Ketika Akal Berjalan Sebagaimana Mestinya

Beberapa waktu yang lalu, media lokal maupun internasional memberitakan kebiasaan yang jarang dilakukan oleh pesepakbola kelas dunia, kecuali pesepakbola muslim yang taat. Ya, dia Cristiano Ronaldo yang berusaha menjauhi minuman beralkohol dan tidak mentato bagian tubuhnya sebagaimana dilakukan para pesepakbola dunia ketika sudah mencapai karir tertingginya.

Dikutip HamroFootball, belum lama ini, Ronaldo dikenal menjauhi minuman beralkohol untuk bisa tetap bugar. Pilihan itu ditempuhnya lebih karena ingin berdamai dengan masa lalunya.

Ternyata dibalik upayanya itu, CR7 (sapaan akrab Ronaldo) memang memiliki alasan yang logis. Alasan itu karena ayah Ronaldo, Jose Diniz Averio meninggal pada usia 52 tahun akibat terserang penyakit yang diakibatkan kegemarannya menenggak minuman keras. Kehilangan ayah yang dikenal gemar banting tulang karena berasal dari keluarga pas-pasan pada usia 20 tahun, membuatnya tidak ingin mengulang kesalahan bodoh ayahnya.

Lanjutkan membaca Ketika Akal Berjalan Sebagaimana Mestinya

Iklan

Permainan

Kita pastinya sangat akrab mendengar tentang sepak bola pada sekarang ini. Hampir setiap pekan disiarkan pertandingan sepak bola di televisi. Di koran mana saja pasti ada rubrik bola, dipisah dari tema olah raga secara umum. Bahkan di koran yang mengaku sebagai koran muslim. Lalu banyak juga tabloid-tabloid yang khusus membahas tentang bola. Ini memperlihatkan kepada kita bahwa seolah-olah sepak bola itu diminati oleh semua orang, atau setidaknya sebagian banyak orang. Terlebih lagi saat Timnas Indonesia bertanding melawan negara lain, banyak yang menghubung-hubungkan masalah nasionalisme dalam mendukung timnas. Sesuatu yang saya kira baru adalah sejak piala AFC tahun 2010 lalu, lebih banyak gadis  yang menggilai bola mau menonton pertandingan di stadion dibandingkan sebelumnya.  Mungkin karena ada hal yang menarik menurut mereka.

Lain lagi dengan para kiyai. Ternyata ada juga, atau mungkin sudah biasa bahwa kiyai menggandrungi bola, mungkin karena tertarik pada euforia masyarakat sekarang ini. Mereka juga banyak yang bangun malam untuk menonton pertandingan atau lebih tepatnya permainan olah raga itu. Bedanya dengan orang biasa, mereka sholat malam dulu, lalu mendoakan agar tim yang didukungnya menang, menurut saya pribadi.

Menurut Dr. M Quraish Shihab, permainan itu sudah tidak lagi menjadi permainan, tapi telah berubah menjadi gabungan antara seni, siasat, pengetahuan, ketegaran, serius, dan ngotot. Ia mampu mengalahkan segala aktivitas serius serta kenyamanan yang didambakan. Manusia banyak yang rela berkorban untuk sekedar mengikuti arus demam olah raga, meski mereka sendiri adalah orang-orang yang berbadan loyo yang tak pernah berolah raga.

Jika Bill Clinton mengatakan permainan bola sebagai sesuatu yang dapat mempersatukan bangsa-bangsa di dunia, itu hanyalah kiasan. Bola yang bulat memang bergerak dinamis dan memukau, sehingga orang yang menyaksikan  akan sangat terhibur dan lupa dengan segala kesibukan yang setiap harinya menjadi beban, seperti kiyai yang masih sempat menggilai bola tadi. Entah itu beban politik, ekonomi, maupun pekerjaan lain yang serius. Namun yang lebih memprihatinkan, jika permainan bola itu dicampuri dengan dukun dan sebangsanya. Bahwa dari dunia permainan yang indah itu dapat melahirkan fikrah syirik yang tak diampuni Allah swt.

Memang dunia ini adalah permainan (QS Al Hadid 20), permainan yang mengandung konsekuensi serius. Permainan yang indah sebagaimana Allah juga indah dan menyukai keindahan. Permainan di dunia ini akan menjadi indah manakala dilakukan dengan bersih. Dan bersih itu sendiri berarti tiadanya pelanggaran dan atau penyimpangan dari hal-hal yang telah digariskan.

Mengapa dalam olah raga mesti ada unsur pelanggaran syar’i? Mengapa dalam olah raga mesti ada pamer aurat? Mengapa dalam olah raga mesti ada taruhan dan judi? Inilah yang sesungguhnya merusak keindahan permainan. Tapi di mata orang-orang yang berhati rusak, semua itu malah dianggap estetika dalam permainan. Na’udzubillah min dzalik.

Oh manusia, ingatlah bahwa Ilahmu seharusnya hanya Allah saja. Hadapkanlah dan luruskanlah semua arah permainan hidup ini hanya untuk-Nya, untuk mengikuti jalan-Nya.

Jika diseru demikian, mungkin banyak juga orang yang amat setuju. Karena konsepsi dasar Islam itu memang sesuai dengan fitrah jiwa yang suci seluruh keturunan Adam ini. Namun dalam realitas masih jelas, bahwa demi estetika, aurat harus dipamerkan. Bahwa dari gerak tubuh, pakaian mesti diminimkan. Bahwa demi nonton tim kesayangan, sholat subuh kesiangan. Dan demi alasan tertentu yang mengatasnamakan olah raga, judi lalu dihalalkan.

Jika demikian halnya, syirik pulalah adanya, sebab banyak hal yang bisa dijadikan alasan justifikasi. Ada ilah-ilah yang menandingi Allah, yang bahkan dapat menggugurkan batasan-batasan-Nya. Wallahu a’lam.

Menjadi Pemimpin (dalam Islam)

Sistem pemilihan pemimpin di indonesia sekarang ini terkesan menghambur-hamburkan uang negara. Setiap bulan –mungkin– ada saja pemilihan di kabupaten atau kota. Calon yang akan dipilih biasanya bermodal ketenaran dan uang, yang biasanya artis. Beberapa waktu lalu, bahkan artis yang biasa tampil seronok dicalonkan oleh partai untuk menjadi bupati di suatu kabupaten. Otonomi daerah dan reformasi dijadikan dalih agar pemilihan pemimpin dilaksanakan sendiri-sendiri di daerah. Padahal ini bisa menjadi peluang penggelembungan dana a.k.a korupsi. Lebih dari itu, calon yang maju tidak sesuai harapan.

Dari itu semua, kalah dan menang sudah lumrah adanya. Tetapi ada –bahkan banyak– orang tidak bisa menerima kekalahan. Misalnya saja caleg yang tidak lolos banyak yang menjadi stress –jika tidak dikatakan gila. Mereka ini sudah dipastikan mencalonkan diri karena money oriented, atau termotivasi oleh kedudukan dan uang. Mereka ini bisa disamakan dengan para pejudi. Mereka bertaruh demi mendapat kedudukan dalam dewan yang terhormat. Sungguh picik sekali pemikiran yang demikian itu.

Terlepas dari itu semua, kampanye-kampanye yang digalakkan para calon tidak hanya dalam bentuk orasi. Ada yang mengunjungi TPA untuk mendapat simpati dari wong cilik, tak jarang yang mengunjungi pasar tradisional untuk mendengar aspirasi pedagang di sana –dan sekaligus sekali-kali melihat pasar tradisional karena sering ke mal. Tetapi jika terpilih, apakah mereka akan ingat janji mereka itu? Kemungkinannya iya dan tidak. Pemimpin yang amanah adalah pemimpin yang menepati janjinya itu.

Rupanya momen pemilihan umum lebih menguntungkan sebagian golongan saja. Masyarakat yang dijanjikan kesejahteraan, yang sebagian orang miskin, hanyalah dijadikan objek pelengkap penggembira. Pada saat kampanye, rakyat seperti “dimanja-manja”, tetapi setelah selesai, seolah sang pemerintah lepas tangan –sekali lagi seolah. Para anggota dewan hanya menginginkan gajinya perbulan, tetapi hasil kerjanya mandul. Lihat saja kasus-kasus yang menimpa anggota dewan terkait korupsi waktu-waktu lalu.

Itulah yang saya pikirkan selama ini. Apakah politik seperti itu? Memanfaatkan rakyat sebagai obyek kampanye dan kepentingan masing-masing pribadi atau golongan? Katanya, dasar negara Indonesia yaitu Pancasila. Yang salah satu silanya mengatakan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Sudah jelas bahwa rakyat Indonesia butuh keadilan, keadilan sosial. Ya mbok daripada mengurus proyek untuk sepakbola (membangun stadion atau yang lain) lebih baik membangun rumah-rumah untuk gelandangan dan orang terlantar.

“Nasionalisme” telah luntur dari diri masyarakat kita. Dan individualisme sebagai hasil liberalisme telah menyusup begitu dalam di setiap pribadi. Padahal imperialisme telah menjajah bangsa kita ini sebagai hasil dari kapitalisme. Dekadensi moral telah merusakkan peradaban dan kehidupan. Sehingga korupsi seolah telah membudaya dalam pemerintahan kita.

Sebenarnya tujuan atau motivasi utama seseorang ingin menjadi pemimpin itu apa? Apakah ia sudah merasa pantas? Sudahkah mereka memiliki kriteria seorang pemimpin? Kriteria pemimpin antara lain:

1. niat yang lurus

2. laki-laki

3. tidak minta jabatan

4. berpegang pada hukum Allah

5. memutuskan perkara dengan adil

6. tidak menutup diri saat rakyat membutuhkan

7. menasihati rakyat

8. tidak menerima hadiah

9. mencari pemimpin (pengganti) yang baik

10. lemah lembut

11. tidak meragui dan memata-matai rakyat

dalam konteks ini adalah syarat seorang pemimpin dalam Islam, karena mayoritas di Indonesia adalah Islam. Sudahkah Anda wahai para pemimpin, memenuhi syarat-syarat tersebut?

Sungguh sunnah Rasulullah saw telah menunjukkan bahwa kekuasaan adalah amanat yang wajib dipertanggungjawabkan, seperti yang disebutkan Nabi saw kepada Abu Dzar tentang kekuasaan:

“sesungguhnya kekuasaan itu adalah amanat dan kelak pada hari kiamat akan menjadi penyebab kehinaan dan penyesalan kecuali bagi orang yang mengambilnya dengan cara yang benar dan melakukan kewajiban-kewajiban yang harus dipikulnya.” (HR Ibnu Taimiyah)

Waktu adalah pedang

The time is money

Itulah slogan kaum materialis yang menganggap bahwa waktu akan menghasilkan uang. Mereka mengisi waktu mereka hanya dengan urusan uang. Mencari uang, lalu menghabiskannya, foya-foya, hura-hura. Mereka menganggap dunia ini tak akan berakhir, mereka melalaikan mati. Mereka telah terjebak kesenangan sesaat yang mereka dapat dari mengumbar nafsu. Budaya mereka telah menular ke dalam diri remaja muslim negeri ini khususnya dan remaja muslim dunia umumnya.

Sebagai pemuda-pemudi Islam, seharusnya kita tidak ikut-ikutan seperti mereka. Kita punya semboyan sendiri. Al waqtu ka sh-shaif. Waktu adalah pedang. Kalau kita tidak memanfaatkan waktu itu, kita akan dipotong oleh pedang itu.

Itulah, betapa besarnya perhatian Islam dengan waktu. Oleh karena itu, kita mestinya bisa memanfaatkan waktu hidup yang singkat ini dengan baik.

Kita punya pegangan yang kuat tentang waktu. “Demi masa, sesungguhnya manusia dalam kerugian, kecuali orang yang beriman dan beramal sholeh, yang mengingatkan dalam kebenaran dan mengingatkan dalam kesabaran.” (Qur’an Surah Al-‘Ashr)

Masa kita “ngibadah” melulu  –tidur (tidurnya orang puasa adalah ibadah)– setiap hari. Kalau kita pikir-pikir, dalam satu hari saja, lebih banyak mana kegiatan yang bermanfaat (produktif) dengan kegiatan yang sia-sia? Kebanyakan kita pasti jawab banyakan yang sia-sia ―pasti gak ngaku!― meskipun ada yang jawab banyakan bermanfaat. Misalnya nih, kalau kita sholat, paling-paling kan lima menit aja, terus dikali lima –kalau masih bolong-bolong lain ceritanya–, jadinya ya … hitung sendiri saja. Lihat, berarti kita mendekat dengan Allah saja hanya sebentar –gak ada sejam― dalam sehari. Dibandingkan dengan kegiatan lainnya, misalnya ngobrol, bisa ngabisin waktu sejam ―malah lebih. Sungguh ironis memang. Saya tidak mau bilang kalau kita harus sholat terus, dalam sehari misalnya 50 kali gitu. Tapi selain itu masih banyak kegiatan yang bermanfaat. Ingat ya, kegiatan apa pun yang tidak menjadikan kita merasa takut kepada Allah, berarti kegiatan itu tidak diridhoi oleh Allah. Berarti kita melakukan hal yang sia-sia belaka.

Kebanyakan kita bercita-cita mau mengubah dunia, padahal untuk mengubah dirinya sendiri saja kedodoran. Makanya, kita harus mulai dari diri sendiri, dari hal yang paling kecil dan mulai sekarang juga (mengutip kata AA Gym). Kita harus gunakan waktu yang telah diberikan kepada kita dengan sebaik-baiknya

Ingat lima perkara sebelum lima perkara, …lapang sebelum sempit

Gunakan waktu yang lapang sebelum waktu mengejar-ngejarmu. Jadi, jangan the time is money, tapi the time is sword!

 

————

Terakhir disunting pada 25 Juni 2011

Islamic Fundamentalism

At present, many Westerns shout Islamic fundamentalism loudly as a fear of terrorism. But actually, can the terrorism be concerned to Islamic fundamentalism? Completely not, I think. I don’t know what the fundamentalism is. But what I am sure that I know the fundamental of Islam that is shahada, salât, zakât, saûm and hajj.As for some tragedies of bomb, many people directly think that it was done by Islam people. They think that Islam instructs the followers to be terrorists or doing other barbaric action. That is absolutely a narrow-minded thinking. Also, some people assert that the fundamentalists are terrorists. How can he think like that? Whereas, the fundamentalists try to keep pure Islamic teaching to be exist on this world. However, there are some people who don’t like that. Why do they so afraid of fundamentalism? Isn’ it reasonable that someone try to protects his belief? That is a human right, isn’t that?

Concerning jihad, some people declared: Islam orders the followers to invade, kill, burn, destroy countries, and to put people to the sword for the sake of their religion (jihad). I say this assertion is completely wrong. Jihad means to communicate Allâhu Ta’âla’s true religion to His created servants. This can be done by using the sword to eliminate cruel and devouring dictators, who hamper Allâhu Ta’âla’s religion from reaching His servants. First, it begins with admonishing and moral preaching, and then in the ease of disobedience or opposition, these obstructions are eliminated by other means. Jihad with force is done not by individuals, but by the Islamic state.
Obviously, in the 256th verse of surât al Baqarâ in the Qurân al Karîm it states:
لَا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ ۖ قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ ۚ فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَىٰ لَا انْفِصَامَ لَهَا ۗ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

“There is no compulsion in religion. Verily, the Right Path has become distinct from the wrong Path. Whoever disbelieves In Tâghût and believes In Allâh, and then He has grasped the Most-trustworthy handhold that will never break. And Allâh is All-Hearer, All-Knower.”

It shows that Islam do not attempt to convert a person to Islam by recourse to any means, that is by force or by promising material advantages.
So, you should have changed your negative thinking of Islam.