Lebaran in Indonesia and Ketupat

Eid will be here soon. If you are Indonesian, you’re surely familiar with ketupat. Eid al Fitr ketupat tradition has become an inseparable part of Indonesian society.

Why ketupat? When was the tradition of making ketupat started? Unfortunately, there is no scientific references on this special food. However, there are estimates which stated that tradition of making ketupat has existed since the advent of Islam to Java, circa 1400’s.

Lanjutkan membaca Lebaran in Indonesia and Ketupat

Lebaran in Indonesia

Do you know lebaran? Of course you do, if you’re Indonesian, don’t you? But I’m sure that some of you don’t know what is it. I think, lebaran is a new term of –the same kind of—social phenomena that happened in Indonesia. The origin of lebaran is Idul Fitri (Arabic). That is a feast day in Islam which celebrated after the Muslims fast for a month (Ramadan). Lebaran is celebrated on 1st Shawwal. The meaning of the Idul Fitri is come back to the saintliness. Most of people has a notion that lebaran is obliged to be celebrated, because their struggle against of desire for a month has finished. They celebrate it with new clothes, much of meals, Halal Bi Halal, and others.
Actually, they just ordered to tight the rope of sillaturahim. Notably on the Shawwal, if we do a benefaction, we are like doing it for a year.
The origin of lebaran terminology is lebar (Java) that means finish or end. Most of people interpret this word naturally. I mean they judge the finish is finish. All of benefaction they have done for a month is not necessary again right now. So, usually after coming back to saintliness, they leave good deeds and leaving the saintliness, too. It is indication that they failed on fasting.
On lebaran day –and a few days after it, there is a tradition of halal bi halal (forgive one another). Well, from this, a faulty turns up. But I don’t want to say that we are prohibited to forgive each other. I just mean forgiving is not only on lebaran, but also everyday or whenever, isn’t it? Most of people consider and understanding that Idul Fitri (come back to saintliness) is to ask pardon only. But actually, we come back to saintliness is because our benefaction we do during Ramadan.
There are one more phenomena that happened on lebaran. That is ‘mudik’. Mudik is from word udik that mean village/country. So, mudik means coming home to the birthplace. All people want to celebrate lebaran with their beloved family. It feels not complete if we celebrate lebaran without family. Although they are distant, we will visit them whatever happened. It is a beauty of our lebaran. Have a nice lebaran! Taqabalallahuh minna wa minkum taqabbal ya kariim

Menyambut Ramadhan

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,” (QS. Al Baqoroh: 183)

Kita sudah pasti hafal dengan dalil tersebut. Ya benar, dalil tersebut membahas tentang kewajiban puasa bulan Ramadhan. Memang bulan Ramadhan ini segera tiba kembali. Kita diperintahkan utuk menyambut tamu yang mulia ini dengan sebaiknya. Untuk itu kita perlu persiapan, antara lain:

  • Kita merasa senang atas datangnya bulan yang mulia Ramadhan ini. Misalnya dengan menjalankan amalan yang jarang kita lakukan dan nantinya agar kita terbiasa saat bulan ramadhan.Pada umumnya kita merasa senang pada saat menjelang hari raya. Karena kita merasa terbebas dari beban selama satu bulan. Padahal para sahabat sampai menangis disebabkan ditinggal bulan yang agung ini.
    “Orang-orang yang bahagia menyambut datangnya bulan Ramadhan, jasadnya diharamkan masuk neraka.” Al Hadits
  • Menyiapkan fisik
    Pada dasarnya, puasa Ramadhan adalah melaparkan perut selama sebulan. Jadi kalau tidak biasa lapar, perut akan ‘kaget’ karena langsung disuruh pekerjaan berat. Karena pada hari-hari biasa , perut mencerna makanan yang begitu banyak, sehingga produksi asam lambung akan otomatis banyak setiap hari. Jadi kalau pekerjaan dihentikan secara mendadak, sedangkan asam lambung tetap diproduksi, akan berakibat buruk bagi lambung itu sendiri.
  • Oleh karena itu, perlulah kiranya kita membiasakan puasa sunnah sebelum bulan Ramadhan. Karena Rasulullah dan para sahabat justru lebih banyak puasa pada bulan Sya’ban dibanding bulan lain.
  • Menyiapkan ruh keimanan
    Suasana spiritual pada bulan Ramadhan terasa sangat berbeda dengan bulan-bulan lainnya. Karena Allah telah mengondisikan demikian supaya kita,manusia lebih khusyuk dalam menjalankan puasa. Nah, khusyuk ini pun kita perlu melatihnya. Khusyuk didapat ketika kita ikhlas dalam menjalankan ibadah. Untuk bisa ikhlas, kita harus membiasakan ibadah itu. Jadi, untuk mempersiapkan bulan Ramadhan, kita harus membiasakan amal ibadah pada bulan-bulan sebelum bulan Ramadhan. Misalnya kita tidak terbiasa baca Al Quran, maka agar kita ikhlas tadarus pada bulan Ramadhan, kita mesti terbiasa membacanya pada waktu sebelum-sebelumnya. Jadi mulailah dari sekarang.
  • Mempersiapkan pikiran dan ilmu
    Melaksanakan ibadah puasa Ramadhan tidaklah sepele. Ada aturan dan ketentuan yang berlaku. Agar pahala ibadah puasa kita optimal, kita perlu dan wajib mengetahui aturan ibadah puasa itu. Misalnya hukum puasa saat kita dalam keadaan junub. Jika kita tidak mengetahui hadits tentangnya, yaitu saat Rasulullah bangun dalam keadaan junub lalu beliau berpuasa, kita pasti bingung. Jadi pelajarilah seluk-beluk puasa itu agar kita berbekal pengetahuan dan ilmunya.
  • Mempersiapkan harta untuk berinfaq
    Hal ini penting sekali. Karena ternyata Rasulullah dan para sahabat ‘mengumpulkan’ harta sebanyak-banyaknya pada bulan-bulan sebelum Ramadhan tiba, dan mereka menginfaqkannya pada bulan Ramadhan dan Syawal sampai habis. Karena pada bulan Ramadhan itu sendiri, mereka mengonsentrasikan diri beribadah sebanyak-banyaknya, karena mereka ingin memperoleh keutamaan ibadah puasa Ramadhan. Dan Allah akan melipatgandakan pahala bagi hamba-Nya yang beramal sholih (shodaqoh jariyah) pada bulan mulia ini.
  • Mengondisikan lingkungan
    Memberikan penyadaran kepada masyarakat akan datangnya bulan Ramadhan terutama tempat-tempat maksiat seperti perjudian, tempat biliard, dengan tujuan memperingatkan masyarakat yang belum sadar. Hal ini dialkukan untuk mengondisikan lingkungan agar dapat mendukung aktivitas Ramadhan terutama dalam menjalankan puasa.

Dalam menyambut bulan Ramadhan, kita juga perlu tahu beberapa keistimewaan bulan Ramadhan itu. Saat puasa, kita tidak makan dan todak minum selama kurang lebih 14 jam. Hal ini sudah diteliti oleh para ahli bahwa puasa mempunyai pengaruh terhadap kesehatan, antara lain:

  1. Puasa selama 14 jam menjadikan metode pembuangan kotoran dalam tubuh lancar dan membentuk sel-sel baru dalam tubuh
  2. Berhentinya pencernaan berarti tubuh lebih berkonsentrasi dalam penyembuhan penyakit, seperti tumor, atau penyakit kulit
  3. Tubuh juga lebih mengoptimalkan kerja hormon dalam tubuh selama usus berhenti bekerja.
Itulah beberapa di antara keistimewaan puasa Ramadhan. Masih banyak keistimewaan lainnya yang bisa dikaji. Oleh karena itu, janganlah sia-siakan kesempatan berharga ini. Selamat menjalankan ibadah puasa Ramadhan.

Islam adalah Agama Persatuan

Dalam sehari Allah mempertemukan kita, ummat islam sebanyak lima kali untuk menunaikan shalat berjamaah di masjid. Dengan shalat berjamaah penduduk suatu kampung akan saling bertemu dalam sehari sebanyak lima kali. Demikian pula pada hari jumat. Namun, kenyataan yang kita lihat, di masjid-masjid, pada waktu-waktu shalat sangat sedikit orang yang berjamaah, terlebih waktu subuh. Hal ini disebabkan rasa egois di antara kita. padahal Rasulullah SAW bersabda:

“orang-orang beriman layaknya suatu bangunan, sebagian mereka memperkuat sebagian yang lain.” (HR Muslim, Turmudzi)

Pada bulan ramadhan, seluruh ummat islam berpuasa selama 30 hari. Tidak membedakan si kaya dan si miskin, rakyat atau pejabat. di saat maghrib tiba, semuanya berbuka dan pagi harinya semua sahur. di musim haji, Allah kembali mempersatukan ummat islam selama 10 hari untuk menunaikan ibadah bersama dengan pakaian yang sama dan warna yang sama, dengan gerakan dan doa yang sama pula.

Jadi wajar saja jika agama Islam dinamakan agama persatuan. Demi Allah, seandainya sebuah negaradi dunia ingin membuat undang-undang, maka tidak ada yang lebih baik daripada agama islam.

Inilah agama kita. Oleh karena itu, kita harus melepas egoisme kita dan terus berbuat untuk kepentingan ummat. Seyogyanya kita menjadikan kepentingan ummat sebagai tujuan kita melebihi keluarga kita. Agama kita menganjurkan persatuan dan melarang sikap egoisme. namun kenyataannya kita terpecah dan malah membanggakan ego masing-masing.