Gosip, Kalau Tidak Fitnah Ya Ghibah!

Disadari atau tidak, banyak bicara akan semakin memperbesar peluang kita untuk berbohong. Kadang, untuk ‘memperindah’ omongan, kita menambahkan ‘bumbu’ sebagai pelengkapnya. Fenomena seperti ini tidak susah untuk kita temui atau bahkan mungkin kita sendiri yang mengalaminya.

Fenomena yang paling gampang kita jumpai selain mungkin yang dilakukan diri sendiri adalah acara-acara infotainment. Bukan maksud memojokkan, saya pikir bahwa acara-acara gosip tidak akan ‘enak’ ditonton jika pemberitaan itu lurus-lurus saja. Lurus di sini maksudnya tidak ada sesuatu yang ditambah-tambahi. Untuk mendapatkan hasil gosip yang ‘bagus’ tentulah ada sesuatu yang semestinya tidak digosipkan, lantas digosipkan. Di samping itu, kadang pembawa acara dalam acara gosip pun lebay dalam berbicara, padahal Lanjutkan membaca Gosip, Kalau Tidak Fitnah Ya Ghibah!

Iklan

Allah-lah Yang Berkehendak…

Allah ta’ala berhak untuk memberikan hidayah atau tidak memberikan hidayah kepada makhluk-Nya. Dan memang hidayah itu milik Allah, sebagaimana firman Allah dalam Qur’an Surat Al Qashash ayat 56.

“Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk”.
Ibnu katsir mengatakan mengenai tafsir ayat ini, “Allah mengetahui siapa saja dari hambanya yang layak mendapatkan hidayah, dan siapa saja yang tidak pantas mendapatkannya”. Lanjutkan membaca Allah-lah Yang Berkehendak…

Kesadaran berislam

English: Source:Kashmir in India.
English: Source:Kashmir in India. (Photo credit: Wikipedia)

Masjid-masjid bertambah banyak. Pemuda dan pelajar serta mahasiswa membanjiri masjid dan mushola. Berbagai kegiatan diadakan di sana. Ramadhan dan hari-hari besar ramai dengan kegiatan keislaman. Acara diskusi dan seminar tentang Islam banyak dikunjungi mahasiswa dan cendekiawan. Pesantren dan pondok didatangi mahasiswa yang ingin belajar Islam kepada kyai-kyai. Kajian-kajian Islam selalu menarik perhatian. Buku-buku tentang Islam membanjiri pasaran dan dinyatakan paling laris. Kita semua mengatakan ini semua sebagai alamat tumbuhnya kesadaran beragama di kalangan ummat Islam.

Banyak pejabat pemerintah menunaikan ibadah haji. Di kantor-kantor pemerintah dan lembaga-lembaga swasta diperintahkan untuk didirikan masjid dan mushola, bahkan juga tempat-tempat hiburan dan wisata. Kita menyebutnya kesadaran mulai tumbuh di lingkungan pejabat muslim.

Lanjutkan membaca Kesadaran berislam

Buta Hati Lebih Bahaya dari Buta Mata

Blind?
Blind? (Photo credit: x-av)

Para penggemar sepakbola tentu masih ingat peristiwa “Gol Tangan Tuhan” pada piala dunia FIFA 1986. Gol kontroversial pada menit ke 51 inilah yang membawa Argentina memenangi kompetisi tersebut.

Lensa kamera merekam jelas adegan sang striker Diego Maradona menyambut umpan melambung dengan tangannya, dan melesakkan ke gawang Inggris.

Namun sang striker berpura-pura tak melakukan kesalahan. Ia malah berlari kegirangan ke arah penonton demi meyakinkan gol yang dicetaknya, sembari mengabaikan “persaksian” tangannya.

Wasit bisa ia kelabuhi, tapi Tuhan tidak. Mata sang wasit boleh saja dianggap “buta” akibat tak mampu melihat sebenarnya dari gol yang kontroversial itu, namun butanya mata hati sang striker jauh lebih berbahaya. Ia telah menodai ajang yang katanya amat menjunjung tinggi sportivitas ini. Dan, celakanya, dunia mengamininya!

Buta Massal

Rupanya tidak sekali itu saja dunia mengamini sebuah kebutaan. Mayoritas penghuni dunia ini adalah orang sesat dan menyesatkan akibat buta, alias gagal melihat dan meyakini jalan yang benar. Lanjutkan membaca Buta Hati Lebih Bahaya dari Buta Mata

Menjadi Pemimpin (dalam Islam)

Sistem pemilihan pemimpin di indonesia sekarang ini terkesan menghambur-hamburkan uang negara. Setiap bulan –mungkin– ada saja pemilihan di kabupaten atau kota. Calon yang akan dipilih biasanya bermodal ketenaran dan uang, yang biasanya artis. Beberapa waktu lalu, bahkan artis yang biasa tampil seronok dicalonkan oleh partai untuk menjadi bupati di suatu kabupaten. Otonomi daerah dan reformasi dijadikan dalih agar pemilihan pemimpin dilaksanakan sendiri-sendiri di daerah. Padahal ini bisa menjadi peluang penggelembungan dana a.k.a korupsi. Lebih dari itu, calon yang maju tidak sesuai harapan.

Dari itu semua, kalah dan menang sudah lumrah adanya. Tetapi ada –bahkan banyak– orang tidak bisa menerima kekalahan. Misalnya saja caleg yang tidak lolos banyak yang menjadi stress –jika tidak dikatakan gila. Mereka ini sudah dipastikan mencalonkan diri karena money oriented, atau termotivasi oleh kedudukan dan uang. Mereka ini bisa disamakan dengan para pejudi. Mereka bertaruh demi mendapat kedudukan dalam dewan yang terhormat. Sungguh picik sekali pemikiran yang demikian itu.

Terlepas dari itu semua, kampanye-kampanye yang digalakkan para calon tidak hanya dalam bentuk orasi. Ada yang mengunjungi TPA untuk mendapat simpati dari wong cilik, tak jarang yang mengunjungi pasar tradisional untuk mendengar aspirasi pedagang di sana –dan sekaligus sekali-kali melihat pasar tradisional karena sering ke mal. Tetapi jika terpilih, apakah mereka akan ingat janji mereka itu? Kemungkinannya iya dan tidak. Pemimpin yang amanah adalah pemimpin yang menepati janjinya itu.

Rupanya momen pemilihan umum lebih menguntungkan sebagian golongan saja. Masyarakat yang dijanjikan kesejahteraan, yang sebagian orang miskin, hanyalah dijadikan objek pelengkap penggembira. Pada saat kampanye, rakyat seperti “dimanja-manja”, tetapi setelah selesai, seolah sang pemerintah lepas tangan –sekali lagi seolah. Para anggota dewan hanya menginginkan gajinya perbulan, tetapi hasil kerjanya mandul. Lihat saja kasus-kasus yang menimpa anggota dewan terkait korupsi waktu-waktu lalu.

Itulah yang saya pikirkan selama ini. Apakah politik seperti itu? Memanfaatkan rakyat sebagai obyek kampanye dan kepentingan masing-masing pribadi atau golongan? Katanya, dasar negara Indonesia yaitu Pancasila. Yang salah satu silanya mengatakan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Sudah jelas bahwa rakyat Indonesia butuh keadilan, keadilan sosial. Ya mbok daripada mengurus proyek untuk sepakbola (membangun stadion atau yang lain) lebih baik membangun rumah-rumah untuk gelandangan dan orang terlantar.

“Nasionalisme” telah luntur dari diri masyarakat kita. Dan individualisme sebagai hasil liberalisme telah menyusup begitu dalam di setiap pribadi. Padahal imperialisme telah menjajah bangsa kita ini sebagai hasil dari kapitalisme. Dekadensi moral telah merusakkan peradaban dan kehidupan. Sehingga korupsi seolah telah membudaya dalam pemerintahan kita.

Sebenarnya tujuan atau motivasi utama seseorang ingin menjadi pemimpin itu apa? Apakah ia sudah merasa pantas? Sudahkah mereka memiliki kriteria seorang pemimpin? Kriteria pemimpin antara lain:

1. niat yang lurus

2. laki-laki

3. tidak minta jabatan

4. berpegang pada hukum Allah

5. memutuskan perkara dengan adil

6. tidak menutup diri saat rakyat membutuhkan

7. menasihati rakyat

8. tidak menerima hadiah

9. mencari pemimpin (pengganti) yang baik

10. lemah lembut

11. tidak meragui dan memata-matai rakyat

dalam konteks ini adalah syarat seorang pemimpin dalam Islam, karena mayoritas di Indonesia adalah Islam. Sudahkah Anda wahai para pemimpin, memenuhi syarat-syarat tersebut?

Sungguh sunnah Rasulullah saw telah menunjukkan bahwa kekuasaan adalah amanat yang wajib dipertanggungjawabkan, seperti yang disebutkan Nabi saw kepada Abu Dzar tentang kekuasaan:

“sesungguhnya kekuasaan itu adalah amanat dan kelak pada hari kiamat akan menjadi penyebab kehinaan dan penyesalan kecuali bagi orang yang mengambilnya dengan cara yang benar dan melakukan kewajiban-kewajiban yang harus dipikulnya.” (HR Ibnu Taimiyah)