Mendidik Anak Unggul untuk Menghadapi Masa Depan

Anak Unggul

anak unggulan
ilustrasi

Ini era globalisasi, jaman iptek. Kalau mau mengikuti ulasan Tofler, maka manusia modern telah melalui dua gelombang besar peradabannya, era pertanian dan era industri. Sekarang, kata Tofler, manusia sedang memasuki gelombang ketiga yang penuh kejutan-kejutan besar, era reformasi.

Ulasan Tofler itu dijadikan rujukan oleh John Naisbitt. Cuma yang terakhir ini mencoba memberi isi yang menjadi ciri dari setiap gelombang. Pada era pertanian, kata Naisbitt, manusia berhubungan dengan alam. Pada era industri manusia berhubungan dengan pabrik. Dan pada era informasi manusia berhubungan dengan manusia. Manusia adalah makhluk super kompleks. Karena itu berhubungan dengan manusia mempunyai banyak dimensi yang serba kompleks.

Karena teknologi transportasi dan telekomunikasi sudah sedemikian canggih, maka hubungan antartempat dan antarmanusia berlangsung dengan cepat. Filosofi materialisme yang telah mendominasi dunia membuat ukuran dan target hidup manusia, baik pada skala individual maupun sosial, juga terangkai dalam deretan angka-angka. Ini memberikan stimulasi baru untuk memperkokoh posisi waktu dan kemudian menjelmakannya secara sosial dalam bentuk makna ini, yaitu kecepatan. Kecepatan adalah standar sosial. Sampai di sini, maka informasi, di zaman ini, adalah salah satu kekuatan baru. Lanjutkan membaca Mendidik Anak Unggul untuk Menghadapi Masa Depan

Dakwah Keluarga

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS At Tahrim 6)

keluarga impian
keluarga bahagia adalah impian kita

Ketika seseorang belum menikah, maka keluarganya adalah orang tua dan saudara-saudaranya, sehingga keluarga inilah yang seharusnya mendapatkan prioritas untuk didakwahi, tanpa menelantarkan kewajiban berdakwah kepada yang lain. Pemahaman medan dakwah dan kedekatan dengan objek dakwah sangatlah diperlukan dalam berdakwah, sehingga cukup tepatlah jika anggota keluarga menjadi dai bagi keluarga itu sendiri.

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah, Rasulullah saw. bersabda, “Tegakkan aturan-aturan Allah walaupun kepada keluarga dekat atau kepada orang lain. Jangan hiraukan celaan orang lain dalam menjalankan hukum-hukum Allah.”

Ketika kita mengingat kembali pada periode awal dakwah ini, akan terlihat jelas betapa pentingnya dakwah kepada keluarga. Bibit-bibit pertama pada periode sirriyah (rahasia) terdapat dalam rumah Nabi saw. Lanjutkan membaca Dakwah Keluarga

Menghindar dari televisi

Video Killed the Radio Star menandai akhir era bintang-bintang radio di Inggris. Lagu lawas band The Buggles ini menyorot nostalgia dekade 1930-an ketika televisi lahir dan bermekaran di mana-mana, menumbuhkan selebriti-selebriti baru: para bintang televisi. Sekaligus mematikan artis-artis lama: para bintang radio.
Itulah awal mula pengaruh televisi merebak di sekitar kita. Saat ini, televisi –kita– pun telah mengubah segala macam aspek kehidupan. Istilahnya televisi bukan lagi sebagai tontonan, tetapi sudah menjadi tuntunan. Tayangan-tayangan di televisi itu pun banyak yang tidak bermutu. Pengaruhnya sangat terasa bagi anak-anak. Misalnya saja film-film animasi yang ditayangkan membuat anak-anak masa kini memiliki standar tinggi dalam banyak hal.
Tayangan-tayangan itu tentunya berdampak buruk bagi anak-anak. Lalu bagaimana ‘menyelamatkan’ mereka dari itu semua?
  • Membuka ruang diskusi
Dampingi anak saat menonton. Ada dua macam tipe pendampingan aktif, yaitu menyertai obrolan kritis terhadap tayangan yang sedang ditonton anak; dan pendampingan pasif, cukup menemani duduk. 

  • Menyediakan satu televisi di rumah.
Sangat tidak dianjurkan menyediakan masing-masing satu televisi di kamar. Ini akan meminimalkan pengawasan orang tua. Jangan mentang-mentang orang kaya, “gua punya duit banyak,” terus bisa beli TV berapa pun. 

  • Letakkan televisi anda di ruangan publik.
Jangan jadikan kegiatan menonton televisi sebagai sesuatu yang nyaman. Kalau bisa pilihlah ruangan yang dipenuhi orang lalu lalang 

  • Dekatkan anak dengan buku.
Buatlah membaca itu gampang dan menyenangkan bagi anak anda dengan cara membuat buku berada di sekitar mereka. Buatlah perhatian anak teralih dari televisi dan mencari kegiatan lain yang lebih bermanfaat. 

  • Ajak bercocok tanam.
Televisi menjauhkan kita dari alam. Bercocok tanam mengajarkan banyak hal. Anak bisa belajar makna tumbuhan dan bertanggung jawab. Mulailah dari membiakkan satu pot bunga saja. Maka, setiap kali ia menyiram bunganya di pagi hari, sang anak akan paham bahwa tanaman adalah seperti kita semua. Diawali dari benih, tumbuh, berkembang dan kelak mati 

  • Ajak meihat awan.
Anak-anak zaman sekarang tak dibiasakan menikmati langit. Padahal awan menggantung setiap hari di atas kita. Seperti layar raksasa, awan menghadirkan bentuk-bentuk unik, kadang seperti kuda nil atau pesawat terbang. Ajaklah anak membuat puisi tentang awan atau sebuah cerita tentang bagaimana rasanya hidup di atas awan. Ini bisa memicu daya imajinasi dan kreativitas. 

  • Ajak menulis surat.
Teknologi telah melumpuhkan tradisi lama ini. Tapi ternyata menulis surat melatih banyak hal. Anak diajarkan untuk mengenali prosedur pengiriman barang (amplop, perangko dan berkenalan dengan petugas pos. Menulis surat juga melatih saraf motorik dan membuat anak senang bila menerima balasan. 

  • Ajak jalan-jalan.
Sekedar berkeliling lingkungan rumah untuk menyapa para tetangga. Atau jalan-jalan ke taman kota. Jalan-jalan juga bisa mengurangi kecemasan. 

  • Mari berenang.
Anak suka bermain air. Jika bosan berenang di kolam sekitar, ajak anak ke pantai. Anak bisa membuat istana pasir dan mengoleksi kerang-kerang yang dantik. 

  • Bersepeda.
Cobalah bersepeda pagi-pagi bersama seluruh keluarga. Ajak pula anak untuk menghias sepedanya menjadi sepeda yang indah 

  • Memasak.
Anak lelaki pun tidak ada salahnya untuk diajak memasak bersama. Anak-anak memasak makanan ringan yang unik dan mengasyikkan. Misalnya membuat puding semangka. 

  • Rapikan rumah dan halaman.
Lazimnya ini pekerjaan pembantu rumah tangga. Kali ini, ajak anak anda untuk memerhatikan tempat tinggalnya sendiri 

  • Bercengkerama dengan keluarga.
Penelitian menyebutkan 54 persen anak berusia 4 hingga 6 tahun mengaku lebih senang menonton televisi daripada bermain dengan ayahnya. Para orangtua juga mengaku bahwa mereka hanya menghabiskan sekitar 40 menit perhari untuk melakukan percakapan yang berarti dengan anaknya. Jangan biarkan televisi mencuri lagi waktu emas anda. 

  • Mengerjakan keterampilan tangan.
Banyak buku sekarang yang mengajarkan membuat kerajinan tangan, sehingga kita bisa melakukannya secara otodidak. Keterampilan tangan bisa dalam bentuk bermacam ragam, mulai dari menyulam, origami sampai membuat bunga dari sabun mandi.
television fucking children nowtime

Intinya, televisi telah merenggut waktu anak-anak sekarang dari masa bahagianya. Kembalikan mereka ke masa bahagia anak kecil seperti yang kita rasakan dulu sewaktu kanak-kanak.

Teladan dan Idola Keluarga

Asian Idol
Asian Idol (Photo credit: Wikipedia)

Dr. Imaduddin Khalil dalam bukunya Muasyaratu fi ‘Ashri As Sur’ah menceritakan bahwa di salah satu pusat pendidikan amerika pernah berkumpul seluruh pakar pendidikan negeri itu. Mereka berdiskusi tentang cara terbaik untuk menyebarkan pengaruh amerika ke segala penjuru dunia. Hal itu dalam rangka penyebaran ideologi saat perang dingin melawan Soviet. Salah seorang dari mereka mengusulkan agar mereka menentukan dan menginternasionalkan sosok-sosok pribadi ala Amerika yang menjadi dewa penyelamat yang sedang melanda dunia saat ini. Setelah terjadi perbincangan agak lama, akhirnya mereka menetapkan sosok itu sebagai ‘Superman’. Rencana ini digulirkan dan direalisasikan dalam praktek nyata. Mereka memproduksi film-film, kartun, gambar, poster, stiker, dan lain-lain agar anak-anak di seluruh dunia mengidolakan tokoh-tokoh itu. Lanjutkan membaca Teladan dan Idola Keluarga