Putus Asa?

Hidup kita terasa hampa, apa salah? Rezeki kian sempit, pekerjaan terasa sulit, apa sebab? Mengapa aku kurang ini kurang itu? Mengapa yang lain begini begitu? Ah, mengapa Tuhan tak adil? Ah, aku putus asa.
Wahai sobat, pernahkah engkau mendengar pertanyaan-pertanyaan yang sejenis dengan itu? Apa justru kau yang bertanya-tanya demikian? Itu mungkin karena manusia sudah lupa. Lupa bahwa dunia hanya sementara. Mungkin bagi mereka-mereka itu masih ingat, hingga mengakhiri hidupnya lebih cepat karena tahu bahwa hidup memang sementara.

وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ تَفَرَّقُوا وَاخْتَلَفُوا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْبَيِّنَاتُ ۚ وَأُولَٰئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ

[٣:١٠٥]

“dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. mereka Itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat,” (QS Ali Imron:105)

Pertanyaan-pertanyaan itu pertanda orientasi hidup atas dunia yang fana telah menguasainya. Yang bertanya itu sudah hampir kehilangan penuntun. Mereka itu sedang krisis iman, lupa Tuhan. Mereka hanya memandang dunia dari sisi kefanaan. Allah berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

[٥١:٥٦]

“dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. “(QS Adz Dzariyat:56)

Bila masalah mengimpit, kita mungkin lupa pada Allah. Jika rezeki sempit, mungkin kita lupa bersodaqoh. Beramallah yang terbaik. Jadikan hidup lebih berarti dengan ilmu. Jadikan setiap detikmu adalah ibadah, sekali pun dalam keadaan tidur. Biarlah Allah yang Mahatahu mengatur umur kita, jodoh kita, rezeki kita. Kita berusaha sebisa kita, seikhlas kita. Tak usah mengharap hasil yang banyak jika usaha kita setengah-setengah. Janganlah membeli kekekalan surga Firdaus dengan kesenangan sementara di dunia yang fana ini.
Sudah saatnya menatap kenikmatan yang telah dan saat ini kita rasakan, dan bersyukurlah. Bersyukurlah pada Allah yang telah dan yang saat ini memberi nikmat. Dan Allah akan memberi kita nikmat-Nya lagi. Dan bersyukurlah kita kembali dengan memberi yang terbaik.

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ

[٦٧:٢]

“Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun, “(QS Al Mulk:2)

إِنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ وَيُنَزِّلُ الْغَيْثَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْأَرْحَامِ ۖ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَاذَا تَكْسِبُ غَدًا ۖ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

[٣١:٣٤]

“Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang hari Kiamat; dan Dia-lah yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok[1187]. dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana Dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.”(QS Luqman:34)

وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعَىٰ [٥٣:٣٩] وَأَنَّ سَعْيَهُ سَوْفَ يُرَىٰ [٥٣:٤٠] ثُمَّ يُجْزَاهُ الْجَزَاءَ الْأَوْفَىٰ

[٥٣:٤١]

“dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya, dan bahwasanya usaha itu kelak akan diperlihat (kepadanya). kemudian akan diberi Balasan kepadanya dengan Balasan yang paling sempurna,” (QS An Najm:39-41)

وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ ۖ وَسَتُرَدُّونَ إِلَىٰ عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

[٩:١٠٥]

“dan Katakanlah: “Bekerjalah kamu, Maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) yang mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS At Taubah:105)

Tujuan Hidup

Is not Allah sufficient for his servant? - II
Is not Allah sufficient for his servant? – II (Photo credit: д§mд)

Apa tujuan hidup kita ini? Sebagian orang mengatakan ingin sukses, atau berguna bagi bangsa dan negara, dsb. Yang lainnya lagi mengatakan, tujuan hidup adalah liang kubur. Malah ada yang mengatakan seperti: muda foya-foya, tua kaya-raya, mati masuk surga. Begitulah, dikiranya surga milik Simbahnya. Tetapi tak ada salahnya kan, kita bercita-cita?
Semua itu hanyalah pendapat sebagian orang. Selain itu masih ada banyak lagi tujuan-tujuan hidup yang ingin diraih seseorang. Akhir dari kehidupan ini adalah maut. Ia menjadi pemisah antara kehidupan sekarang (dunia) dan kehidupan nanti (akhirat). Sebelum mati, ada pertanyaan dari Allah yang harus kita jawab,

فَأَيْنَ تَذْهَبُونَ

“Maka ke manakah kamu akan pergi?” (QS. At Takwir: 26) Lanjutkan membaca Tujuan Hidup

Fenomena Kehidupan: Gamang

Pernahkah anda merasa gamang? Sebagian orang pernah mengalaminya. Dikarenakan ia pasti kurang iman, atau imannya kurang kuat. Banyak orang yang tidak lagi bisa berpikir jernih untuk menghadapi kehidupan yang keras ini. Berita tentang bayi yang dibuang oleh ibunya sendiri pernah ada bahkan tidak hanya sekali saja. Atau mengenai kasus mutilasi yang sekarang ini bertambah heboh. Itu semua dikarenakan sempitnya pemikiran mereka akan dunia ini.
Katanya kita hidup di negeri yang gemah ripah loh jinawi –makmur sejahtera dan aman. Seharusnya rakyat kita pun sejahtera. Tetapi kenyataan berbicara lain. Zaman semakin maju, dan kehidupan semakin modern. Arus globalisasi menyeret siapa saja yang tidak bisa mengikutinya sendiri. Kebutuhan hidup juga semakin bertambah. Siapa saja pasti akan berusaha memenuhi kebutuhan itu. Maka dengan segala cara itu mereka berusaha bertahan hidup.
Akumulasi kesulitan hidup selalu saja melahirkan kegamangan terutama bagi mereka yang tidak memiliki kesiapan mental untuk menghadapinya. Dalam situasi yang demikian, seringkali orang menempuh jalan pintas untuk keluar dari impitan kesulitan. Orang yang gamang bisa saja bertindak brutal seperti merampok, mencuri atau menyogok. Bahkan bisa saja sampai bunuh diri karena stres. Apakah kegamangan hanya dirasakan orang-orang miskin? Dalam pandangan kita demikian. Tetapi nyatanya tidak. Kemiskinan materi bukanlah satu-satunya faktor kegamangan. Misalnya saja kecemasan dalam kehidupan modern ini, yang disebabkan kompetisi atau persaingan, pentingnya status sosial yang tinggi, semakin kurang intensnya hubungan keluarga karena kesibukan, atau rasa ketidakmampuan menggapai cita-cita.
Persaingan mencari kerja telah memberi tekanan kejiwaan tersendiri bagi para lulusan sekolah maupun perguruan tinggi. Banyak di antara mereka yang resah, karena sedikitnya lapangan kerja dan banyaknya saingan. Akhirnya mereka harus terseret dalam arus sogok dan mencari orang dalam agar dapat diterima bekerja pada sebuah instansi.
Ya, kegamangan ternyata tidak hanya dipicu kemiskinan semata. Tetapi juga karena gaya hidup manusia. Penghargaan yang tinggi terhadap status sosial ekonomi telah mendorong orang berlomba-lomba memperkaya diri dan mempertinggi pangkat. Penyakit serakah ini berperan besar bagi situasi kegamangan massal.

Mari kembali ke agama dan perbaiki diri

Tergerusnya nilai-nilai agama harus diakui merupakan faktor penyebab seseorang mengalami kegamangan. Dengan jauhnya seseorang dari nilai-nilai agama membuatnya kehilangan pegangan hidup. Artinya sekalipun siapapun dia ketika berupaya memahami hidup hanya dengan mengandalkan logika, ia pasti akan kehilangan arah tujuan hidup. Banyak orang yang terjebak pada persaingan-persaingan tidak manusiawi, karena hendak mengejar kebahagiaan hidup. Namun bukan kebahagiaan yang ia temui, tetapi justru keresahan yang ia alami. Itu karena mereka tidak menjadikan Allah sebagai tempat kembali dan mohon pertolongan.
Akan ada dua jenis kehidupan yang akan dijalani manusia menurut al-Quran:

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ [١٦:٩٧]
97. Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam Keadaan beriman, Maka Sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan Sesungguhnya akan Kami beri Balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. An Nahl:97

وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَىٰ [٢٠:١٢٤]
124. dan Barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, Maka Sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam Keadaan buta”. Thaha 124

Yang pertama bahwa orang yang beriman akan diberi kehidupan yang baik oleh Allah, yang berguna untuk mengatasi masalah dengan baik dan benar, serta akan memberikan ke tangan dan optimisme dalam hidup.
Yang kedua bahwa barangsiapa yang berpaling dari Allah, ini bisa diartikan kehidupan yang tak jelas. Tak jelas juntrungannya atau pun pegangannya, ini bagi mereka yang tidak menjadikan agama sebagai pegangan.
Menurut K.H. Didin Hafidhuddin, kriteria kebahagiaan ada 4 macam. Pertama, orang yang berbahagia adalah orang yang bisa beribadah. Kedua, Qolbun syakiron, hati yang bersyukur, yang ridho. Ketiga, lisanudz dzakiron, lidah yang selalu berdzikir. Dan yang keempat, suami / istri yang baik atau keluarga sakinah.
Dan agar selalu pikiran kita jernih, kita harus selalu menjaga kesehatan mental. Dan lagi-lagi kesehatan mental tak akan tercapai kecuali jika seseorang kembali pada agamanya. Allahu a’lam.