Adab Salam dalam Kehidupan Sehari-hari

“Orang Yahudi itu kaum pendengki. Dan tidak ada kedengkian mereka yang lebih besar selain kepada ‘salam’ (ucapan assalamu’alaikum) dan amin.”

As Salam, Peaceful Sanctuary
As Salam (Asma’ul Husna), Peaceful Sanctuary (Photo credit: Sunflower Central)

Ucapan assalamu’alaikum adalah salah satu syi’ar Islam. Bahkan syi’ar yang satu ini termasuk yang paling populer di kalangan kaum Muslimin. Betapa tidak, dari anak kecil yang baru belajar bicara hingga orang tua yang mulai sulit bicara, begitu akrab dengan ucapan ini. Tidak mengherankan bila orang-orang yahudi, seperti disebutkan oleh Rasulullah saw., begitu benci dengan syi’ar yang sederhana untuk diucapkan, namun memiliki arti yang dalam itu.

Pernah seorang Arab gunung menyapa Rasulullah saw. dengan an’im shabahan (selamat pagi), maka Rasulullah saw. mengatakan “Allah swt. telah mengganti ucapan itu dengan yang lebih baik yaitu assalamu’alaikum.”

“Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah penghormatan itu (dengan yang serupa). Sesungguhnya Allah memperhitungankan segala sesuatu” (QS. An-Nisa‘: 86)

“Kalian tidak akan masuk surga sehingga beriman, dan tidaklah beriman sehingga saling mencintai. Inginkah aku tunjukkan kepada kalian sesuatu yang jika dilakukan, kalian akan saling mencintai? Sebarkanlah salam di antara kalian.” (HR. Muslim)

Lanjutkan membaca Adab Salam dalam Kehidupan Sehari-hari

Gempa, Sebuah Renungan

Gempa menjadi bencana alam paling menonjol yang menimpa negeri ini belakangan terakhir. Di samping adanya solidaritas terhadap korban gempa, seperti peduli Tasikmalaya, dan peduli Sumatra barat, orang pun memberikan penafsiran bermacam-macam tentang gempa. Ada yang menganggap ini peringatan dari Allah SWT. Ada pula yang beranggapan bahwa itu semua merupakan adzab dari Allah SWT sehubungan dengan reformasi yang tak beres-beres. Juga, ada yang menghubungkan gempa dengan perilaku elit politik yang bikin gonjang-ganjing negeri ini. Selain itu, terdapat orang yang menyindir kelakuan birokrat dan politikus curang : alam pun marah kepada mereka. Yang jelas sebagian besar orang merasa ngeri terhadap kejadian itu dan takut menderita atau mati karenanya.

Bagaimana sesungguhnya pandangan Islam tentang gempa bumi dan bencana alam lainnya? Adakah ia termasuk adzab Allah SWT? Ataukah ia sekadar musibah yang menjadi ujian bagi umat manusia? Atau sekadar gejala alam biasa? Lanjutkan membaca Gempa, Sebuah Renungan

Menyambut Ramadhan

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,” (QS. Al Baqoroh: 183)

Kita sudah pasti hafal dengan dalil tersebut. Ya benar, dalil tersebut membahas tentang kewajiban puasa bulan Ramadhan. Memang bulan Ramadhan ini segera tiba kembali. Kita diperintahkan utuk menyambut tamu yang mulia ini dengan sebaiknya. Untuk itu kita perlu persiapan, antara lain:

  • Kita merasa senang atas datangnya bulan yang mulia Ramadhan ini. Misalnya dengan menjalankan amalan yang jarang kita lakukan dan nantinya agar kita terbiasa saat bulan ramadhan.Pada umumnya kita merasa senang pada saat menjelang hari raya. Karena kita merasa terbebas dari beban selama satu bulan. Padahal para sahabat sampai menangis disebabkan ditinggal bulan yang agung ini.
    “Orang-orang yang bahagia menyambut datangnya bulan Ramadhan, jasadnya diharamkan masuk neraka.” Al Hadits
  • Menyiapkan fisik
    Pada dasarnya, puasa Ramadhan adalah melaparkan perut selama sebulan. Jadi kalau tidak biasa lapar, perut akan ‘kaget’ karena langsung disuruh pekerjaan berat. Karena pada hari-hari biasa , perut mencerna makanan yang begitu banyak, sehingga produksi asam lambung akan otomatis banyak setiap hari. Jadi kalau pekerjaan dihentikan secara mendadak, sedangkan asam lambung tetap diproduksi, akan berakibat buruk bagi lambung itu sendiri.
  • Oleh karena itu, perlulah kiranya kita membiasakan puasa sunnah sebelum bulan Ramadhan. Karena Rasulullah dan para sahabat justru lebih banyak puasa pada bulan Sya’ban dibanding bulan lain.
  • Menyiapkan ruh keimanan
    Suasana spiritual pada bulan Ramadhan terasa sangat berbeda dengan bulan-bulan lainnya. Karena Allah telah mengondisikan demikian supaya kita,manusia lebih khusyuk dalam menjalankan puasa. Nah, khusyuk ini pun kita perlu melatihnya. Khusyuk didapat ketika kita ikhlas dalam menjalankan ibadah. Untuk bisa ikhlas, kita harus membiasakan ibadah itu. Jadi, untuk mempersiapkan bulan Ramadhan, kita harus membiasakan amal ibadah pada bulan-bulan sebelum bulan Ramadhan. Misalnya kita tidak terbiasa baca Al Quran, maka agar kita ikhlas tadarus pada bulan Ramadhan, kita mesti terbiasa membacanya pada waktu sebelum-sebelumnya. Jadi mulailah dari sekarang.
  • Mempersiapkan pikiran dan ilmu
    Melaksanakan ibadah puasa Ramadhan tidaklah sepele. Ada aturan dan ketentuan yang berlaku. Agar pahala ibadah puasa kita optimal, kita perlu dan wajib mengetahui aturan ibadah puasa itu. Misalnya hukum puasa saat kita dalam keadaan junub. Jika kita tidak mengetahui hadits tentangnya, yaitu saat Rasulullah bangun dalam keadaan junub lalu beliau berpuasa, kita pasti bingung. Jadi pelajarilah seluk-beluk puasa itu agar kita berbekal pengetahuan dan ilmunya.
  • Mempersiapkan harta untuk berinfaq
    Hal ini penting sekali. Karena ternyata Rasulullah dan para sahabat ‘mengumpulkan’ harta sebanyak-banyaknya pada bulan-bulan sebelum Ramadhan tiba, dan mereka menginfaqkannya pada bulan Ramadhan dan Syawal sampai habis. Karena pada bulan Ramadhan itu sendiri, mereka mengonsentrasikan diri beribadah sebanyak-banyaknya, karena mereka ingin memperoleh keutamaan ibadah puasa Ramadhan. Dan Allah akan melipatgandakan pahala bagi hamba-Nya yang beramal sholih (shodaqoh jariyah) pada bulan mulia ini.
  • Mengondisikan lingkungan
    Memberikan penyadaran kepada masyarakat akan datangnya bulan Ramadhan terutama tempat-tempat maksiat seperti perjudian, tempat biliard, dengan tujuan memperingatkan masyarakat yang belum sadar. Hal ini dialkukan untuk mengondisikan lingkungan agar dapat mendukung aktivitas Ramadhan terutama dalam menjalankan puasa.

Dalam menyambut bulan Ramadhan, kita juga perlu tahu beberapa keistimewaan bulan Ramadhan itu. Saat puasa, kita tidak makan dan todak minum selama kurang lebih 14 jam. Hal ini sudah diteliti oleh para ahli bahwa puasa mempunyai pengaruh terhadap kesehatan, antara lain:

  1. Puasa selama 14 jam menjadikan metode pembuangan kotoran dalam tubuh lancar dan membentuk sel-sel baru dalam tubuh
  2. Berhentinya pencernaan berarti tubuh lebih berkonsentrasi dalam penyembuhan penyakit, seperti tumor, atau penyakit kulit
  3. Tubuh juga lebih mengoptimalkan kerja hormon dalam tubuh selama usus berhenti bekerja.
Itulah beberapa di antara keistimewaan puasa Ramadhan. Masih banyak keistimewaan lainnya yang bisa dikaji. Oleh karena itu, janganlah sia-siakan kesempatan berharga ini. Selamat menjalankan ibadah puasa Ramadhan.

Ingatlah Akhirat

Mengapa orang berbohong? Mengapa orang berbuat curang? Mengapa orang menipu, mencuri, merampok? Mengapa orang korupsi, kolusi, manipulasi? Mengapa orang berbuat buruk lainnya?
Jawabannya adalah karena mereka tak beriman. Lho?! Bukankah kita adalah bangsa yang anti-atheisme, kita adalah bangsa yang bertuhan dan beragama, dan tentunya beriman?
Cobalah dirasakan dari hati yang paling dalam, adakah kemajuan di sana ketika mengucapkan pengakuan “beriman” itu tadi? Karena itulah Allah menyatakan bahwa iman itu jangan dikatakan. Iman itu harus dibuktikan, kalau ingin diakuiNya. karena itulah, Dia selalu menempatkan keimanan kepada akhirat, senantiasa menyertai keimanan pada Allah swt sendiri. sementara rukun iman yang lain jarang disebutkan. Tentu ini bukan berarti rukun-rukun iman yang lain tidak penting, tetapi hal itu lebih menunjukkan makna pentingnya beriman pada hari akhir.
Ia adalah muara dari semua perilaku manusia. Di sanalah adanya kebangkitan setelah kematian. Di sanalah ada perhitungan dan timbangan. Di sana pula ada pertanggungjawaban yang berkonsekuensi pada pahala dan dosa, surga dan neraka. Dan inilah pengendali perilaku yang utama. Di situ juga ada pendidikan pendewasaan.
Balasan kebaikan atau pahala menyebabkan orang mampu menunda pemenuhan kepuasan sesaat. Ia berpikir lebih panjang dan jauh ke depan. Ia tak mengejar acungan jempol ataupun penghargaan. Ia hanya berharap pahala. Ia ikhlas (bersih).