Blog

Adab Salam dalam Kehidupan Sehari-hari

“Orang Yahudi itu kaum pendengki. Dan tidak ada kedengkian mereka yang lebih besar selain kepada ‘salam’ (ucapan assalamu’alaikum) dan amin.”

As Salam, Peaceful Sanctuary
As Salam (Asma’ul Husna), Peaceful Sanctuary (Photo credit: Sunflower Central)

Ucapan assalamu’alaikum adalah salah satu syi’ar Islam. Bahkan syi’ar yang satu ini termasuk yang paling populer di kalangan kaum Muslimin. Betapa tidak, dari anak kecil yang baru belajar bicara hingga orang tua yang mulai sulit bicara, begitu akrab dengan ucapan ini. Tidak mengherankan bila orang-orang yahudi, seperti disebutkan oleh Rasulullah saw., begitu benci dengan syi’ar yang sederhana untuk diucapkan, namun memiliki arti yang dalam itu.

Pernah seorang Arab gunung menyapa Rasulullah saw. dengan an’im shabahan (selamat pagi), maka Rasulullah saw. mengatakan “Allah swt. telah mengganti ucapan itu dengan yang lebih baik yaitu assalamu’alaikum.”

“Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah penghormatan itu (dengan yang serupa). Sesungguhnya Allah memperhitungankan segala sesuatu” (QS. An-Nisa‘: 86)

“Kalian tidak akan masuk surga sehingga beriman, dan tidaklah beriman sehingga saling mencintai. Inginkah aku tunjukkan kepada kalian sesuatu yang jika dilakukan, kalian akan saling mencintai? Sebarkanlah salam di antara kalian.” (HR. Muslim)

Lanjutkan membaca Adab Salam dalam Kehidupan Sehari-hari

Tujuh Langkah Menjernihkan Hati

Green Heart (And the Green Grass Grows All Aro...
Green Heart (Photo credit: CarbonNYC)

Jika kita menatap kehidupan manusia sekarang ini, maka hati kita akan pilu. Mereka kebanyakan adalah manusia sipil, tetapi berkarakter militer. Mereka manusia yang sehat secara fisik tetapi ruhaninya sakit. Mereka memproklamirkan dirinya sebagai makhluk modern, tetapi miskin adab dan cenderung primitif.

Merekalah makhluk yang tidak utuh, terbelah jiwanya (split personality), serta tidak pandai menjalani kehidupan ini secara seimbang. Mereka mamandang agama hanya sebatas pencuci dosa, bukan pencegah dari perbuatan yang fahsya’ dan munkar.

Di satu sisi mereka rajin berdoa di masjid, tapi setelah keluar dari masjid mereka melakukan perbuatan yang bertentangan dengan isi dosanya.

Mereka adalah manusia sekuler, menceraikan makhluk dari al-Khaliq. Mereka membuat dikotomi-dikotomi, memisahkan ranah ruhani dan jasmani, ritual dan sosial, akal dan iman, dunia dan akhirat, serta jiwa dan raga.

Allah ta’ala berfirman:

Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta. (Al-Baqarah [2]: 10)

Para mufassir menjelaskan bahwa penyakit yang dimaksud dalam ayat itu adalah keyakinan mereka terhadap kebenaran Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wassalam lemah. Kelemahan keyakinan itu, menimbulkan kedengkian, iri hati, serta dendam terhadap Nabi Shalallahu alaihi wassalam dan orang-orang Islam. Lanjutkan membaca Tujuh Langkah Menjernihkan Hati

Merasa Tak Pantas Untuk Berdakwah | Muslim.Or.Id

Bismillahirrahmanirrahim. Kutipan berikut kami ambil, semoga menjadi pengingat dan ajakan untuk kami. Semoga blog ini menjadi amalan kami dalam berdakwah melalui media internet, terlepas dari kekurangan-kekurangan yang kami miliki. Dan semoga ada faedahnya untuk pembaca yang budiman.

Akan tetapi bila ia jujur dalam berdakwah, ikhlas dalam mengajak manusia kepada kebaikan,  maka sesungguhnya Allah menerima amal kebaikannya berupa ajakannya kepada manusia untuk melakukan amal kebaikan dan melarang mereka dari kemungkaran. Semoga hal ini menjadi penghapus dosanya atau memperkecil hukumannya atas kekurangan yang ada pada dirinya (tidak mengamalkan yang ia perintahkan).

via Merasa Tak Pantas Untuk Berdakwah | Muslim.Or.Id.

Pemuda Ansor, Jadilah Pembela Islam

Pada awal-awal berdirinya, Ansor, yang merupakan organisasi kepemudaan NU, selalu membela Islam dari penjajah dan musuh-musah Islam lainnya. Ansor dulu tidak pernah menjadi antek penjajah.

KH. Wahid Hasyim pada acara reuni Pengurus Besar Ansor Nadlatul Ulama (nama lama GP Ansor) pada 14 Desember 1949 di Surabaya mengemukakan pentingnya membangun kembali organisasi Pemuda Ansor karena dua hal: (1) Untuk membentengi perjuangan umat Islam Indonesia; (2) Untuk mempersiapkan diri sebagai kader penerus NU.

via Pemuda Ansor, Jadilah Pembela Islam (1) – Hidayatullah.com.

Jangan Panggil Kami Ustadz!

Jangan panggil kami ustadz gara-gara di wajah kami tumbuh jenggotnya.

Jangan panggil kami ustadz gara-gara pakaian kami tidak isbal.

Jangan panggil kami ustadz gara-gara di jidat kami ada tanda hitamnya, bisa jadi itu karena kulit kami yang sensitif jika bersentuhan dengan benda keras (lantai tempat sujud).

Jangan panggil kami ustadz gara-gara kadang kami pakai pecis.

al-Bandary

Jangan panggil kami ustadz gara-gara di wajah kami tumbuh jenggotnya.

Jangan panggil kami ustadz gara-gara pakaian kami tidak isbal.

Jangan panggil kami ustadz gara-gara di jidat kami ada tanda hitamnya, bisa jadi itu karena kulit kami yang sensitif jika bersentuhan dengan benda keras (lantai tempat sujud).

Jangan panggil kami ustadz gara-gara kadang kami pakai pecis.

Jangan panggil kami ustadz gara-gara kami mengajak shalat berjama’ah di masjid.

Jangan panggil kami ustadz gara-gara kami kadang ngaji (tilawah Al-Qur’an) di tempat umum.

Jangan panggil kami ustadz gara-gara kami mengajak untuk datang kajian.

Jangan panggil kami ustadz gara-gara kami memberi sms motivasi nan islami.

Jangan panggil kami ustadz gara-gara kami tidak berpacaran.

Jangan panggil kami ustadz gara-gara status facebook, twitter, blog kami yang kadang-kadang sok ‘alim.

Jangan panggil kami ustadz…

Jangan panggil kami ustadz, karena yang demikian belum tentu ustadz.

Ustadz paham ilmu agama secara mendalam dan mengajarkannya. Sedangkan kami? Kami hanyalah muridnya…

Lihat pos aslinya 40 kata lagi

Apa Kata Ulama Tentang Syi’ah?

Apa Kata Ulama Tentang Syi’ah?.

Imam Malik –rahimahullah– (w 179) berkata, “Orang yang mencela sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak memiliki tempat dalam Islam.” (Sunnah, Al Khallal, 1/493)

Beliau juga pernah ditanya bagaimana menyikapi orang-orang Rafidhah, maka ia menjawab, “Jangan berbicara kepada mereka dan jangan bersikap manis, karena mereka semua pendusta.” (Minhaj Sunnah, 1/61)

Selengkapnya pada Apa Kata Ulama Tentang Syi’ah?.