Berhati-hatilah dengan Lisan Kita

jaga lisan bro
Sst! (Photo credit: Google Image)

Kadang kita tidak sadar dengan apa yang telah kita ucapkan. Tiba-tiba keluar ucapan dari mulut kita tanpa kita ketahui apakah yang telah kita ucapkan itu memuji Allah atau malah mengumpat. Besar kemungkinan ketidaksadaran itu muncul akibat dari kebiasaan kita.

Bagus, jika ketidaksadaran tersebut muncul dari kebiasaan yang baik. Akan tetapi, sayang jika ketidaksadaran tersebut merupakan buah dari kebiasaan buruk. Misalnya, ketika dengan tidak sengaja kita terpeleset dan jatuh, alam bawah sadar kita akan mengatakan sebagaimana yang biasa kita ucapkan. Apakah kita akan mengucapkan Innalillahi atau kita akan mengumpat. Itulah hasil dari kebiasaan kita, berkata baik atau mengumpat.

Lanjutkan membaca Berhati-hatilah dengan Lisan Kita

Iklan

Putus Asa?

Hidup kita terasa hampa, apa salah? Rezeki kian sempit, pekerjaan terasa sulit, apa sebab? Mengapa aku kurang ini kurang itu? Mengapa yang lain begini begitu? Ah, mengapa Tuhan tak adil? Ah, aku putus asa.
Wahai sobat, pernahkah engkau mendengar pertanyaan-pertanyaan yang sejenis dengan itu? Apa justru kau yang bertanya-tanya demikian? Itu mungkin karena manusia sudah lupa. Lupa bahwa dunia hanya sementara. Mungkin bagi mereka-mereka itu masih ingat, hingga mengakhiri hidupnya lebih cepat karena tahu bahwa hidup memang sementara.

وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ تَفَرَّقُوا وَاخْتَلَفُوا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْبَيِّنَاتُ ۚ وَأُولَٰئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ

[٣:١٠٥]

“dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. mereka Itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat,” (QS Ali Imron:105)

Pertanyaan-pertanyaan itu pertanda orientasi hidup atas dunia yang fana telah menguasainya. Yang bertanya itu sudah hampir kehilangan penuntun. Mereka itu sedang krisis iman, lupa Tuhan. Mereka hanya memandang dunia dari sisi kefanaan. Allah berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

[٥١:٥٦]

“dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. “(QS Adz Dzariyat:56)

Bila masalah mengimpit, kita mungkin lupa pada Allah. Jika rezeki sempit, mungkin kita lupa bersodaqoh. Beramallah yang terbaik. Jadikan hidup lebih berarti dengan ilmu. Jadikan setiap detikmu adalah ibadah, sekali pun dalam keadaan tidur. Biarlah Allah yang Mahatahu mengatur umur kita, jodoh kita, rezeki kita. Kita berusaha sebisa kita, seikhlas kita. Tak usah mengharap hasil yang banyak jika usaha kita setengah-setengah. Janganlah membeli kekekalan surga Firdaus dengan kesenangan sementara di dunia yang fana ini.
Sudah saatnya menatap kenikmatan yang telah dan saat ini kita rasakan, dan bersyukurlah. Bersyukurlah pada Allah yang telah dan yang saat ini memberi nikmat. Dan Allah akan memberi kita nikmat-Nya lagi. Dan bersyukurlah kita kembali dengan memberi yang terbaik.

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ

[٦٧:٢]

“Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun, “(QS Al Mulk:2)

إِنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ وَيُنَزِّلُ الْغَيْثَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْأَرْحَامِ ۖ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَاذَا تَكْسِبُ غَدًا ۖ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

[٣١:٣٤]

“Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang hari Kiamat; dan Dia-lah yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok[1187]. dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana Dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.”(QS Luqman:34)

وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعَىٰ [٥٣:٣٩] وَأَنَّ سَعْيَهُ سَوْفَ يُرَىٰ [٥٣:٤٠] ثُمَّ يُجْزَاهُ الْجَزَاءَ الْأَوْفَىٰ

[٥٣:٤١]

“dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya, dan bahwasanya usaha itu kelak akan diperlihat (kepadanya). kemudian akan diberi Balasan kepadanya dengan Balasan yang paling sempurna,” (QS An Najm:39-41)

وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ ۖ وَسَتُرَدُّونَ إِلَىٰ عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

[٩:١٠٥]

“dan Katakanlah: “Bekerjalah kamu, Maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) yang mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS At Taubah:105)

Gempa, Sebuah Renungan

Gempa menjadi bencana alam paling menonjol yang menimpa negeri ini belakangan terakhir. Di samping adanya solidaritas terhadap korban gempa, seperti peduli Tasikmalaya, dan peduli Sumatra barat, orang pun memberikan penafsiran bermacam-macam tentang gempa. Ada yang menganggap ini peringatan dari Allah SWT. Ada pula yang beranggapan bahwa itu semua merupakan adzab dari Allah SWT sehubungan dengan reformasi yang tak beres-beres. Juga, ada yang menghubungkan gempa dengan perilaku elit politik yang bikin gonjang-ganjing negeri ini. Selain itu, terdapat orang yang menyindir kelakuan birokrat dan politikus curang : alam pun marah kepada mereka. Yang jelas sebagian besar orang merasa ngeri terhadap kejadian itu dan takut menderita atau mati karenanya.

Bagaimana sesungguhnya pandangan Islam tentang gempa bumi dan bencana alam lainnya? Adakah ia termasuk adzab Allah SWT? Ataukah ia sekadar musibah yang menjadi ujian bagi umat manusia? Atau sekadar gejala alam biasa? Lanjutkan membaca Gempa, Sebuah Renungan