Allah-lah Yang Berkehendak…


Allah ta’ala berhak untuk memberikan hidayah atau tidak memberikan hidayah kepada makhluk-Nya. Dan memang hidayah itu milik Allah, sebagaimana firman Allah dalam Qur’an Surat Al Qashash ayat 56.

“Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk”.
Ibnu katsir mengatakan mengenai tafsir ayat ini, “Allah mengetahui siapa saja dari hambanya yang layak mendapatkan hidayah, dan siapa saja yang tidak pantas mendapatkannya”.Bahkan seorang Nabi pun tidak bisa memberikan hidayah kepada umatnya, hidayah itu turun atas kehendak Allah. Kisah Nabi Ibrahim ‘alaihissalam, Nabi Luth ‘alaihissalam, Nabi Nuh ‘alaihissalam dan Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wassalam kiranya bisa menjadi contoh jika para Nabi tidak bisa memberikan hidayah bahkan kepada orang-orang terdekat mereka.

Nabi Ibrahim ‘alaihissalam yang ayahnya seorang pembuat berhala menolak ajaran yang dibawa oleh anaknya tersebut. Padahal dia adalah seorang ayah Nabi. Jika Allah berkehendak untuk tidak memberi hidayah maka siapapun tidak bisa mengubah kehendak Allah tersebut, kecuali Allah sendiri.

Nabi Luth ‘alaihissalam, ketika kotanya diberi adzab Allah karena perbuatan kaumnya yang melampaui batas, istrinya tidak taat atas perintah Allah. Sehingga Allah menewaskannya bersama-sama kaum yang ketika itu berada pada tingkat kebejatan akhlak yang paling parah bahkan lebih parah dari hewan. Betapa tidak parah, kaumnya merupakan kaum yang suka berhubungan dengan sesama jenis (sodom). Jika Nabi adalah orang yang mampu memberikan hidayah, tentu Nabi Luth akan berusaha agar istrinya selamat bersama dia dan kaumnya yang diselamatkan dari bencana yang menimpa kota. Namun, hidayah itu milik Allah dan hanya Allah yang berhak memberikan hidayah.Nabi Nuh ‘alaihissalam, ketika kaumnya diberi adzab berupa banjir yang hebat, Kan’an, anak Nabi Nuh dengan sombongnya menolak untuk bersama Nabi Nuh dan kaum-kaum yang diselamatkan di dalam kapal yang telah dibuat oleh Nabi Nuh dan kaumnya. Kan’an lebih memilih lari ke gunung, ternyata banjir itu juga menenggelamkan gunung. Dan tewaslah Kan’an si anak yang tidak patuh terhadap Allah dan ayahnya. Jika Nabi Nuh mampu memberikan hidayah tentu dia tidak rela darah dagingnya tenggelam bersama dengan orang-orang kafir. Namun, lagi-lagi yang berhak untuk memberikan hidayah kepada manusia bukanlah manusia lain, melainkan Allah sang Maha Pencipta.

Bahkan seorang Nabi Muhammad saja tidak bisa memberikan hidayah kepada pamannya, Abu Thalib. Seperti kita ketahui bahwa Abu Thalib sangat mengasihi Rasulullah, namun dia tidak mendapat hidayah Allah untuk merasakan nikmatnya Iman dan Islam.

Tetapi jika Allah berkehendak untuk memberikan hidayah kepada siapa saja yang dikehendaki, maka tidak ada kata tidak mungkin bagi siapa yang dikehendaki mendapat hidayah dari Allah. Seorang preman, ahli maksiat, yang bukan orang Islam atau bahkan musuh Islam. Contohnya, dahulu Umar bin Khatab merupakan orang yang paling memusuhi Islam, namun atas kehendak Allah dia masuk Islam. Bahkan ketika menjadi seorang Muslim, dia adalah seorang pembela Islam yang luar biasa bersama khulafaurrasyidin yang lain.

Contoh lain banyak di negeri ini yang dahulunya adalah orang jalanan yang notabene-nya orang yang jauh dari Tuhan, namun Allah berikan kepadanya hidayah untuk kembali ke jalan Allah. Yang atheis kemudian masuk Islam juga tidak sedikit.

Contoh yang masih baru yaitu masuknya Abanda Herman, pesepakbola Persib Bandung, ke dalam agama Islam. Tentu kalau bukan atas kehendak Allah tidak akan terjadi. Abanda merasa tertarik dengan Islam lantaran rekan-rekannya di Persib yang Muslim sering shalat berjamaah.

Jika hidayah itu milik Allah, lantas apa yang harus kita lakukan? Jika kepada sesama Muslim, tentunya kita wajib saling mengajak dan menasehati dalam kebaikan. Jika kepada orang kafir, maka tidak ada paksaan dalam Islam. Sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur-an Surat Al Baqarah ayat 256,

“tidak ada paksaan untuk (menganut) agama (Islam), sesungguhnya telah jelas (perbedaan) antara jalan yang benar dengan jalan yang sesat. Barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sungguh, dia telah berpegang (teguh) pada tali yang sangat kuat yang tidak akan putus. Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui”. 

Wallahu a’lam
Semoga kita termasuk hamba-Nya yang mendapatkan hidayah-Nya

Silakan berikan gagasan mengenai tulisan ini

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s