Berhati-hatilah dengan Lisan Kita

jaga lisan bro
Sst! (Photo credit: Google Image)

Kadang kita tidak sadar dengan apa yang telah kita ucapkan. Tiba-tiba keluar ucapan dari mulut kita tanpa kita ketahui apakah yang telah kita ucapkan itu memuji Allah atau malah mengumpat. Besar kemungkinan ketidaksadaran itu muncul akibat dari kebiasaan kita.

Bagus, jika ketidaksadaran tersebut muncul dari kebiasaan yang baik. Akan tetapi, sayang jika ketidaksadaran tersebut merupakan buah dari kebiasaan buruk. Misalnya, ketika dengan tidak sengaja kita terpeleset dan jatuh, alam bawah sadar kita akan mengatakan sebagaimana yang biasa kita ucapkan. Apakah kita akan mengucapkan Innalillahi atau kita akan mengumpat. Itulah hasil dari kebiasaan kita, berkata baik atau mengumpat.

Lanjutkan membaca Berhati-hatilah dengan Lisan Kita

Iklan

Boastful and Refuse Paradise

once proud ... now scrap
once proud … now scrap (Photo credit: Leonard John Matthews)

Boastful attitude may caused by having lots of wealth, the beautiful face, or widely learned. Therefore, it is not amazing when this such virus may injects everyone. Anybody has to be cautious.

Anything we have, indeed, is originated from Allah and it may leaves us or we do leave it at any time. It is often happened in a trice.

Someone who commits good deeds is not proper to be boastful though. Even less until he thinks that the good deeds he did will bring him to the heaven or evade him from the hell-fire. Lanjutkan membaca Boastful and Refuse Paradise

Advice (Quran Sura Al-‘Asr)

والعصر. إنّ الإنسان لفي خُسر. إلّاالّذين أمنوا وعملوا الصّلحت وتواصوبالحقّ وتواصوابالصبر.

QS Al ‘Asr [103]: 1-3

Time
Time (Photo credit: Moyan_Brenn)

In the third verse of sura al ‘Asr above, there are words ‘tawasi bi ‘l-haq’, which means advise each other in the truth. According to Arabic language, the word ‘tawasi’ gets pattern of tafa’ul. So, tawasi is a reciprocal relation of both people. The meaning is that we advise other people in the truth, so do us receive advice from him alike.

Tawasi bi ‘l-haq means each person advise each other in case of righteousness. Meanwhile, the nearest person to advise is they who are in our responsibility and protection, i.e. wife or husband, children and brothers or sisters. Rasulullah s.a.w. used to listen to the advice given by his companions, as mentioned in some events enclosed in the books of sunna and sirah (history). He is narrated always accepts other people’s ideas, even sometimes ignores his own idea. He used to accepts any inputs for the goodness of himself and humankind.

The same things was committed by his companions. Abu Bakr as-Sidiq said in the first khutba (speech) on the podium, “O you all humankind, if you see me in the truth, then help me. And if you see me in fault, then prevent me. Obey me as long as I obey Allah. But, if I do sin to Him, then no reason for you to obey me.”

Each Muslim is a proclaimer of da’wa to Allah. Whoever learns something, he is obliged to apply it and teach other people. This is da’wa. Someone takes da’wa within good words, while others take it within good relationship with uswah hasanah (good model). This is the time for a Muslim not to life within getting busy because of his own business matter, and closes his eyes for the events fall on other Muslims. Tawasi bi ‘l-haq is one of the characteristic of the true Muslim.

Orientasi Hidup Seorang Muslim

“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.”
(Al-Qashash [28]: 77)

MUQADDIMAH

Orientation of life
Pilih mana?

Modernisasi diakui atau tidak telah berhasil mempengaruhi sebagian besar umat Islam untuk berpikir pragmatis. Hal ini secara perlahan menjadikan mereka ragu akan janji-janji Allah ta’ala. Bahkan (tanpa sadar) mereka telah tersesat dari jalan Allah ta’ala. Sebab, mereka lebih memilih mengabdi kepada dunia daripada total mengabdi kepada Allah ta’ala.

Siang dan malam pikiran serta tenaga dikerahkan untuk mendapat kebahagiaan material. Seolah-olah tidak ada kebahagiaan tanpa materi. Sampai-sampai ada di antara mereka yang terlena dan kemudian melepaskan kesempatan untuk mendapat kebahagiaan akhirat. Padahal, kebahagiaan sejati ada pada keridhaan Allah ta’ala yang akan ditumpahkan sepenuhnya kelak di akhirat yang kekal abadi. Lanjutkan membaca Orientasi Hidup Seorang Muslim

Teladan dan Idola Keluarga

Asian Idol
Asian Idol (Photo credit: Wikipedia)

Dr. Imaduddin Khalil dalam bukunya Muasyaratu fi ‘Ashri As Sur’ah menceritakan bahwa di salah satu pusat pendidikan amerika pernah berkumpul seluruh pakar pendidikan negeri itu. Mereka berdiskusi tentang cara terbaik untuk menyebarkan pengaruh amerika ke segala penjuru dunia. Hal itu dalam rangka penyebaran ideologi saat perang dingin melawan Soviet. Salah seorang dari mereka mengusulkan agar mereka menentukan dan menginternasionalkan sosok-sosok pribadi ala Amerika yang menjadi dewa penyelamat yang sedang melanda dunia saat ini. Setelah terjadi perbincangan agak lama, akhirnya mereka menetapkan sosok itu sebagai ‘Superman’. Rencana ini digulirkan dan direalisasikan dalam praktek nyata. Mereka memproduksi film-film, kartun, gambar, poster, stiker, dan lain-lain agar anak-anak di seluruh dunia mengidolakan tokoh-tokoh itu. Lanjutkan membaca Teladan dan Idola Keluarga