Orientasi Hidup Seorang Muslim


“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.”
(Al-Qashash [28]: 77)

MUQADDIMAH

Orientation of life
Pilih mana?

Modernisasi diakui atau tidak telah berhasil mempengaruhi sebagian besar umat Islam untuk berpikir pragmatis. Hal ini secara perlahan menjadikan mereka ragu akan janji-janji Allah ta’ala. Bahkan (tanpa sadar) mereka telah tersesat dari jalan Allah ta’ala. Sebab, mereka lebih memilih mengabdi kepada dunia daripada total mengabdi kepada Allah ta’ala.

Siang dan malam pikiran serta tenaga dikerahkan untuk mendapat kebahagiaan material. Seolah-olah tidak ada kebahagiaan tanpa materi. Sampai-sampai ada di antara mereka yang terlena dan kemudian melepaskan kesempatan untuk mendapat kebahagiaan akhirat. Padahal, kebahagiaan sejati ada pada keridhaan Allah ta’ala yang akan ditumpahkan sepenuhnya kelak di akhirat yang kekal abadi.

KANDUNGAN AYAT

Ibnu Katsir menjelaskan, setiap Muslim seharusnya menggunakan karunia yang berlimpah untuk mentaati Allah ta’ala dan mendekatkan diri kepada-Nya dengan bentuk ketaatan. Dengan itu, setiap Muslim akan memperoleh balasan di dunia dan pahala di akhirat. Namun, setiap Muslim juga berhak untuk menikmati segala sesuatu yang diperbolehkan Allah ta’ala dalam kehidupan dunia ini, mulai dari makanan, minuman, pakaian, tempat tinggal dan pernikahan.

Lebih lanjut Ibnu Katsir menjelaskan, “Sesungguhnya Allah mempunyai hak atas dirimu. Jiwa ragamu juga mempunyai hak atas dirimu. Keluargamu juga mempunyai hak atas dirimu. Tamumu juga mempunyai hak atas dirimu. Maka berikanlah tiap-tiap hak kepada pemiliknya.”

Penjelasan tersebut memberikan petunjuk bahwa Muslim yang benar adalah orang yang menjadikan dunia sebagai sarana untuk meraih kebahagiaan negeri akhirat dengan cara sepenuh hati tunduk dan taat atas seluruh ajaran Islam. Jadi Muslim yang baik ialah Muslim yang menguasai dunia karena Allah ta’ala demi umat. Bukan sebaliknya, hanya mengumpulkan harta lalu menimbunnya.

Lebih jauh, ayat tersebut bersifat aplikatif. Sebab, di dalamnya terdapat perintah praktis dan jelas agar seorang Muslim hidup sebagaimana tuntunan-Nya. Di antaranya ialah, pertama, menjadikan seluruh apa yang Allah ta’ala anugerahkan berupa harta, kesempatan, umur, kesehatan, ataupun kekuasaan sepenuhnya untuk menghambakan diri kepada Allah ta’ala. Jangan seperti Qarun, yang selalu berbangga diri dengan harta bendanya, tapi enggan menjalankan syariat agama.

Sebagai seorang Muslim, selayaknya kita mempelajari sifat-sifat Muslim sejati. Sejarah telah merekam dengan baik jejak para Sahabat Nabi yang sangat mulia. Lihat saja Khadijah, Abu Bakar, Utsman bin Affan, dan Abdurrahman bin Auf Radhiyallahu anhum yang pernah menyerahkan seluruh harta bendanya kepada Rasulullah demi perjuangan umat Islam.
Mereka adalah tipe Muslim yang tidak pernah khawatir bila harta yang diinfakkan di jalan Allah akan menjadikan dirinya miskin lagi sengsara. Sebaliknya, mereka sangat yakin bahwa dengan cara seperti itulah, kebahagiaan yang kekal abadi di akhirat akan Allah berikan sebagai balasan yang terindah dari-Nya.

Mereka tidak pernah khawatir dengan kehidupan dunia yang memang diperintahkan oleh Rasulullah untuk tidak mencintai dunia ini.

Kedua, hendaknya umat Islam tidak meninggalkan dunia secara mutlak. Artinya, kita juga diperbolehkan menikmati anugerah Allah di muka bumi ini. Seperti menikah, makam, minum, hiburan, dan lain sebagainya. Namun yang perlu diingat, hal ini hanya sekadarnya tanpa menjadikannya sebagai tujuan.

Tapi jika ingin lebih baik, ‘tidak meninggalkan bagian di dunia ini’ bisa dimaknai jangan mau terkalahkan dengan orang kafir. Sebab, kekalahan umat Islam dari orang-orang kafir, justru mengundang bahaya yang lebih besar dalam kehidupan ini. Karena itu, setiap Muslim diperbolehkan menuntut ilmu yang diperlukan untuk kejayaan umat. Sebut saja misalnya, teknologi, perbankan, pendidikan, sejarah, dan matematika. Hal ini penting utamanya untuk meraih kemenangan secara kaffah, sebagaimana pernah terwujud pada masa kejayaan peradaban Islam.

Ketiga, hendaknya berbuat baik terhadap saudara seiman sebagaimana Allah telah berbuat baik kepada kita. Ia mencintai saudaranya seiman seperti ia mencintai diri sendiri. Berbuat baik juga bermakna menahan diri dari berbuat aniaya atau kerusakan. Tidak menganiaya diri sendiri, terlebih kepada orang lain.

ORIENTASI HIDUP SAHABAT NABI

Bagaimana semestinya sikap seorang Muslim dalam menjalani hidup? Apakah dengan menumpuk harta dengan sesekali peduli agama? Atau dengan beribadah terus menerus dengan meninggalkan hiruk pikuk dunia? Atau kita mengejar akhirat tetapi juga menguasai dunia untuk kemenangan dan kejayaan umat Islam?

Pilihan terakhir tentu yang terbaik. Itulah yang dicontohkan oleh Sahabat Nabi, Abdurrahman bin Auf. Ketika hijrah ke Madinah Abdurrahman dipersaudarakan dengan Sa’ad bin ar-Rabi’. Mengenai hal itu, Anas bin Malik menuturkan: Sa’ad berkata kepada Abdurrahman: “Wahai saudaraku, aku adalah penduduk Madinah yang paling banyak hartanya, lihatlah separuh hartaku lalu ambillah.” Abdurrahman bin Auf menjawab: “Semoga Allah memberkahimu dan berkenan dengan keluarga dan hartamu. Tunjukkanlah padaku letak pasar.” Lalu ia pergi ke pasar, dan memulai usahanya sebagai pedagang untuk mendapatkan keuntungan.

Tatkala usaha niaganya mengalami kemajuan pesat, hatinya pun tak pernah goyah karena harta yang melimpah. Ia tetap meletakkan harta pada tangan dan sama sekali tak memberi ruang dalam hatinya. Tidak cukup hanya memberi harta, Abdurrahman selalu teringat para Sahabatnya. Suatu waktu, ketika hendak menghadapi hidangan yang mengundang seleranya, ia tiba-tiba menangis seraya berkata, “Mush’ab bin Umair gugur sebagai syahid dan ia lebih baik daripada aku, lalu ia dikafani dengan selimut. Jika kepalanya ditutupi, maka kedua kakinya keliatan dan jika kakinya ditutupi, maka kepalanya kelihatan. Begitu juga dengan Sahabatku Hamzah, ia syahid sedang ia lebih baik dariku. Ia tidak mendapatkan kain untuk mengkafaninya selain selimut. Kemudian dunia dibentangkan kepada kami, dan dunia diberikan kepada kami sedemikian rupa. Aku khawatir bila pahala kami telah disegerakan kepada kami di dunia.”

Lebih-lebih tatkala dia teringat Rasulullah dan keluarganya. Walaupun sedetik lagi dia menyantap makanan, seketika matanya berlinang air mata. Para sahabatnya pun bertanya, “Apa yang membuatmu menangis, wahai Abu Muhammad?” Ia menjawab, “Rasulullah meninggal dalam keadaan ia dan keluarganya belum pernah kenyang makan roti gandum. Aku tidak melihat kita diakhirkan, karena suatu yang lebih baik bagi kita.”

Inilah potret orang-orang yang menerima keberkahan dan keberuntungan besar baik di dunia dan di akhirat. Tidakkah kita tertarik seperti Sahabat Nabi yang mulia itu?

*Imam Nawawi, pengasuh Pesantren Hidayatullah Depok, Jawa Barat.
MAJALAH SUARA HIDAYATULLAH (SAHID) | FEBUARI 2012/RABIUL AWAL 1433


Lainnya dari penulis yang sama:

Silakan berikan gagasan mengenai tulisan ini

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s