Kesadaran berislam


English: Source:Kashmir in India.
English: Source:Kashmir in India. (Photo credit: Wikipedia)

Masjid-masjid bertambah banyak. Pemuda dan pelajar serta mahasiswa membanjiri masjid dan mushola. Berbagai kegiatan diadakan di sana. Ramadhan dan hari-hari besar ramai dengan kegiatan keislaman. Acara diskusi dan seminar tentang Islam banyak dikunjungi mahasiswa dan cendekiawan. Pesantren dan pondok didatangi mahasiswa yang ingin belajar Islam kepada kyai-kyai. Kajian-kajian Islam selalu menarik perhatian. Buku-buku tentang Islam membanjiri pasaran dan dinyatakan paling laris. Kita semua mengatakan ini semua sebagai alamat tumbuhnya kesadaran beragama di kalangan ummat Islam.

Banyak pejabat pemerintah menunaikan ibadah haji. Di kantor-kantor pemerintah dan lembaga-lembaga swasta diperintahkan untuk didirikan masjid dan mushola, bahkan juga tempat-tempat hiburan dan wisata. Kita menyebutnya kesadaran mulai tumbuh di lingkungan pejabat muslim.

Sebagian orang mempertanyakan, sementara perguruan tinggi Islam berkeberatan menerima lulusan pondok pesantren, mereka juga mengirimkan sarjana-sarjananya ke perguruan tinggi di AS dan Eropa, yang sekuler dan berpedirian “agama adalah pribadi sifatnya”. Sementara di dalam negeri sudah terkondisikan kecenderungan formalitas dan spesialitas yang merupakan ciri masyarakat modern. Maka sudah dapat diduga: lulusan barat inilah yang akan menangani masalah-masalah keagamaan negeri ini nantinya. Berbarengan dengan itu, dilakukan pula pengaburan istilah “ulama“ dan istilah-istilah keislaman lainnya. Sementara itu, di kalangan kaum muslimin bermunculan aliran-aliran sesat, usaha-usaha pengaburan atau tasykik atau meragukan sampai pada hal-hal yang menyangkut sumber-sumber Islam, al-Quran dan sunnah. Penafsiran yang terlepas dari teks atau nash-nash kedua sumber itu pun dilakukan oleh cendekiawan. Pemerintah atau dalam hal ini depag bersikap membiarkan seolah berkata ini adalah proses pendewasaan.

Sebagian lainnya berfikir masjid, mushola, puasa dan haji, dakwah dan da’i, berjilbab dan nikah, talak serta rujuk, diskusi, seminar dan mengaji Islam, bukanlah semua itu masalah pribadi? Bukankah seharusnya semua itu dapat dilakukan tanpa harus terlebih dahulu menunggu perkenaan atasan, karena sudah dibenarkan oleh Undang-undang? Lalu tentang ICMI, kata salah seorang tokohnya untuk mengurus ICMI tidak disyaratkan orang yang mengerti Islam. Dapatkah ini disebut sebuah kesadaran berislam? Adakah kesadaran tanpa pemahaman? Bukankah aktivitas yang disebut di atas bisa juga dilakukan oleh muslimin di negara paling sekuler sekalipun, sehingga tidak perlu menunggu mendirikannya di negara Islam?

Yang lain meneliti. Tidaklah semua ini bisa diartikan sebagai tumbuhnya semangat sekularisasi dalam tubuh ummat, yang melihat Islam hanya dalam hal-hal yang bersifat individu dan melepaskannya dari keterkaitannya dengan masalah-masalah sosial.

Dan akhirnya, yang lain berfatwa: Islam itu syamil, mencakup segala aspek kehidupan. Kesadaran berislam itu bermula dari pemahaman tentang agama Islam yang syumul itu. Ummat harus diberi tahu, ummat harus diberi pengertian. Jangan salah memandang parah akibatnya di belakang hari nanti. Demikianlah.

Silakan berikan gagasan mengenai tulisan ini

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s