Kumpulan Artikel dalam Blog Ini

Rehat dalam perjalanan panjang

Assalamu’alaikum wa rahmatullah.

Tak terasa sudah lebih dari 3 tahun blog ini mengudara di jagat maya. Perjalanan yang cukup panjang ini sudah membawa kami sejauh ini. Meskipun tidak banyak yang kami bagikan dalam blog ini, cukup kiranya rasa puas yang didapatkan dari menulis, atau membagikan ide dalam tulisan. Selain tentunya rasa menyesal bila ada kesalahan di sana-sini.

Lanjutkan membaca Kumpulan Artikel dalam Blog Ini

Iklan

Lebaran in Indonesia

Do you know lebaran? Of course you do, if you’re Indonesian, don’t you? But I’m sure that some of you don’t know what is it. I think, lebaran is a new term of –the same kind of—social phenomena that happened in Indonesia. The origin of lebaran is Idul Fitri (Arabic). That is a feast day in Islam which celebrated after the Muslims fast for a month (Ramadan). Lebaran is celebrated on 1st Shawwal. The meaning of the Idul Fitri is come back to the saintliness. Most of people has a notion that lebaran is obliged to be celebrated, because their struggle against of desire for a month has finished. They celebrate it with new clothes, much of meals, Halal Bi Halal, and others.
Actually, they just ordered to tight the rope of sillaturahim. Notably on the Shawwal, if we do a benefaction, we are like doing it for a year.
The origin of lebaran terminology is lebar (Java) that means finish or end. Most of people interpret this word naturally. I mean they judge the finish is finish. All of benefaction they have done for a month is not necessary again right now. So, usually after coming back to saintliness, they leave good deeds and leaving the saintliness, too. It is indication that they failed on fasting.
On lebaran day –and a few days after it, there is a tradition of halal bi halal (forgive one another). Well, from this, a faulty turns up. But I don’t want to say that we are prohibited to forgive each other. I just mean forgiving is not only on lebaran, but also everyday or whenever, isn’t it? Most of people consider and understanding that Idul Fitri (come back to saintliness) is to ask pardon only. But actually, we come back to saintliness is because our benefaction we do during Ramadan.
There are one more phenomena that happened on lebaran. That is ‘mudik’. Mudik is from word udik that mean village/country. So, mudik means coming home to the birthplace. All people want to celebrate lebaran with their beloved family. It feels not complete if we celebrate lebaran without family. Although they are distant, we will visit them whatever happened. It is a beauty of our lebaran. Have a nice lebaran! Taqabalallahuh minna wa minkum taqabbal ya kariim

Yang Telah Berlalu Biarlah Berlalu

"Sukses! Semangat Usaha Meskipun Situasi ...
“Sukses! Semangat Usaha Meskipun Situasi Semakin Sulit” (Photo credit: Akinini.com)

Mengingat dan mengenang masa lalu, kemudian bersedih atas nestapa dan kegagalan di dalamnya merupakan tindakan bodoh dan gila. Itu sama artinya dengan membunuh semangat memupus tekad dan mengubur masa depan yang belum terjadi.

Bagi orang yang berpikir, berkas-berkas masa lalu akan dilipat dan tak pernah dilihat kembali. Cukup ditutup rapat, lalu disimpan dalam ruang penglupaan, diikat dengan tali yang kuat dalam penjara pengacuhan selamanya. Atau diletakkan pada ruang yang gelap yang tak tertembus cahaya. Yang demikian karena masa lalu telah berlalu dan habis. Kesedihan tak akan mampu mengembalikannya lagi, keresahan tak sanggup memperbaikinya kembali, kegundahan tak akan mampu mengubahnya menjadi tenang dan kegalauan tidak akan dapat menghidupkannya kembali karena ia memang sudah tidak ada. Lanjutkan membaca Yang Telah Berlalu Biarlah Berlalu

Definisi Surga dalam Pandangan berbagai Agama

rambu rambu menuju surga

dicari lowongan buat calon penghuni surgaSurga atau sorga berasal dari bahasa Sanskrit (Sanskerta) yaitu svarga, kemudian diserap dalam bahasa Indonesia yaitu surga dan dalam bahasa Jawa yaitu swarga. Svarga berasal dari dua suku kata, svar yang artinya cahaya dan ga yang artinya perjalanan. Berarti, surga pada mulanya mempunyai makna perjalanan menuju cahaya atau menjadi satu dengan cahaya. Ini adalah pandangan surga dalam agama Hindu. Dalam kamus basa Jawa, swarga merupakan alam yang penuh kenikmatan tempatnya para sukma orang-orang yang hidupnya penuh dengan kebajikan. Dalam pengertian semula, surga itu adanya ya sekarang ini. Tidak menunggu hingga hancurnya alam semesta ini.

Menurut agama Buddha, surga juga ada di dunia ini. Bukan suatu yang ada di luar dunia. Dari lima jenis alam dalam agama Buddha, surga berada di tingkat ke-tiga. Tingkat paling dasar yaitu neraka kemudian alam manusia, tingkat ke-tiga yaitu surga, ke-empat alam rupaloka dan yang terakhir alam arupaloka. Tujuan akhir manusia menurut Buddha adalah nirwana (nirvana). Kata ini sebenarnya berarti padam. Bukan tidak ada. Suatu kebahagiaan luar biasa yang tak terjangkau indra. Itulah nirwana. Jadi, tujuan akhir manusia menurut Buddha adalah nirwana bukannya surga. Intinya, baik Hindu maupun Buddha surga hanyalah sasaran untuk dapat melanjutkan perjalanan spiritual manusia. Bukan perjalanan akhir untuk mendapatkan kebahagiaan atau kesenangan.

Dalam pandangan Islam, surga adalah tempat bagi hamba-hamba Allah yang beriman kepada Nya dan melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan Nya. Tempat yang memberikan kenikmatan hidup yang belum pernah dirasakan ketika hidupnya di dunia dan sebagai balasan atas jerih payahnya memenuhi perintah Allah dan menjauhi larangan Nya. Tetapi sebenarnya, dalam Al-Qur’an tidak ada kata surga. Yang ada hanyalah jannah (jamak: jannât). Dan jannah itu seluas bumi dan langit. Jannah tidak hanya satu, melainkan sebanyak manusia yang akan menempatinya. Jannah berarti kebun atau taman. Dalam benak kita tergambar banyak pohon buah-buahan yang ada di dalamnya atau tempat peristirahatan, ada sungai-sungai untuk rekreasi, ada kamar peristirahatan dengan dipan-dipan yang tertata anggun. Kita juga membayangkan ada bidadari-bidadari yang cantik dan masih muda yang tak akan pernah tua dan akan jadi istri kita jika kita masuk surga.

Dari sudut tata bahasa, kata jannah berasal dari kata kerja jan-na [ﺠﻦ] yang artinya menutupi, menyembunyikan atau menudungi. Maka, dalam kiasan, jannah merupakan sesuatu yang masih tersembunyi, tertutup dari pandangan mata fisik atau mata jasmani.

Allah menguji manusia agar berlomba-lomba menuju (kembali) kepada Allah dengan surga. Semua ibadah yang kita lakukan hendaknya lebih mengharap ridho Allah sedangkan pahala adalah Allah yang menentukan.
Nama-nama Surga yaitu Jannatu’l-Firdaus(yaitu surga yang tertinggi). Jannatu’l-Adn, Jannatu’l-Khulûd, Jannatu’n-Na’îm, Jannatu’s-Salâm, Jannatu’l-Jalâl, Jannatu’l-Ma’wa.

Adapun macam-macam Surga antara lain:

  1. Jannatu’l-Ikhtishash, ialah surga yang diperuntukkan mereka:
    1. anak-anak kecil yang meninggal sebelum dikenakan kewajiban agama.
    2. siapa saja yang dikehendaki Allah.
    3. mereka yang hilang akalnya, kelakuannya baik ketika masih normal, kemudian menderita sakit ingatan sehingga meninggal.
    4. mereka yang percaya ke-Esaan Allah yang diperoleh karena menyelidiki sendiri terhadap bukti-bukti ke-EsaanNya yang bertebaran di alam semesta/dunia fana.
    5. mereka yang hidup pada periode dua Rasul, yang tidak sampai dakwah Rasul kepadanya.
    6. mereka yang menerima dakwah ahli tauhid kepadanya, sungguh pun tidak seasli yang dibawa Rasulnya.
  2. Jannatu’l-Mîrâts, yaitu surga yang disediakan bagi mereka yang tadinya kafir, kemudian beriman. Karena tempat-tempat tersebut tidak jadi diisi, maka diberikan atau diwariskan kepada mereka, di samping tempat-tempat yang ditentukan sendiri bagi penghuni surga (Q.S. Al-Hadîd: 10).
  3. Jannatu’l-‘Amal, yaitu surga yang disediakan bagi mereka orang-orang Mukmin berdasarkan amal perbuatan mereka ketika hidupnya di dunia.
petunjuk ke surga atau ke neraka
jalan yang salah bisa menuntun ke neraka, jadi jangan salah pilih jalan

Terakhir disunting pada 17 Maret 2014, bagi yang merasa menciptakan gambar-gambar di atas, silakan klaim di sini, karena saya lupa sumbernya.