Permainan


Kita pastinya sangat akrab mendengar tentang sepak bola pada sekarang ini. Hampir setiap pekan disiarkan pertandingan sepak bola di televisi. Di koran mana saja pasti ada rubrik bola, dipisah dari tema olah raga secara umum. Bahkan di koran yang mengaku sebagai koran muslim. Lalu banyak juga tabloid-tabloid yang khusus membahas tentang bola. Ini memperlihatkan kepada kita bahwa seolah-olah sepak bola itu diminati oleh semua orang, atau setidaknya sebagian banyak orang. Terlebih lagi saat Timnas Indonesia bertanding melawan negara lain, banyak yang menghubung-hubungkan masalah nasionalisme dalam mendukung timnas. Sesuatu yang saya kira baru adalah sejak piala AFC tahun 2010 lalu, lebih banyak gadis  yang menggilai bola mau menonton pertandingan di stadion dibandingkan sebelumnya.  Mungkin karena ada hal yang menarik menurut mereka.

Lain lagi dengan para kiyai. Ternyata ada juga, atau mungkin sudah biasa bahwa kiyai menggandrungi bola, mungkin karena tertarik pada euforia masyarakat sekarang ini. Mereka juga banyak yang bangun malam untuk menonton pertandingan atau lebih tepatnya permainan olah raga itu. Bedanya dengan orang biasa, mereka sholat malam dulu, lalu mendoakan agar tim yang didukungnya menang, menurut saya pribadi.

Menurut Dr. M Quraish Shihab, permainan itu sudah tidak lagi menjadi permainan, tapi telah berubah menjadi gabungan antara seni, siasat, pengetahuan, ketegaran, serius, dan ngotot. Ia mampu mengalahkan segala aktivitas serius serta kenyamanan yang didambakan. Manusia banyak yang rela berkorban untuk sekedar mengikuti arus demam olah raga, meski mereka sendiri adalah orang-orang yang berbadan loyo yang tak pernah berolah raga.

Jika Bill Clinton mengatakan permainan bola sebagai sesuatu yang dapat mempersatukan bangsa-bangsa di dunia, itu hanyalah kiasan. Bola yang bulat memang bergerak dinamis dan memukau, sehingga orang yang menyaksikan  akan sangat terhibur dan lupa dengan segala kesibukan yang setiap harinya menjadi beban, seperti kiyai yang masih sempat menggilai bola tadi. Entah itu beban politik, ekonomi, maupun pekerjaan lain yang serius. Namun yang lebih memprihatinkan, jika permainan bola itu dicampuri dengan dukun dan sebangsanya. Bahwa dari dunia permainan yang indah itu dapat melahirkan fikrah syirik yang tak diampuni Allah swt.

Memang dunia ini adalah permainan (QS Al Hadid 20), permainan yang mengandung konsekuensi serius. Permainan yang indah sebagaimana Allah juga indah dan menyukai keindahan. Permainan di dunia ini akan menjadi indah manakala dilakukan dengan bersih. Dan bersih itu sendiri berarti tiadanya pelanggaran dan atau penyimpangan dari hal-hal yang telah digariskan.

Mengapa dalam olah raga mesti ada unsur pelanggaran syar’i? Mengapa dalam olah raga mesti ada pamer aurat? Mengapa dalam olah raga mesti ada taruhan dan judi? Inilah yang sesungguhnya merusak keindahan permainan. Tapi di mata orang-orang yang berhati rusak, semua itu malah dianggap estetika dalam permainan. Na’udzubillah min dzalik.

Oh manusia, ingatlah bahwa Ilahmu seharusnya hanya Allah saja. Hadapkanlah dan luruskanlah semua arah permainan hidup ini hanya untuk-Nya, untuk mengikuti jalan-Nya.

Jika diseru demikian, mungkin banyak juga orang yang amat setuju. Karena konsepsi dasar Islam itu memang sesuai dengan fitrah jiwa yang suci seluruh keturunan Adam ini. Namun dalam realitas masih jelas, bahwa demi estetika, aurat harus dipamerkan. Bahwa dari gerak tubuh, pakaian mesti diminimkan. Bahwa demi nonton tim kesayangan, sholat subuh kesiangan. Dan demi alasan tertentu yang mengatasnamakan olah raga, judi lalu dihalalkan.

Jika demikian halnya, syirik pulalah adanya, sebab banyak hal yang bisa dijadikan alasan justifikasi. Ada ilah-ilah yang menandingi Allah, yang bahkan dapat menggugurkan batasan-batasan-Nya. Wallahu a’lam.

Silakan berikan gagasan mengenai tulisan ini

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s