Fenomena Kehidupan: Gamang

Pernahkah anda merasa gamang? Sebagian orang pernah mengalaminya. Dikarenakan ia pasti kurang iman, atau imannya kurang kuat. Banyak orang yang tidak lagi bisa berpikir jernih untuk menghadapi kehidupan yang keras ini. Berita tentang bayi yang dibuang oleh ibunya sendiri pernah ada bahkan tidak hanya sekali saja. Atau mengenai kasus mutilasi yang sekarang ini bertambah heboh. Itu semua dikarenakan sempitnya pemikiran mereka akan dunia ini.
Katanya kita hidup di negeri yang gemah ripah loh jinawi –makmur sejahtera dan aman. Seharusnya rakyat kita pun sejahtera. Tetapi kenyataan berbicara lain. Zaman semakin maju, dan kehidupan semakin modern. Arus globalisasi menyeret siapa saja yang tidak bisa mengikutinya sendiri. Kebutuhan hidup juga semakin bertambah. Siapa saja pasti akan berusaha memenuhi kebutuhan itu. Maka dengan segala cara itu mereka berusaha bertahan hidup.
Akumulasi kesulitan hidup selalu saja melahirkan kegamangan terutama bagi mereka yang tidak memiliki kesiapan mental untuk menghadapinya. Dalam situasi yang demikian, seringkali orang menempuh jalan pintas untuk keluar dari impitan kesulitan. Orang yang gamang bisa saja bertindak brutal seperti merampok, mencuri atau menyogok. Bahkan bisa saja sampai bunuh diri karena stres. Apakah kegamangan hanya dirasakan orang-orang miskin? Dalam pandangan kita demikian. Tetapi nyatanya tidak. Kemiskinan materi bukanlah satu-satunya faktor kegamangan. Misalnya saja kecemasan dalam kehidupan modern ini, yang disebabkan kompetisi atau persaingan, pentingnya status sosial yang tinggi, semakin kurang intensnya hubungan keluarga karena kesibukan, atau rasa ketidakmampuan menggapai cita-cita.
Persaingan mencari kerja telah memberi tekanan kejiwaan tersendiri bagi para lulusan sekolah maupun perguruan tinggi. Banyak di antara mereka yang resah, karena sedikitnya lapangan kerja dan banyaknya saingan. Akhirnya mereka harus terseret dalam arus sogok dan mencari orang dalam agar dapat diterima bekerja pada sebuah instansi.
Ya, kegamangan ternyata tidak hanya dipicu kemiskinan semata. Tetapi juga karena gaya hidup manusia. Penghargaan yang tinggi terhadap status sosial ekonomi telah mendorong orang berlomba-lomba memperkaya diri dan mempertinggi pangkat. Penyakit serakah ini berperan besar bagi situasi kegamangan massal.

Mari kembali ke agama dan perbaiki diri

Tergerusnya nilai-nilai agama harus diakui merupakan faktor penyebab seseorang mengalami kegamangan. Dengan jauhnya seseorang dari nilai-nilai agama membuatnya kehilangan pegangan hidup. Artinya sekalipun siapapun dia ketika berupaya memahami hidup hanya dengan mengandalkan logika, ia pasti akan kehilangan arah tujuan hidup. Banyak orang yang terjebak pada persaingan-persaingan tidak manusiawi, karena hendak mengejar kebahagiaan hidup. Namun bukan kebahagiaan yang ia temui, tetapi justru keresahan yang ia alami. Itu karena mereka tidak menjadikan Allah sebagai tempat kembali dan mohon pertolongan.
Akan ada dua jenis kehidupan yang akan dijalani manusia menurut al-Quran:

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ [١٦:٩٧]
97. Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam Keadaan beriman, Maka Sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan Sesungguhnya akan Kami beri Balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. An Nahl:97

وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَىٰ [٢٠:١٢٤]
124. dan Barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, Maka Sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam Keadaan buta”. Thaha 124

Yang pertama bahwa orang yang beriman akan diberi kehidupan yang baik oleh Allah, yang berguna untuk mengatasi masalah dengan baik dan benar, serta akan memberikan ke tangan dan optimisme dalam hidup.
Yang kedua bahwa barangsiapa yang berpaling dari Allah, ini bisa diartikan kehidupan yang tak jelas. Tak jelas juntrungannya atau pun pegangannya, ini bagi mereka yang tidak menjadikan agama sebagai pegangan.
Menurut K.H. Didin Hafidhuddin, kriteria kebahagiaan ada 4 macam. Pertama, orang yang berbahagia adalah orang yang bisa beribadah. Kedua, Qolbun syakiron, hati yang bersyukur, yang ridho. Ketiga, lisanudz dzakiron, lidah yang selalu berdzikir. Dan yang keempat, suami / istri yang baik atau keluarga sakinah.
Dan agar selalu pikiran kita jernih, kita harus selalu menjaga kesehatan mental. Dan lagi-lagi kesehatan mental tak akan tercapai kecuali jika seseorang kembali pada agamanya. Allahu a’lam.

Kelezatan Taqwa

Taqwa Wallpaper
Taqwa Wallpaper (Photo credit: Syukran.com)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ ١٠٢

Hai orang-orang yang beriman bertaqwalah kalian kepada Allah dengan taqwa yang sebenar-benarnya, dan janganlah sekali-kali kalian mati melainkan dalam keadaan beragama Islam. (QS. Ali Imran : 102 )

Istilah taqwa sudah amat sering di dengar. Kalimat ini bahkan setiap pekan selalu di kumandangkan dari mimbar-mimbar shalat Jum’at. Meski demikian, saking populernya kalimat taqwa seolah terasa tidak isimewa lagi. Makna hakikinya menjadi hilang dan berhenti hanya menjadi sekedar slogan. Kalau demikian halnya, maka bagaimana kita dapat merasakan lezatnya esensi ketaqwaan ?

Hakikat Taqwa

Ditinjau dari segi bahasa ‘taqwa’ berasal dari bahasa Arab; waqaa, yaqii, wiqayatan, yang artinya menjaga, melindungi, dan waspada. Kata kerja ittaqaa yang sering diartikan bertaqwa juga berarti takut kepada sesuatu dan berhati-hati terhadap sesuatu, atau berarti meminta perlindungan kepada sesuatu dan menjauhkan diri dari sesuatu. Al Qur´an dan Sunnah telah mengupas tuntas dan gamblang nilai taqwa yang hakiki. Dari sekian banyak ayat dan hadits, umumnya penggunaan kata taqwa berlaku dalam dua konteks. Pertama, taqwa sebagai proses, yakni berupa perintah langsung untuk bertaqwa. ’’Bertaqwalah kamu kepada Allah agar kamu beruntung ’’ ( QS.Ali Imran ;130 ). Kedua, taqwa sebagai hasil, yakni merupakan dampak suatu amal. ’’Hai orang-orang yang beriman, diwjkibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu nagar bertaqwa. ( QS.Al Baqarah :183 ) Lanjutkan membaca Kelezatan Taqwa