Dakwah Keluarga


“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS At Tahrim 6)

keluarga impian
keluarga bahagia adalah impian kita

Ketika seseorang belum menikah, maka keluarganya adalah orang tua dan saudara-saudaranya, sehingga keluarga inilah yang seharusnya mendapatkan prioritas untuk didakwahi, tanpa menelantarkan kewajiban berdakwah kepada yang lain. Pemahaman medan dakwah dan kedekatan dengan objek dakwah sangatlah diperlukan dalam berdakwah, sehingga cukup tepatlah jika anggota keluarga menjadi dai bagi keluarga itu sendiri.

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah, Rasulullah saw. bersabda, “Tegakkan aturan-aturan Allah walaupun kepada keluarga dekat atau kepada orang lain. Jangan hiraukan celaan orang lain dalam menjalankan hukum-hukum Allah.”

Ketika kita mengingat kembali pada periode awal dakwah ini, akan terlihat jelas betapa pentingnya dakwah kepada keluarga. Bibit-bibit pertama pada periode sirriyah (rahasia) terdapat dalam rumah Nabi saw. Orang-orang yang pertama kali masuk Islam setelah Rasulullah saw. adalah istrinya, Khadijah; mantan budaknya, Zaid bin Haritsah; serta anak pamannya, Ali bin Abi Thalib; dan juga anak-anak perempuan beliau. Pada periode jahiriyah (terang-terangan), Nabi saw. mengajarkan dakwah kepada keluarga dekat yaitu Bani Hasyim  dan Bani Muthalib.

Sasaran Dakwah Keluarga

1. Mengembalikan keluarga ke dalam pangkuan Islam yang benar

Kondisi keluarga yang Islami dapat mempengaruhi ketenangan sang dai yang tentunya akan berpengaruh juga terhadap langkah-langkah dakwah yang dijalankan. Dukungan dan peran serta keluarga di dalam dakwah pun sangat penting dan berarti. Hal ini bisa kita lihat contohnya ketika peristiwa hijrah, bagaimana peran keluarga Abu Bakar yang sangat penting. Mulaio dari Abu Bakar sendiri, putranya Abdullah, putrinya Asma’, dan ‘Aisyah serta pembantunya Amir. Kondisi keislaman keluarga juga sangat berpengaruh terhadap kewibawaan sang dai. Bagi kalangan awam, ketsiqahan mereka terhadap seorang dai seringkali dipengaruhi oleh kondisi keluarga dai tersebut. Ketika keluarga seorang dai kondisinya jauh dari nilai-nilai, tak jarang orang akan mencemooh, “Uruslah keluargamu, tak usah mengurus orang lain!”

2. Menjadi kekuatan pendukung

Kalaupun keluarga tak mengikuti jejak sang dai untuk berislam secara benar, diharapkan mereka mendukung terhadap langkah dai atau paling tidak mereka tidak menhalangi. Kita bisa mengambil ibrah dari sikap Abi Thalib terhadap dakwah Nabi saw. Di sana beliau melindungi Nabi saw. sekalipun tidak mau masuk Islam. Hambatan dan pertentangan dari keluarga dapat memperlambat langkah seorang dai, terutama ketika dai tersebut belum bisa mandiri atau belum menikah. Sering terjadi “kemoloran” proses pernikahan akibat hambatan dari keluarga calon mempelai.

Strategi Dakwah Keluarga

Dakwah kepada keluarga bukanlah sesuatu yang mudah. Ketika seseorang salah langkah, maka akan dapat menimbulkan masalah yang besar, misalnya terputusnya hubungan keluarga, timbulnya fitnah, dsb. sehingga diperlukan langkah-langkah yang hati-hati.

1. Memulai dari diri sendiri

Tidak jarang seorang dai mempunyai latar belakang kehidupan yang jahil. Bukan seuatu hal yang mustahil, ketika dia berhijrah kemudian berdakwah kepada keluarganya maka mereka menanggapinya dengan mengungkit-ungkit masa lalunya. Seorang dai harus berupaya untuk menghapus citra negatif diri yang telah melekat dalam pandangan keluarganya dan harus menunjukkan bahwa dia benar-benar telah berubah serta memberikan pemahaman bahwa langkah-langkah di masa lalunya itu adalah langkah-langkah yang keliru.

Sang dai harus memulai segala sesuatunya dari dirinya sendiri dan senantiasa memberikan keteladanan. Ada suatu nasihat dari Ali bin Abi Thalib ra. yang cukup bermanfaat, “Siapa yang telah mencetuskan dirinya untuk menjadi ikutan dan panduan masyarakat, hendaklah memulai mendidik diri terlebih dahulu sebelum mendidik orang lain dan kalau membina hendaklah terlebih dahulu dengan teladan sebelum ucapan. Membina diri jauh lebih perlu daripada membina orang lain.”

2. Menjalin kedekatan

Sang dai harus berusaha senantiasa menjalin hubungan yang baik dengan keluarganya, baik dengan komunikasi langsung maupun tidak langsung melalui surat, telepon, sms, dll. Tak jarang, karena kesibukan aktivitas di kampus misalnya, dai menelantarkan hubungan dengan keluarga sehingga hubungan yang terjadi hanyalah berupa hubungan uang semata. Menjalin komunikasi yang rutin, mengirimkan hadiah misalnya buku, memberikan perhatian kepada keluarga, insya Allah dapat menumbuhkan kedekatan dengan keluarga yang akan dapat melahirkan ketsiqahan (kepercayaan/ketentraman) mereka.

3. Menjaga kondisi keluarga

Dakwah kepada keluarga memerlukan pemahaman terhadap kondisi keluarga, permasalahan-permasalahan yang ada, karakter dari masing-masing anggota keluarga dan juga kondisi dari lingkungan sekitar. Pemahaman terhadap seputar keluarga sangat penting untuk menentukan cara dan sarana yang digunakan. Semisal, jika keluarga termasuk golongan yang tidak suka membaca, tentunya memberikan buletin, majalah, atau buku merupakan langkah yang tidak efektif untuk dilakukan. Jika di dalam keluarga ada seorang yang cukup disegani dan sangat berpengaruh, maka orang inilah yang harus dijadikan objek utama, karena dia dapat menjadi motor perubahan dalam keluarga.

4. Sabar

Kesabaran dan keuletan sang dai sangat diperlukan untuk membimbing dan mengarahkan keluarga secara pelan, bertahap, berkesinambungan dan telaten dengan cara dan sarana yang tentunya tidak bisa disamakan dengan berdakwah di luar rumah, misalnya di kampus. Sang dai pun harus membekali diri dengan ilmu dan senantiasa berusaha menambah ilmunya sehingga bisa memberikan hujjah yang jelas dan tidak diremehkan,

Kondisi yang umum terjadi adalah masyarakat menjadikan kiai, ulama atau ustadz-ustadz setempat sebagai panutan mereka yang tak jarang cenderung diikuti apa adanya tanpa sikap kritis dan selektif. Umur dan dasar pendidikan seseorang pun ikut berpengaruh untuk menentukan siapa yang akan diikuti sehingga tak jarang seseorang yang relatif muda dan dengan latar belakang pendidikan umum tidak dipercaya ketika menyampaikan nilai-nilai agama.

Tak jarang seorang dai bisa bersikap sabar, lembut dan telaten dalam menghadapi orang lain, tetapi ketika berhadapan dengan keluarganya sendiri, bersikap keras, tergesa-gesa dan dikotori oleh rasa emosi. Ibn Khaldun mengatakan, “Orang yang dididik dengan kekerasan dan kekejaman akan tumbuh menjadi orang yang kejam, sempit hati, tidak kreatif, mudah jemu,  mudah bohong karena takut akan mendapat hukuman fisik, cenderung terbiasa menipu…”

5. Evaluasi

Evaluasi sangat diperlukan untuk mengetahui tingkat keberhasilan dakwah keluarga yang telah dilakukan serta untuk membenahi cara dan sarana dakwah yang digunakan. Doa merupakan suatu hal yang tidak boleh dilupakan, karena hanya Allahlah yang kuasa memberikan hidayah dan petunjuk kepada seseorang. Manusia hanya bisa berusaha, tetapi Allahlah yang menentukan hasilnya.

Wallahu a’lam.

2 thoughts on “Dakwah Keluarga

Silakan berikan gagasan mengenai tulisan ini

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s