Gosip, Kalau Tidak Fitnah Ya Ghibah!


Disadari atau tidak, banyak bicara akan semakin memperbesar peluang kita untuk berbohong. Kadang, untuk ‘memperindah’ omongan, kita menambahkan ‘bumbu’ sebagai pelengkapnya. Fenomena seperti ini tidak susah untuk kita temui atau bahkan mungkin kita sendiri yang mengalaminya.

Fenomena yang paling gampang kita jumpai selain mungkin yang dilakukan diri sendiri adalah acara-acara infotainment. Bukan maksud memojokkan, saya pikir bahwa acara-acara gosip tidak akan ‘enak’ ditonton jika pemberitaan itu lurus-lurus saja. Lurus di sini maksudnya tidak ada sesuatu yang ditambah-tambahi. Untuk mendapatkan hasil gosip yang ‘bagus’ tentulah ada sesuatu yang semestinya tidak digosipkan, lantas digosipkan. Di samping itu, kadang pembawa acara dalam acara gosip pun lebay dalam berbicara, padahal Allah tidak menyukai orang yang berlebihan, termasuk berlebihan dalam berbicara. Kalaupun yang diomongkan itu benar, maka ini adalah membuka aib seseorang atau ghibah. Jika tidak benar, maka itulah yang dinamakan berbohong atau fitnah.

Rasulullah sudah menjelaskan apa itu ghibah dan dusta (bohong atau fitnah) di dalam hadits.

Di dalam shahih Muslim dari hadits al ‘Ala bin Abdurrahman dari ayahnya dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda, “Tahukah kalian apa itu ghibah?’ Para sahabat bertanya, “Allah dan Rasul-Nya lah yang mengetahuinya.” Beliau Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda, “Engkau menyebutkan apa-apa yang tidak disukai oleh saudaramu.’ Beliau Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam ditanya, ‘Apa pendapatmu, jika pada saudaraku itu benar ada apa yang aku katakan?’ Beliau Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda, ‘Jika apa yang engkau katakan itu benar (ada pada saudaramu) maka sungguh engkau telah melakukan ghibah dan jika apa yang engkau katakan itu tidak benar maka engkau telah berdusta.”

Seperti yang pernah dimuat oleh Republika.co.id (8/6/2012), definisi fitnah dalam kamus besar bahasa Indonesia adalah perkataan bohong tanpa berdasarkan kebenaran yang disebarkan dengan maksud menjelekkan orang (seperti menodai nama baik, merugikan kehormatan orang).

Ghibah dan bohong atau fitnah sama-sama tindakan tidak terpuji. Ghibah sendiri oleh Allah diibaratkan seperti orang yang memakan bangkai saudaranya yang sudah mati. Allah berfirman dalam QS. Al Hujurat ayat 12:

Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa, dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain, dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Dan bertakwalah kepada Allah, sungguh Allah Maha Penerima tobat, Maha Penyayang.

Selain acara-acara gosip ala infotainment, banyak omong banyak bohong gampang ditemui pula dalam acara ngerumpi. Acara yang hampir sama dengan acara gosip di televisi. Keduanya memiliki esensi yang sama, baik gosip atau ngerumpi kalau tidak ghibah ya fitnah. Hanya saja beda media. Gosip ala infotainment di stasiun televisi. Ngerumpi bisa di depan rumah, di kantor, di kantin, di pasar, di angkutan umum dan di mana-mana.

Gosip dan ngerumpi mungkin mengasyikkan bagi orang yang hobi. Ya, karena setan memang selalu membujuk orang-orang untuk melakukan tindakan tidak terpuji. Bahkan sebagian besar stasiun televisi memiliki acara gosip sendiri-sendiri, di mana acara tersebut dikemas sedemikian rupa menarik untuk ditonton semua kalangan. Sedangkan ngerumpi, di acara arisan pun ‘diselingi’ dengan ngerumpi. Jika orang satu mengatakan ini, maka akan diikuti dengan orang yang lain yang mengatakan itu dan begitu seterusnya hingga larut dalam keasyikan ngerumpi.

Mari bersama-sama kita merenung sejenak, apakah kita suka ghibah dan fitnah terhadap saudara kita. Apakah kita sering menyakiti mereka dengan membuka aibnya dan memfitnahnya. Antara penulis maupun pembaca, belum tentu salah satu pihak lebih baik atas pihak yang lain. Dan yang paling baik di antara kita adalah yang mengamalkan, yaitu yang berusaha untuk tidak menyakiti hati saudara kita dengan perkataan-perkataan kita.

Wallahu a’lam bishshawwab.

Silakan berikan gagasan mengenai tulisan ini

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s