Berhati-hatilah dengan Lisan Kita


jaga lisan bro
Sst! (Photo credit: Google Image)

Kadang kita tidak sadar dengan apa yang telah kita ucapkan. Tiba-tiba keluar ucapan dari mulut kita tanpa kita ketahui apakah yang telah kita ucapkan itu memuji Allah atau malah mengumpat. Besar kemungkinan ketidaksadaran itu muncul akibat dari kebiasaan kita.

Bagus, jika ketidaksadaran tersebut muncul dari kebiasaan yang baik. Akan tetapi, sayang jika ketidaksadaran tersebut merupakan buah dari kebiasaan buruk. Misalnya, ketika dengan tidak sengaja kita terpeleset dan jatuh, alam bawah sadar kita akan mengatakan sebagaimana yang biasa kita ucapkan. Apakah kita akan mengucapkan Innalillahi atau kita akan mengumpat. Itulah hasil dari kebiasaan kita, berkata baik atau mengumpat.

Begitu pula dengan keseharian kita dalam hidup bersama orang-orang di sekitar kita. Sadarkah kita jika yang telah kita katakan menentramkan hati saudara kita atau bahkan menyakitinya. Kadang hal sepele seperti ini pun tidak kita sadari.

Karakter tiap orang tentunya berbeda-beda. Oleh karenanya, dalam menyikapinya pun harus berbeda. Dalam bertutur kata pun harus disesuaikan dengan situasi dan kondisinya. Ketika berbicara dengan orang Batak, sangat aneh jika kita bicara lemah lembut di hadapannya. Ketika yang menjadi lawan bicara kita adalah orang Solo, maka janganlah sekali-kali kita bicara seperti orang berteriak karena bisa jadi lawan bicara kita tidak nyaman. Seperti yang sudah banyak orang ketahui bahwa orang Solo dikenal dengan kelembutannya dalam bertutur kata.

Itu baru berhati-hati dalam hal cara kita bicara, belum isi dari yang kita bicarakan.

Maka, berhati-hatilah dalam berbicara. Berpikir terlebih dahulu apakah yang akan kita omongkan menyakiti hati saudara kita atau tidak. Bisa jadi maksud kita untuk menghiburnya, tetapi karena suatu hal saudara atau teman kita menanggapinya berbeda. Dalam arti, dia malah tersinggung dan merasa tersakiti. Akan tetapi tidak semuanya seperti itu. Ada beberapa tipe orang-orang yang akan semakin erat ukhuwahnya dengan cara bercanda yang bisa jadi menurut orang lain candaan itu keterlaluan. Biasanya orang yang seperti ini adalah mereka yang hubungan persahabatannya atau persaudaraannya (istilah kerennya adalah ukhuwah) sudah sangat erat.

Tidak ada salahnya untuk berhati-hati dalam berbicara. Jagalah lisan kita terutama dengan orang yang belum begitu akrab, karena kita belum mengetahui karakternya. Sehingga, menjaga perkataan kita di hadapannya merupakan bagian dari akhlak yang harus dijaga. Namun, bukan berarti dengan orang yang sudah akrab dengan kita, kita tidak perlu untuk menjaga perkataan kita. Kita tetap harus menjaganya, karena “kamu adalah apa yang kamu katakan”.

Menjaga perkataan merupakan hal yang mulia, bahkan Rasulullah pun lebih menyuruh diam daripada kita bicara tidak baik.

Dari Abu Hurairah r.a., sesungguhnya Rasulullah saw. telah bersabda: “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaknya ia berkata yang baik-baik atau diam. Barangsiapa percaya kepada Allah dan hari akhir maka hendaknya ia menghormati tetangga dan tamunya.” Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim

Artinya Rasulullah berpesan kepada kita, jika kita tidak bisa berkata baik, sesuatu yang lebih baik yang harus kita lakukan adalah diam.

Muhasabah diri. Semoga kita bisa menjaga lisan kita, amiin…

Wallahu a’lam bishshawwab.

Silakan berikan gagasan mengenai tulisan ini

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s