Ada Hikmah di Balik Setiap Takdir


Bismillah wa shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du

Terkadang manusia harus menjalani ketentuan dan ketetapan yang dalam pandangan matanya terlihat pedih dan menyakitkan, jiwanya ikut membenci, sedih dan galau, lalu sampai pada suatu titik di mana ia berkesimpulan bahwa apa yang dialaminya merupakan takdir buruk dari Allah ta’ala kepada dirinya. Padahal tanpa diketahuinya. takdir itu di kemudian hari menjadi kebaikan yang banyak. Sebaliknya, betapa banyak orang yang terlihat baik dan semua urusannya lancar tanpa masalah, namun ternyata di kemudian hari semua berujung pada keburukan dan petaka.

Beriman terhadap takdir

Iman kepada takdir merupakan salah satu pokok iman dan merupakan rukun iman yang enam. Segala seseuatu yang terjadi di alam semesta ini merupakan ketentuan yang telah ditetapkan oleh Allah ta’ala sejak lima puluh ribu tahun sebelum penciptaan langit dan bumi. Rasulullah saw bersabda, “Allah telah menciptakan takdir untuk setiap makhluk sejak lima puluh ribu tahun sebelum penciptaan langit dan bumi.” (HR Muslim no. 2653)

Patut diketahui bahwa keimanan terhadap takdir harus mencakup empat prinsip yang harus diimani oleh setiap muslim. Keempat prinsip tersebut adalah sebagai berikut:

Pertama, mengimani bahwa Allah ta’ala mengetahui segala sesuatu baik secara global maupun terperinci, sejak zaman azali hingga selamanya, baik itu perbuatan yang dilakukan oleh Allah ta’ala maupun perbuatan makhluk-Nya.

Kedua, mengimani bahwa Allah ta’ala telah menulis dalam lauhul mahfuzh catatan takdir segala sesuatu.

Ketiga, mengimani bahwa segala sesuatu tidak akan terjadi melainkan karena kehendak Allah ta’ala, baik itu perbuatan Allah ta’ala sendiri maupun perbuatan makhluk-Nya.

Keempat, mengimani bahwa segala sesuatu adalah makhluk ciptaan Allah ta’ala. Dan ciptaan Allah ta’ala mencakup segala sesuatu dari bagian makhluk beserta sifat-sifatnya dan gerak-geriknya. (Nubdzah fil ‘Aqidah al-Islamiyah li Syaikh ibnu ‘Utsaimin, hal. 63-64)

Antara takdir Allah dan kehendak makhluk-Nya

Beriman dengan benar terhadap takdir bukan berarti meniadakan bahwa manusia memiliki kehendak dalam perbuatan-perbuatannya serta memiliki kemampuan untuk melaksanakannya. Hal ini karena dalil syariat dan realita yang menunjukkan ketetapan hal tersebut. Dengan kehendak dan kemampuannya dia bisa melakukan dan meninggalkan sesuatu.  Dia juga bisa membedakan antara sesuatu yang terjadi dengan kehendaknya seperti berjalan, dan sesuatu yang terjadi tanpa kehendaknya seperti gemetar. Namun, kehendak dan kemampuan makhluk itu terjadi dengan kehendak Allah ta’ala. Allah ta’ala berfirman, “(yaitu) bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus. Dan kamu tidak kapat meghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam.” (QS At Takwir 28-29) (Nubdzah, 64-65)

Di antara prinsip ahlussunah adalah bersikap pertengahan dalam memahami al-Quran dan as-Sunnah. Ahlussunah beriman bahwa Allah ta’ala telah menetapkan seluruh takdir sejak zaman azali, dan Allah ta’ala mengetahui takdir yang akan terjadi pada waktunya dan bagaimana bentuk takdir tersebut, semuanya terjadi sesuai dengan takdir yang telah Allah ta’ala tetapkan.

Adapun orang-orang yang menyelisihi al-Quran dan as-Sunnah mereka bersikap berlebih-lebihan. Yang satu terlalu meremehkan dan yang lain melampaui batas. Kelompok Qadariyah adalah kelompok yang mengingkari adanya takdir. Mereka mengatakan bahwa Allah tidak menakdirkan perbuatan hamba. Menurut mereka perbuatan hamba bukan makhluk Allah ta’ala, namun hamba sendirilah yang menciptakan perbuatannya. Mereka mengingkari penciptaan Allah ta’ala terhadap amal hamba.

Kelompok yang lain adalah terlalu melampaui batas dalam menetapkan takdir. Mereka dikenal dengan kelompok Jabbariyah. Mereka berlebihan dalam menetapkan takdir dan menafikan adanya kehendak hamba dalam perbuatannya. Mereka mengingkari adanya perbuatan hamba dan menisbatkan semua perbuatan hamba kepada Allah ta’ala. Jadi menurut mereka hamba dipaksa dalam perbuatannya. (Al Mufid fi Muhimmati at-Tauhid, hal. 37-38)

Takdir baik dan takdir buruk

Takdir terkadang disifati dengan takdir baik dan takdir buruk. Takdir yang baik sudah jelas maksudnya. Lalu apa yang dimaksud dengan takdir yang buruk? Apakah berarti Allah ta’ala berbuat sesuatu yang buruk? Dalam hal ini kita perlu memahami antara takdir yang merupakan perbuatan Allah ta’ala dan dampak/hasil dari perbuatan tersebut. Jika takdir disifati buruk, maka yang dimaksud adalah buruknya sesuatu yang ditakdirkan tersebut, bukan takdir yang merupakan perbuatan Allah ta’ala, karena tidak ada satu pun perbuatan Allah ta’ala yang buruk, seluruh perbuatan Allah ta’ala mengandung kebaikan dan hikmah. Jadi keburukan yang dimaksud ditinjau dari sesuatu yang ditakdirkan/hasil perbuatan, bukan ditinjau dari perbuatan Allah ta’ala. (Syarh al-Aqidah al-Wasithiyah li Syaikh ibnu ‘Utsaimin, hal. 70)

Perhatikanlah kisah ibunya nabi Musa saat melarungkan bayinya ke sungai Nil. Jika kita membaca susunan kejadian sejarahnya, maka kita akan menemukan bahwa tidak ada yang paling menyakitkan dan menyedihkan dalam kehidupan ibu Musa selain saat diilhamkan ke dalam hatinya oleh Allah ta’ala agar menghanyutkan bayinya ke dalam sungai Nil. Namun, cerita ini berakhir dengan keindahan. Allah ta’ala mengembalikan anaknya tersebut ke dalam pangkuannya dan kelak anaknya tersebut menjadi seorang Nabi yang diutus kepada Bani Israil.

Jangan hanya bersandar kepada takdir

Segala sesuatu yang telah ditakdirkan oleh Allah ta’ala bukan berarti kita hanya tinggal duduk berpangku tangan dan menunggu semuanya terjadi tanpa melakukan usaha sama sekali. Sungguh ini adalah kesalahan yang nyata. Allah ta’ala memerintahkan kita untuk mengambil sebab dan melarang kita dari bersikap malas. Apabila kita telah mengambil sebab dan mendapatkan halis di luar keinginan, maka kita tidak boleh sedih dan berputus asa karena semuanya telah terjadi. Andai pun Allah ta’ala menakdirkan yang lain sungguh hal itu akan terjadi pula. Oleh karena itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Bersemangatlah dalam hal yang bermanfaat bagimu. Minta tolonglah pada Allah dan jangan kamu malas! Apabila kamu tertimpa sesuatu, janganlah kamu mengatakan: ‘Seandainya aku berbuat demikian, tentu tidak akan begini atau begitu’, tetapi katakanlah: ‘Qadarullah wa maa sya’a fa’ala’. Karena perkataan ‘seandainya’ akan membuka pintu syaitan.” (HR Muslim no 2664) (Al-Irsyad ila Shahihil I’tiqad li Syaikh al Fauzan, hal. 316)

Buah manis yang benar terhadap takdir

Keimanan yang benar akan memberikan faedah yang berharga. Demikian pula keimanan yang benar terhadap takdir akan memberikan manfaat yang besar, di antaranya sebagai berikut:

  1. Hanya bersandar kepada Allah ta’ala ketika melakukan berbagai sebab, dan tidak bersandar kepada sebab itu sendiri. Karena segala sesuatu tergantung pada qadar Allah ta’ala.
  2. Seseorang tidak sombong terhadap dirinya sendiri ketika tercapai tujuannya, karena keberhasilan yang ia dapatkan merupakan nikmat dari Allah ta’ala, berupa sebab-sebab kebaikan dan keberhasilan yang memang telah ditakdirkan oleh Allah ta’ala. Kekaguman terhadap dirinya sendiri akan melupakan dirinya untuk mensyukuri nikmat tersebut.
  3. Munculnya ketenangan dalam hati terhadap takdir Allah ta’ala yang menimpa dirinya, sehingga dia tidak bersedih atas hilangnya sesuatu yang dicintainya atau ketika mendapatkan sesuatu yang dibencinya. Sebab semuanya itu terjadi dengan qadar Allah ta’ala. Allah ta’ala berfirman, “Setiap bencana yang menimpa di bumi dan yang menimpa dirimu sendiri, semuanya telah tertulis dalam Kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami mewujudkannya. Sungguh, yang demikian itu mudah bagi Allah. Agar kamu tidak bersedih hati terhadap apa yang luput dari kamu, dan jangan pula terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong dan membanggakan diri,” (QS Al Hadid 22-23) (Nubdzah, 69-70)

Ada hikmah di balik setiap takdir

Setiap orang hendaknya berusaha semaksimal mungkin melakukan kebaikan dalam hidupnya, meskipun pada akhirnya ia bukanlah orang yang menentukan hasil akhir atau dampak dari setiap aktivitasnya.

Hendaknya seorang mukmin menghadirkan tawakkal kepada Allah ta’ala, bekerja dan bersungguh-sungguh menjalankan aktivitasnya sesuai dengan kemampuannya. Namun, jika terjadi sebuah peristiwa di luar dugaan dan kehendaknya, maka ia harus segera mengingatkan dirinya akan kaidah mulia ini. Allah ta’ala berfirman, “Diwajibkan atas kamu berperang, padahal itu tidak menyenangkan bagimu. Tetapi boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS Al Baqarah 216)

Ketahuilah, keburukan yang terjadi dalam takdir tidak selamanya merupakan keburukan yang hakiki bagi hamba, karena terkadang akan menimbulkan hasil akhir berupa kebaikan. Apapun yang menimpa dirinya, segalanya telah diatur oleh Allahh ta’ala. Allah ta’ala menginginkan agar dirinya mengimani segala takdir Allah ta’ala dan menyadari bahwa demikianlah bentuk kasih sayang Allah ta’ala kepada hamba-Nya, Dia menjadikan kehidupan beserta segala lika-liku kebahagiaan dan kesedihan membuat mereka hanya bergantung kepada Allah ta’ala semata.

Wallahul muwaffiq.

Dimuat dari buletin At Tauhid edisi 05, ditulis oleh Zulfahmi Djalaluddin, S.Si

Iklan

Silakan berikan gagasan mengenai tulisan ini

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s