Suku Badui di Israel Memperjuangkan Jalan Hidup Mereka

image1

Sekitar 190.000 orang Badui yang tinggal di gurun Israel – banyak dari mereka ada di desa-desa yang negara tidak mengakuinya dan berniat untuk menghancurkan. Israel ingin memindahkan mereka, namun ada juga yang melawan.

Lima mobil polisi mengawal bus yang penuh wisatawan, ketika mencapai kota Lakiya di Gurun Negev di Israel selatan. Para penumpang, kebanyakan orang Amerika yang kelihatan tua, banyak yang tinggal di Yerusalem, merasa gugup. Mengapa ada polisi? “Kami tidak melakukan sesuatu yang bisa membahayakan Anda,” suara pemandu wisata Ari Briggs melalui pelantang. Tapi Anda tidak bisa berhenti di sini. Polisi telah menakut-nakuti dan menawarkan pengawalan demi keselamatan. “Lakiya adalah daerah yang tidak boleh dikunjungi. Anda masih bisa mengambil foto..”

wisata ke israel
Pemandu wisata Ari Briggs: Ini tanah kami


Briggs, seorang Australia yang memakai topi Indiana Jones dan celana safari, telah berbicara dengan kliennya selama dua jam terakhir tanpa gangguan. Dia berbicara dari hati: Ancaman yang tumbuh dari suku Badui yang secara ilegal menduduki tanah Israel di Negev. Dan bagaimana organisasinya, Regavim sedang berjuang untuk menempatkan mayoritas Yahudi di sini: “Ini adalah tanah kami.” Seluruh pemerintah Israel telah mengabaikan daerah ini dengan memalukan, ia mengeluh.

Para wisatawan, yang telah membayar untuk darmawisata ke tempat “tanpa Tuhan dan hukum” untuk mengalami bahaya “pemukim ilegal” itu sekarang mengeluarkan kamera mereka. Gambar yang mereka ambil hanyalah pinggiran kota, tapi itu cukup menyedihkan: sampah tergeletak di sepanjang jalan, rumah-rumah bobrok, di antaranya ada sekolah. “Lakiya dibangun oleh Israel untuk 35.000 orang Badui, tetapi dalam kenyataannya hanya sekitar 7.000 yang tinggal di sini,” kata Briggs. “Banyak uang sejak itu telah dibuang keluar jendela,” katanya. “Semuanya runtuh.” Sepanjang hari, orang Australia, yang berimigrasi ke Israel satu dekade yang lalu, berbicara banyak tentang masa depan gurun yang sedang berbunga dengan orang Israel dan orang Badui berdampingan. Tapi ada banyak yang tidak dikatakan Briggs.

Desa tanpa infrastruktur

Diperkirakan 190.000 orang Badui tinggal di Negev – secara resmi, mereka semua warga negara Israel. Namun, 70.000 dari mereka tinggal di sekitar 45 desa yang “tidak dikenal”. Banyak darinya sudah ada jauh sebelum penciptaan Israel pada tahun 1948, tetapi karena negara secara sepihak menyatakan sekitar 95 persen dari Negev menjadi tanah miliknya, hak kepemilikan Badui tidak berarti banyak. Di desa-desa itu tidak ada sistem air dan pembuangan kotoran, tidak ada listrik, juga tidak ada sekolah atau transportasi umum. Mereka yang tinggal di sini tidak bisa memilih dalam pemilu atau mengajukan permohonan izin bangunan, karena tidak ada administrasi. Segala sesuatu yang dimungkinkan oleh pemerintah untuk permukiman di Tepi Barat – menyediakan infrastruktur yang lengkap, tidak peduli di mana – ditolak dengan mengangkat bahu untuk Badui.

penggusuran desa di israel
Desa ‘Ilegal’ menghadapi ancaman konstan dari pembongkaran

Sebaliknya, warga berharap bahwa rumah mereka bisa hancur setiap saat. Misalnya, al-Sira: Di sini keluarga Khalil Alamour telah tinggal selama tujuh generasi; sebuah rumah dan sebidang tanah adalah milik keluarganya. “Kami memiliki dokumen yang membuktikan hal itu,” kata pria berumur 47 tahun ini. Namun pemerintah Israel tidak peduli, katanya. Polisi berulang kali datang ke desa dan meletakkan izin pembongkaran di pintu depan. “Jadi kita berakhir di pengadilan secara terus menerus.” Alamour, yang kuliah di universitas meskipun ada hambatan sosial yang sangat besar, tidak memahami sikap pemerintah. “Kami bukan musuh negara, kami ingin diintegrasikan.” Tetapi integrasi ini, katanya, tidak bisa mengabaikan tradisi dan nilai-nilai dari Badui dan dilaksanakan tanpa kerjasama mereka.

Kemiskinan dan kekerasan perkotaan

Alamour mengacu pada tujuan yang dikejar oleh Israel sejak tahun 1960-an: pemukiman dan urbanisasi Badui di Negev utara yang tandus. Pada tahun 2011, Knesset menyetujui Rencana Prawer, yang masih memerlukan ratifikasi. Ia mengatakan bahwa 10 pemukiman terbesar akan diakui tapi sisanya akan dihancurkan dan penduduk disediakan rumah baru – kemungkinan besar di tujuh kota, negara membangun untuk tujuan ini pada 1968-1989.

Lakiya adalah salah satunya. Di sini, ada kemiskinan murni: kekerasan dan kejahatan yang marak, pengangguran adalah yang tertinggi di negara ini, tingkat pendidikan terendah. “Orang Badui dan kota-kota bukanlah teman,” kata Alamour, menjelaskan keadaan yang seperti bencana. Sedangkan mereka tidak lagi tinggal di tenda-tenda, orang-orangnya masih memiliki agraria yang kuat dan budaya menggembala. Sarannya: “Mari kita menjaga 5 persen terakhir dari negara yang masih kami miliki, dan kami berusaha sebaik mungkin – untuk kebaikan semua”

Setelah perjalanan bus yang panjang dengan sering berhenti – selalu pada jarak yang aman dari desa-desa Badui – Briggs mengumumkan “akhir yang damai” untuk perjalanan – kunjungan ke petani Yahudi yang tinggal di sini – selain Badui. “Utungnya ada juga orang-orang Yahudi di sini,” kata seorang wanita, mendapatkan tepuk tangan meriah.

Diterjemahkan dari http://bit.ly/RTegaO