Gosip, Kalau Tidak Fitnah Ya Ghibah!

Disadari atau tidak, banyak bicara akan semakin memperbesar peluang kita untuk berbohong. Kadang, untuk ‘memperindah’ omongan, kita menambahkan ‘bumbu’ sebagai pelengkapnya. Fenomena seperti ini tidak susah untuk kita temui atau bahkan mungkin kita sendiri yang mengalaminya.

Fenomena yang paling gampang kita jumpai selain mungkin yang dilakukan diri sendiri adalah acara-acara infotainment. Bukan maksud memojokkan, saya pikir bahwa acara-acara gosip tidak akan ‘enak’ ditonton jika pemberitaan itu lurus-lurus saja. Lurus di sini maksudnya tidak ada sesuatu yang ditambah-tambahi. Untuk mendapatkan hasil gosip yang ‘bagus’ tentulah ada sesuatu yang semestinya tidak digosipkan, lantas digosipkan. Di samping itu, kadang pembawa acara dalam acara gosip pun lebay dalam berbicara, padahal Lanjutkan membaca Gosip, Kalau Tidak Fitnah Ya Ghibah!

Berhati-hatilah dengan Lisan Kita

jaga lisan bro
Sst! (Photo credit: Google Image)

Kadang kita tidak sadar dengan apa yang telah kita ucapkan. Tiba-tiba keluar ucapan dari mulut kita tanpa kita ketahui apakah yang telah kita ucapkan itu memuji Allah atau malah mengumpat. Besar kemungkinan ketidaksadaran itu muncul akibat dari kebiasaan kita.

Bagus, jika ketidaksadaran tersebut muncul dari kebiasaan yang baik. Akan tetapi, sayang jika ketidaksadaran tersebut merupakan buah dari kebiasaan buruk. Misalnya, ketika dengan tidak sengaja kita terpeleset dan jatuh, alam bawah sadar kita akan mengatakan sebagaimana yang biasa kita ucapkan. Apakah kita akan mengucapkan Innalillahi atau kita akan mengumpat. Itulah hasil dari kebiasaan kita, berkata baik atau mengumpat.

Lanjutkan membaca Berhati-hatilah dengan Lisan Kita

Mendidik Anak Unggul untuk Menghadapi Masa Depan

Anak Unggul

anak unggulan
ilustrasi

Ini era globalisasi, jaman iptek. Kalau mau mengikuti ulasan Tofler, maka manusia modern telah melalui dua gelombang besar peradabannya, era pertanian dan era industri. Sekarang, kata Tofler, manusia sedang memasuki gelombang ketiga yang penuh kejutan-kejutan besar, era reformasi.

Ulasan Tofler itu dijadikan rujukan oleh John Naisbitt. Cuma yang terakhir ini mencoba memberi isi yang menjadi ciri dari setiap gelombang. Pada era pertanian, kata Naisbitt, manusia berhubungan dengan alam. Pada era industri manusia berhubungan dengan pabrik. Dan pada era informasi manusia berhubungan dengan manusia. Manusia adalah makhluk super kompleks. Karena itu berhubungan dengan manusia mempunyai banyak dimensi yang serba kompleks.

Karena teknologi transportasi dan telekomunikasi sudah sedemikian canggih, maka hubungan antartempat dan antarmanusia berlangsung dengan cepat. Filosofi materialisme yang telah mendominasi dunia membuat ukuran dan target hidup manusia, baik pada skala individual maupun sosial, juga terangkai dalam deretan angka-angka. Ini memberikan stimulasi baru untuk memperkokoh posisi waktu dan kemudian menjelmakannya secara sosial dalam bentuk makna ini, yaitu kecepatan. Kecepatan adalah standar sosial. Sampai di sini, maka informasi, di zaman ini, adalah salah satu kekuatan baru. Lanjutkan membaca Mendidik Anak Unggul untuk Menghadapi Masa Depan

Permainan

Kita pastinya sangat akrab mendengar tentang sepak bola pada sekarang ini. Hampir setiap pekan disiarkan pertandingan sepak bola di televisi. Di koran mana saja pasti ada rubrik bola, dipisah dari tema olah raga secara umum. Bahkan di koran yang mengaku sebagai koran muslim. Lalu banyak juga tabloid-tabloid yang khusus membahas tentang bola. Ini memperlihatkan kepada kita bahwa seolah-olah sepak bola itu diminati oleh semua orang, atau setidaknya sebagian banyak orang. Terlebih lagi saat Timnas Indonesia bertanding melawan negara lain, banyak yang menghubung-hubungkan masalah nasionalisme dalam mendukung timnas. Sesuatu yang saya kira baru adalah sejak piala AFC tahun 2010 lalu, lebih banyak gadis  yang menggilai bola mau menonton pertandingan di stadion dibandingkan sebelumnya.  Mungkin karena ada hal yang menarik menurut mereka.

Lain lagi dengan para kiyai. Ternyata ada juga, atau mungkin sudah biasa bahwa kiyai menggandrungi bola, mungkin karena tertarik pada euforia masyarakat sekarang ini. Mereka juga banyak yang bangun malam untuk menonton pertandingan atau lebih tepatnya permainan olah raga itu. Bedanya dengan orang biasa, mereka sholat malam dulu, lalu mendoakan agar tim yang didukungnya menang, menurut saya pribadi.

Menurut Dr. M Quraish Shihab, permainan itu sudah tidak lagi menjadi permainan, tapi telah berubah menjadi gabungan antara seni, siasat, pengetahuan, ketegaran, serius, dan ngotot. Ia mampu mengalahkan segala aktivitas serius serta kenyamanan yang didambakan. Manusia banyak yang rela berkorban untuk sekedar mengikuti arus demam olah raga, meski mereka sendiri adalah orang-orang yang berbadan loyo yang tak pernah berolah raga.

Jika Bill Clinton mengatakan permainan bola sebagai sesuatu yang dapat mempersatukan bangsa-bangsa di dunia, itu hanyalah kiasan. Bola yang bulat memang bergerak dinamis dan memukau, sehingga orang yang menyaksikan  akan sangat terhibur dan lupa dengan segala kesibukan yang setiap harinya menjadi beban, seperti kiyai yang masih sempat menggilai bola tadi. Entah itu beban politik, ekonomi, maupun pekerjaan lain yang serius. Namun yang lebih memprihatinkan, jika permainan bola itu dicampuri dengan dukun dan sebangsanya. Bahwa dari dunia permainan yang indah itu dapat melahirkan fikrah syirik yang tak diampuni Allah swt.

Memang dunia ini adalah permainan (QS Al Hadid 20), permainan yang mengandung konsekuensi serius. Permainan yang indah sebagaimana Allah juga indah dan menyukai keindahan. Permainan di dunia ini akan menjadi indah manakala dilakukan dengan bersih. Dan bersih itu sendiri berarti tiadanya pelanggaran dan atau penyimpangan dari hal-hal yang telah digariskan.

Mengapa dalam olah raga mesti ada unsur pelanggaran syar’i? Mengapa dalam olah raga mesti ada pamer aurat? Mengapa dalam olah raga mesti ada taruhan dan judi? Inilah yang sesungguhnya merusak keindahan permainan. Tapi di mata orang-orang yang berhati rusak, semua itu malah dianggap estetika dalam permainan. Na’udzubillah min dzalik.

Oh manusia, ingatlah bahwa Ilahmu seharusnya hanya Allah saja. Hadapkanlah dan luruskanlah semua arah permainan hidup ini hanya untuk-Nya, untuk mengikuti jalan-Nya.

Jika diseru demikian, mungkin banyak juga orang yang amat setuju. Karena konsepsi dasar Islam itu memang sesuai dengan fitrah jiwa yang suci seluruh keturunan Adam ini. Namun dalam realitas masih jelas, bahwa demi estetika, aurat harus dipamerkan. Bahwa dari gerak tubuh, pakaian mesti diminimkan. Bahwa demi nonton tim kesayangan, sholat subuh kesiangan. Dan demi alasan tertentu yang mengatasnamakan olah raga, judi lalu dihalalkan.

Jika demikian halnya, syirik pulalah adanya, sebab banyak hal yang bisa dijadikan alasan justifikasi. Ada ilah-ilah yang menandingi Allah, yang bahkan dapat menggugurkan batasan-batasan-Nya. Wallahu a’lam.

Adab Salam dalam Kehidupan Sehari-hari

“Orang Yahudi itu kaum pendengki. Dan tidak ada kedengkian mereka yang lebih besar selain kepada ‘salam’ (ucapan assalamu’alaikum) dan amin.”

As Salam, Peaceful Sanctuary
As Salam (Asma’ul Husna), Peaceful Sanctuary (Photo credit: Sunflower Central)

Ucapan assalamu’alaikum adalah salah satu syi’ar Islam. Bahkan syi’ar yang satu ini termasuk yang paling populer di kalangan kaum Muslimin. Betapa tidak, dari anak kecil yang baru belajar bicara hingga orang tua yang mulai sulit bicara, begitu akrab dengan ucapan ini. Tidak mengherankan bila orang-orang yahudi, seperti disebutkan oleh Rasulullah saw., begitu benci dengan syi’ar yang sederhana untuk diucapkan, namun memiliki arti yang dalam itu.

Pernah seorang Arab gunung menyapa Rasulullah saw. dengan an’im shabahan (selamat pagi), maka Rasulullah saw. mengatakan “Allah swt. telah mengganti ucapan itu dengan yang lebih baik yaitu assalamu’alaikum.”

“Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah penghormatan itu (dengan yang serupa). Sesungguhnya Allah memperhitungankan segala sesuatu” (QS. An-Nisa‘: 86)

“Kalian tidak akan masuk surga sehingga beriman, dan tidaklah beriman sehingga saling mencintai. Inginkah aku tunjukkan kepada kalian sesuatu yang jika dilakukan, kalian akan saling mencintai? Sebarkanlah salam di antara kalian.” (HR. Muslim)

Lanjutkan membaca Adab Salam dalam Kehidupan Sehari-hari