Adab dalam Berdoa


Shalat solusi segala permasalahan
Shalat solusi segala problema (Photo credit: jauhari)

Berdoa adalah ungkapan kesadaran akan kekerdilan diri dan kebesaran Allah. Ia teruntai dari ma’rifat tentang kelemahan diri dan kekuatan, keperkasaan, serta kegagahan-Nya. Ia merupakan refleksi dari kepapaan dan ketergantungan makhluk kepada khaliknya. Ia tidak akan dilantunkan oleh manusia yang gumedhe (takabur) dan tidak mungkin dimiliki oleh selain manusia yang rendah hati di hadapan-Nya.

Tidak sulit dipahami, doa disebut ibadah. Bahkan menurut sabda Rasulullah saw. doa adalah sumsumnya ibadah. Sungguh banyak nash-nash syar’i yang memerintahkan agar seorang mukmin banyak-banyak berdoa kepada Allah swt.  antara lain firman Allah:

“Berdoalah kamu sekalian kepada-Ku niscaya akan Kukabulkan. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari ibadah kepada-Ku akan masuk ke dalam jahannam dalam keadaan hina-dina.” (QS Al An’am 60)

Firman Allah lainnya:

“Dan jika hamba-hamba Ku bertanya kepadamu tentang-Ku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan doa orang yang berdoa.” (QS Al Baqarah 186)

Anas bin Malik ra. meriwayatkan sebuah hadits qudsi:

“Ada empat perkara yang satu dari keempat perkara itu untuk-Ku, satu untukmu, satu untuk-Ku dan untukmu, dan satu lagi antara kamu dan hamba-Ku. Adapun yang untuk-Ku, jangan kamu menyekutukan sesuatu apapun dengan-Ku, kamu berdoa dan Aku akan mengabulkan. Dan yang untukmu dan hamba-hamba-Ku, senangilah untuk mereka apa-apa yang kamu senangi untuk dirimu.” (HR Abu Ya’la)

Sabda Rasulullah saw.:

“Barangsiapa menginginkan Allah mengabulkan doanya di kala kesulitan hendaklah ia memperbanyak doa di kala senang.” (HR At Tirmidzi)

Sebagaimana ibadah-ibadah lain, dalam berdoa pun ada adab-adab yang harus diperhatikan, antara lain:

1. Membersihkan diri dari konsumsi dan pakaian haram

Ibnu Abbas ra. mengatakan, “Saya membaca ayat ‘Wahai manusia makanlah yang halal dan baik dari apa-apa yang ada di bumi.’ (Al Baqarah 168) maka bangkitlah Saad bin Abi Waqqash seraya berkata, ‘Wahai Rasulullah, berdoalah agar Allah menjadikanku orang yang doanya selalu dikabulkan’, maka Rasulullah menjawab, ‘Wahai Saad, bersihkanlah makananmu niscaya engkau menjadi orang yang doanya selalu terkabul. Demi Dzat yang diriku ada di tangan-Nya, seorang yang menelan sekerat barang haram di perutnya, tidak akan diterima darinya (ibadah) empat puluh hari. Hamba mana saja yang dagingnya tumbuh dari barang haram dan riba, maka neraka lebih pantas baginya’.” (al Hafidz ibn Mardawaih)

Rasulullah saw. pernah memberi contoh bahwa Allah tidak menerima selain yang bersih. Beliau menyebut-nyebut seorang laki-laki yang menempuh perjalanan panjang, sehingga pakaiannya menjadi lusuh dan rambutnya kusut masai. Lalu ia menengadahkan tangan berdoa kepada Allah, “Ya Rabb!” sementara makanan dan minumannya haram. Yang ia kenakan pun pakaian haram. Lalu Rasulullah saw. berkomentar, “Bagaimana mungkin doanya diijabah.”

2. Jika mungkin, menghadap kiblat

Abu Hurairah meriwayatkan:

Pada suatu hari, Rasulullah saw. keluar untuk memohon hujan. Beliau shalat bersama kami dua rakaat dengan adzan dan iqamat. Kemudian ia berkhutbah kepada kami dan berdoa dengan memutar wajahnya ke arah kiblat sambil mengangkat tangannya. (HR Ahmad, Ibnu Majah, Al Baihaqi)

3. Memilih waktu-waktu utama untuk berdoa

Memang setiap saat Allah membuka pintu bagi orang-orang yang ingin mengajukan berbagai permohonan kepada-Nya. Namun demikian, ada waktu-waktu tertentu yang punya nilai keutamaan dibandingkan dengan waktu-waktu lainnya. Pada saat-saat utama inilah doa-doa yang dilantunkan punya peluang besar untuk dikabulkan. Beberapa hadits yang menegaskan hal itu:

Abu Hurairah mengatakan, “Rasulullah saw. telah ditanya ‘Wahai Rasulullah, doa yang manakah yang lebih didengar (oleh Allah)?’, Beliau menjawab ‘(doa) pada tengah malam bagian akhir dan seusai shalat-shalat wajib’.” (HR At Turmudzi)

Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah bersabda, “Seorang hamba paling dekat kepada Rabbnya di kala ia sujud. Maka berbanyaklah doa (pada waktu sujud), besar kemungkinan doa-doa itu akan diijabah.” (HR Muslim)

Di samping itu, masih ada lagi waktu-waktu utama lainnya yang disebutkan dalam beberapa hadits misalnya, hari Arafah ((9 Dzulhijjah), bulan Ramadhan, hari Jumat, sepertiga akhir malam, waktu sahur, ketika turun hujan, antara adzan dan iqamat, waktu bertemu pasukan musuh, antara dua khutbah jumat, dsb.

4. Menengadahkan tangan

Para ulama sepakat bahwa menengadahkan tangan dalam berdoa hukumnya sunnah. Dalam sebuah hadits shahih disebutkan,

Rasulullah saw. bersabda, “Wahai manusia, sesungguhnya Allah itu suci, tidak menerima selain yang suci. Dan sesungguhnya Allah memerintahkan para Rasul, ‘Wahai para rasul, makanlah dari makanan yang suci dan kerjakanlah amal shalih karena sesungguhnya Allah mengetahui apa yang kamu lakukan’. Dan Ia berfirman, ‘ Wahai orang-orang yang beriman, makanlah yang suci dari apa yang Kami berikan kepadamu’,” kemudian beliau menyebutkan seorang laki-laki yang menempuh perjalanan jauh, kusut masai dan berdebu. Makanannya haram, pakaiannya haram, dan diberi makan yang haram, lalu ia menengadahkan tangannya ke langit seraya berkata, “Ya Rabbi.. Ya Rabbi..”, “Bagaimana ia akan dikabulkan?” (Shahih riwayat Muslim dan Ahmad)

Dalam hadits di atas, Rasulullah saw. menyebutkan bahwa orang itu berdoa dengan menengadahkan tangan ke langit (yamuddu yadaihi ilas-sama’i).

Di samping itu, masih banyak hadits-hadits yang secara jelas menyebutkan mengangkat tangan dalam berdoa.

5. Mengawali doa dengan memuji, mengagungkan, serta memahasucikan Allah swt.

Banyak sekali contoh doa yang diajarkan al-Quran atau sunnah Rasulullah yang diawali dengan pengagungan kepada Allah swt., misalnya:

… رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

“…Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (QS Ali Imran 191)

Salah satu doa yang diajarkan Rasulullah saw:

اللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي لا إِلَهَ إِلا أَنْتَ خَلَقْتَنِي وَأَنَا عَبْدُكَ وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَمَا اسْتَطَعْتُ أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ أَبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ وَأَبُوءُ لَكَ بِذَنْبِي فَاغْفِرْ لِي فَإِنَّهُ لا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلا أَنْتَ

“Ya Allah, Engkaulah Rabbku, tiada Tuhan selain Engkau. Engkau telah ciptakan aku dan akulah hamba-Mu. Dan aku akan sekuat mungkin  menepati janji-janjiku kepada-Mu. Aku berlindung kepada-Mu dari perbuatanku yang buruk, aku kembali kepada-Mu dengan membawa kenikmatan-Mu atasku dan aku kembali dengan membawa dosa-dosa. Maka ampunilah aku karena tiada yang bisa mengampuni dosa selain Engkau.”

Dua contoh doa di atas diawali dengan sanjungan kepada Allah sembari mengakui kelemahan dan kealpaan diri.

6. Berdoa dengan khusyu’ dan tadharru’ serta tidak berteriak

Allah swt. berfirman:

“Berdoalah kepada Rabbmu dengan rendah hati dan suara lembut, sesungguhnya Allah tidak suka kepada orang-orang yang melampaui batas.” (QS Al A’raf 53)

Dalam sebuah hadits shahih, dalam sebuah perjalanan para sahabat berdoa dengan suara keras. Oleh karena itu Rasulullah saw. menegur mereka:

“Wahai manusia, kasihanilah dirimu. Karena kamu tidak memohon kepada yang tuli dan buta. Sesungguhnya kamu memohon kepada yang Maha Mendengar dan Maha Melihat.” (Bukhari & Muslim)

7. Doa tidak berisi maksiat

Rasulullah saw. bersabda, “Tidak seorang Muslim pun berdoa kepada Allah  ‘azza wa jalla dengan berdoa yang tidak mengandung dosa dan pemutusan kasih sayang melainkan Allah akan memberinya satu dari tiga hal: mungkin Allah akan mempercepat (mengabulkan) doanya, mungkin Allah akan menabungnya untuk hari akhirat, dan mungkin Allah akan (menggantinya dengan cara) menghindarkan dari dirinya keburukan yang sepadan dengan doa itu.” Para sahabat bertanya, “Kalau demikian kami akan memperbanyak doa.” Rasulullah saw. menjawab, “Perbanyaklah.” (HR Ahmad)

8. Tidak terburu-buru dan menganggap doanya lambat dikabulkan

Rasulullah saw. bersabda:

“Akan diijababah doa seorang selama ia tidak tergesa-gesa dengan mengatakan ‘saya telah berdoa, namun tidak dikabulkan’.” (HR Imam Malik)

9. Berprasangka baik kepada Allah dan optimis bahwa doanya akan dikabulkan

Sabda Rasulullah saw:

“Seseorang tidak boleh mengatakan ‘ya Allah ampunilah aku jika Engkau mau dan rahmatilah aku jika Engkau mau’, akan tetapi hendaklah ia mengatakan optimisme dalam berdoa, karena tak seorang pun adap memaksa Allah.” (HR Abu Daud)

10. Memilah doa-doa yang singkat tapi padat

Diantara doa-doa yang diajarkan Islam:

“Ya Rabb kami, berikanlah kepada kami kebaikan di dunia dan di akhirat dan jauhkanlah kami dari api neraka.” (QS Al Baqarah 201)

Rasulullah saw. pun pernah berdoa:

“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu petunjuk, ketakwaan, kesucian diri dan kecukupan.” (HR Muslim)

Tidak ada manusia yang hidup tanpa masalah. Betapa pun besarnya permasalahan hidup yang dihadapi, tidak selayaknya kita berputus asa. Dengan berpegang teguh pada adab-adab ini, setelah kita berupaya dan berusaha, mudah-mudahan apa yang kita inginkan  akan diperkenankan Allah swt.

Referensi: Fiqih Sunnah