwa-peristiwa olahraga yang dilembagakan semacam olimpiade (dan juga varian-variannya di skup yang lebih sempit –akan kita bahas pada bagian lain) diakui atau tidak mesti dibarengi dengan orientasi-orientasi non-sport yang bersifat strategis. Sebagai ummat yang memiliki akidah dan manhaj (sistem) yang jelas, sudah selayaknya kita waspada untuk tiak terjebak pada gambar-gambar luar yang memukau namun penuh bisa dalamnya. Jelas, orang-orang yahudi dan nasrani tidak akan tinggal diam terhadap ummat Islam. Dan salah satu bidang yang kondusif untuk mengalihkan perhatian ummat terhadap ajaran Islam adalah olahraga.

Oleh karena mereka dalam mengobrak-abrik sejarah Islam ini melalui suatu gerakan yang rapi (semacam olympic movement) maka menghadapi mereka pun, sebuah gerakan Islam yang solid perlu muncul dan eksis. Allahu a’lam.

وَلَنْ تَرْضَى عَنْكَ الْيَهُودُ وَلا النَّصَارَى حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ قُلْ إِنَّ هُدَى اللَّهِ هُوَ الْهُدَى وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُمْ بَعْدَ الَّذِي جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ مَا لَكَ مِنَ اللَّهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلا نَصِيرٍ
(١٢٠)

“orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah Itulah petunjuk (yang benar)”. dan Sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, Maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.”

[Al Baqarah : 120]


Silakan berikan gagasan mengenai tulisan ini

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s