Mendidik Anak Unggul untuk Menghadapi Masa Depan

Anak Unggul

anak unggulan
ilustrasi

Ini era globalisasi, jaman iptek. Kalau mau mengikuti ulasan Tofler, maka manusia modern telah melalui dua gelombang besar peradabannya, era pertanian dan era industri. Sekarang, kata Tofler, manusia sedang memasuki gelombang ketiga yang penuh kejutan-kejutan besar, era reformasi.

Ulasan Tofler itu dijadikan rujukan oleh John Naisbitt. Cuma yang terakhir ini mencoba memberi isi yang menjadi ciri dari setiap gelombang. Pada era pertanian, kata Naisbitt, manusia berhubungan dengan alam. Pada era industri manusia berhubungan dengan pabrik. Dan pada era informasi manusia berhubungan dengan manusia. Manusia adalah makhluk super kompleks. Karena itu berhubungan dengan manusia mempunyai banyak dimensi yang serba kompleks.

Karena teknologi transportasi dan telekomunikasi sudah sedemikian canggih, maka hubungan antartempat dan antarmanusia berlangsung dengan cepat. Filosofi materialisme yang telah mendominasi dunia membuat ukuran dan target hidup manusia, baik pada skala individual maupun sosial, juga terangkai dalam deretan angka-angka. Ini memberikan stimulasi baru untuk memperkokoh posisi waktu dan kemudian menjelmakannya secara sosial dalam bentuk makna ini, yaitu kecepatan. Kecepatan adalah standar sosial. Sampai di sini, maka informasi, di zaman ini, adalah salah satu kekuatan baru. Lanjutkan membaca Mendidik Anak Unggul untuk Menghadapi Masa Depan

Putus Asa?

Hidup kita terasa hampa, apa salah? Rezeki kian sempit, pekerjaan terasa sulit, apa sebab? Mengapa aku kurang ini kurang itu? Mengapa yang lain begini begitu? Ah, mengapa Tuhan tak adil? Ah, aku putus asa.
Wahai sobat, pernahkah engkau mendengar pertanyaan-pertanyaan yang sejenis dengan itu? Apa justru kau yang bertanya-tanya demikian? Itu mungkin karena manusia sudah lupa. Lupa bahwa dunia hanya sementara. Mungkin bagi mereka-mereka itu masih ingat, hingga mengakhiri hidupnya lebih cepat karena tahu bahwa hidup memang sementara.

وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ تَفَرَّقُوا وَاخْتَلَفُوا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْبَيِّنَاتُ ۚ وَأُولَٰئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ

[٣:١٠٥]

“dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. mereka Itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat,” (QS Ali Imron:105)

Pertanyaan-pertanyaan itu pertanda orientasi hidup atas dunia yang fana telah menguasainya. Yang bertanya itu sudah hampir kehilangan penuntun. Mereka itu sedang krisis iman, lupa Tuhan. Mereka hanya memandang dunia dari sisi kefanaan. Allah berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

[٥١:٥٦]

“dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. “(QS Adz Dzariyat:56)

Bila masalah mengimpit, kita mungkin lupa pada Allah. Jika rezeki sempit, mungkin kita lupa bersodaqoh. Beramallah yang terbaik. Jadikan hidup lebih berarti dengan ilmu. Jadikan setiap detikmu adalah ibadah, sekali pun dalam keadaan tidur. Biarlah Allah yang Mahatahu mengatur umur kita, jodoh kita, rezeki kita. Kita berusaha sebisa kita, seikhlas kita. Tak usah mengharap hasil yang banyak jika usaha kita setengah-setengah. Janganlah membeli kekekalan surga Firdaus dengan kesenangan sementara di dunia yang fana ini.
Sudah saatnya menatap kenikmatan yang telah dan saat ini kita rasakan, dan bersyukurlah. Bersyukurlah pada Allah yang telah dan yang saat ini memberi nikmat. Dan Allah akan memberi kita nikmat-Nya lagi. Dan bersyukurlah kita kembali dengan memberi yang terbaik.

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ

[٦٧:٢]

“Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun, “(QS Al Mulk:2)

إِنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ وَيُنَزِّلُ الْغَيْثَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْأَرْحَامِ ۖ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَاذَا تَكْسِبُ غَدًا ۖ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

[٣١:٣٤]

“Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang hari Kiamat; dan Dia-lah yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok[1187]. dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana Dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.”(QS Luqman:34)

وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعَىٰ [٥٣:٣٩] وَأَنَّ سَعْيَهُ سَوْفَ يُرَىٰ [٥٣:٤٠] ثُمَّ يُجْزَاهُ الْجَزَاءَ الْأَوْفَىٰ

[٥٣:٤١]

“dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya, dan bahwasanya usaha itu kelak akan diperlihat (kepadanya). kemudian akan diberi Balasan kepadanya dengan Balasan yang paling sempurna,” (QS An Najm:39-41)

وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ ۖ وَسَتُرَدُّونَ إِلَىٰ عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

[٩:١٠٥]

“dan Katakanlah: “Bekerjalah kamu, Maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) yang mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS At Taubah:105)

Tujuan Hidup

Is not Allah sufficient for his servant? - II
Is not Allah sufficient for his servant? – II (Photo credit: д§mд)

Apa tujuan hidup kita ini? Sebagian orang mengatakan ingin sukses, atau berguna bagi bangsa dan negara, dsb. Yang lainnya lagi mengatakan, tujuan hidup adalah liang kubur. Malah ada yang mengatakan seperti: muda foya-foya, tua kaya-raya, mati masuk surga. Begitulah, dikiranya surga milik Simbahnya. Tetapi tak ada salahnya kan, kita bercita-cita?
Semua itu hanyalah pendapat sebagian orang. Selain itu masih ada banyak lagi tujuan-tujuan hidup yang ingin diraih seseorang. Akhir dari kehidupan ini adalah maut. Ia menjadi pemisah antara kehidupan sekarang (dunia) dan kehidupan nanti (akhirat). Sebelum mati, ada pertanyaan dari Allah yang harus kita jawab,

فَأَيْنَ تَذْهَبُونَ

“Maka ke manakah kamu akan pergi?” (QS. At Takwir: 26) Lanjutkan membaca Tujuan Hidup

Iman Hidup, Hidup Nyaman

perjalanan hidup
Perjalanan

Malam itu Saad bin Abi Waqqash keluar dari tendanya. Ia ingin buang air kecil. Dicarinya tempat yang tersembunyi dan gelap, di situlah ia melepas hajatnya. Tapi kemudian ia tertegun, air seninya tak langsung mengenai tanah tapi mengenai sebuah benda. “Ah itu suara kulit kena air.” Segera setelah beristinja’ ia mengambil kulit tadi, membersihkannya, lalu membawanya pulang ke tenda. Setibanya di tenda, kulit itu pun dimasak untuk kemudian dimakan.

Itulah salah satu malam di antara seribu hari yang penuh dengan kesulitan dalam kehidupan Rasulullah dan para sahabat dan karib kerabatnya. Mereka diboikot habis-habisan oleh penduduk Mekkah. Mereka seperti dipenjara dalam sebuah penjara besar yaitu bukit Tsi’ib. Tak seorang pun berani mendekat kepada mereka, berniaga, apalagi memberi bantuan pangan. Hidup mereka betul-betul dihimpit kesulitan, apalagi setelah persediaan makanan mereka habis sama sekali. Mereka benar-benar seakan terasingkan dari kehidupan, tak bebas bergerak, tak bebas bergaul, apalagi mengambil peran dalam masyarakat. Tiga tahun bukanlah waktu yang singkat untuk menghadapi penderitaan berat ini.

Lanjutkan membaca Iman Hidup, Hidup Nyaman