Orientasi Hidup Seorang Muslim

“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.”
(Al-Qashash [28]: 77)

MUQADDIMAH

Orientation of life
Pilih mana?

Modernisasi diakui atau tidak telah berhasil mempengaruhi sebagian besar umat Islam untuk berpikir pragmatis. Hal ini secara perlahan menjadikan mereka ragu akan janji-janji Allah ta’ala. Bahkan (tanpa sadar) mereka telah tersesat dari jalan Allah ta’ala. Sebab, mereka lebih memilih mengabdi kepada dunia daripada total mengabdi kepada Allah ta’ala.

Siang dan malam pikiran serta tenaga dikerahkan untuk mendapat kebahagiaan material. Seolah-olah tidak ada kebahagiaan tanpa materi. Sampai-sampai ada di antara mereka yang terlena dan kemudian melepaskan kesempatan untuk mendapat kebahagiaan akhirat. Padahal, kebahagiaan sejati ada pada keridhaan Allah ta’ala yang akan ditumpahkan sepenuhnya kelak di akhirat yang kekal abadi. Lanjutkan membaca Orientasi Hidup Seorang Muslim

Iklan

Konspirasi Kafir Barat Menyerang Ummat Islam

Konflik yang hingga kini masih berlangsung di Maluku dan sekitarnya sejatinya adalah konflik antara kaum muslimin dengan orang-orang kafir yang didukung oleh negara-negara kafir Barat terutama AS, Australia dan Belanda. Posisi kaum kafir di daerah itu yang sudah sangat terdesak –meskipun merekalah pemicu konflik pertama kali– mendorong mereka untuk menginternasionalisasikan konflik dalam negeri itu. Sedemikian rupa kekhawatiran mereka sampai-sampai dubes AS untuk Indonesia, Robert Gelbard, dengan arogan memberikan statemen dalam wawancaranya dengan harian The Washington Times seperti dikutip Antara dari New York, Jum’at (1/9): “Kami sangat prihatin mengenai peluang yang ada di Indonesia sekarang ini yang menjadi masyarakat terbuka bagi kelompok ekstrim, termasuk kelompok ekstrim dari luar negeri, untuk mencari lubang dan menanamkan akarnya di Indonesia. Kami percaya (masuknya teroris asing) itu telah mulai.” Katanya (Sinar Pagi,02/09/2000)

Gelbard yang dekat dengan Menlu AS Madeline Allbright dan Dubes AS di PBB Richard Holbrooke (dua-duanya orang Yahudi) mengatakan : “Yang tidak bisa dimaafkan adalah ada orang, termasuk Menlu yang terus-menerus menabuh genderang menentang intervensi asing di Maluku, di mana tidak ada hantu intervensi di sana.”

Kenapa Gelbard begitu arogan dan melampaui batas tata krama seorang diplomat hingga mengobok-obok negeri Islam Indonesia? Lanjutkan membaca Konspirasi Kafir Barat Menyerang Ummat Islam

Freemasonry dan Perkembangannya

Freemason adalah gerakan rahasia zionis internasional yang dibuat oleh sembilan orang yahudi di Palestina pada tahun 37 H yang dimaksudkan sebagai usaha melawan agama masehi dan pemeluk-pemeluknya dengan cara pembunuhan orang perorang.

Kemudian tujuan dari freemason bukan saja untuk melawan agama masehi, akan tetapi dikembangkan dan berupaya untuk menghancurkan ajaran Islam beserta ummatnya. Sehingga terbentuklah pemerintahan zionis dengan goyim (non-yahudi) dijadikan sebagai budak atau pesuruh atau bagaikan keledai yang siap mengangkut keperluan tuannya.

Freemason terdiri dari dua kata, yaitu free dan mason. Free artinya bebas atau merdeka dan mason artinya tukang bangunan. Jadi, freemason berarti tukang bangunan yang merdeka.
Freemason yang merupakan organisasi rahasia zionis internasional tidak ada hubungannya dengan tukang-tukang bangunan yang terdapat pada abad-abad pertengahan. Lanjutkan membaca Freemasonry dan Perkembangannya

Menjadi Pemimpin (dalam Islam)

Sistem pemilihan pemimpin di indonesia sekarang ini terkesan menghambur-hamburkan uang negara. Setiap bulan –mungkin– ada saja pemilihan di kabupaten atau kota. Calon yang akan dipilih biasanya bermodal ketenaran dan uang, yang biasanya artis. Beberapa waktu lalu, bahkan artis yang biasa tampil seronok dicalonkan oleh partai untuk menjadi bupati di suatu kabupaten. Otonomi daerah dan reformasi dijadikan dalih agar pemilihan pemimpin dilaksanakan sendiri-sendiri di daerah. Padahal ini bisa menjadi peluang penggelembungan dana a.k.a korupsi. Lebih dari itu, calon yang maju tidak sesuai harapan.

Dari itu semua, kalah dan menang sudah lumrah adanya. Tetapi ada –bahkan banyak– orang tidak bisa menerima kekalahan. Misalnya saja caleg yang tidak lolos banyak yang menjadi stress –jika tidak dikatakan gila. Mereka ini sudah dipastikan mencalonkan diri karena money oriented, atau termotivasi oleh kedudukan dan uang. Mereka ini bisa disamakan dengan para pejudi. Mereka bertaruh demi mendapat kedudukan dalam dewan yang terhormat. Sungguh picik sekali pemikiran yang demikian itu.

Terlepas dari itu semua, kampanye-kampanye yang digalakkan para calon tidak hanya dalam bentuk orasi. Ada yang mengunjungi TPA untuk mendapat simpati dari wong cilik, tak jarang yang mengunjungi pasar tradisional untuk mendengar aspirasi pedagang di sana –dan sekaligus sekali-kali melihat pasar tradisional karena sering ke mal. Tetapi jika terpilih, apakah mereka akan ingat janji mereka itu? Kemungkinannya iya dan tidak. Pemimpin yang amanah adalah pemimpin yang menepati janjinya itu.

Rupanya momen pemilihan umum lebih menguntungkan sebagian golongan saja. Masyarakat yang dijanjikan kesejahteraan, yang sebagian orang miskin, hanyalah dijadikan objek pelengkap penggembira. Pada saat kampanye, rakyat seperti “dimanja-manja”, tetapi setelah selesai, seolah sang pemerintah lepas tangan –sekali lagi seolah. Para anggota dewan hanya menginginkan gajinya perbulan, tetapi hasil kerjanya mandul. Lihat saja kasus-kasus yang menimpa anggota dewan terkait korupsi waktu-waktu lalu.

Itulah yang saya pikirkan selama ini. Apakah politik seperti itu? Memanfaatkan rakyat sebagai obyek kampanye dan kepentingan masing-masing pribadi atau golongan? Katanya, dasar negara Indonesia yaitu Pancasila. Yang salah satu silanya mengatakan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Sudah jelas bahwa rakyat Indonesia butuh keadilan, keadilan sosial. Ya mbok daripada mengurus proyek untuk sepakbola (membangun stadion atau yang lain) lebih baik membangun rumah-rumah untuk gelandangan dan orang terlantar.

“Nasionalisme” telah luntur dari diri masyarakat kita. Dan individualisme sebagai hasil liberalisme telah menyusup begitu dalam di setiap pribadi. Padahal imperialisme telah menjajah bangsa kita ini sebagai hasil dari kapitalisme. Dekadensi moral telah merusakkan peradaban dan kehidupan. Sehingga korupsi seolah telah membudaya dalam pemerintahan kita.

Sebenarnya tujuan atau motivasi utama seseorang ingin menjadi pemimpin itu apa? Apakah ia sudah merasa pantas? Sudahkah mereka memiliki kriteria seorang pemimpin? Kriteria pemimpin antara lain:

1. niat yang lurus

2. laki-laki

3. tidak minta jabatan

4. berpegang pada hukum Allah

5. memutuskan perkara dengan adil

6. tidak menutup diri saat rakyat membutuhkan

7. menasihati rakyat

8. tidak menerima hadiah

9. mencari pemimpin (pengganti) yang baik

10. lemah lembut

11. tidak meragui dan memata-matai rakyat

dalam konteks ini adalah syarat seorang pemimpin dalam Islam, karena mayoritas di Indonesia adalah Islam. Sudahkah Anda wahai para pemimpin, memenuhi syarat-syarat tersebut?

Sungguh sunnah Rasulullah saw telah menunjukkan bahwa kekuasaan adalah amanat yang wajib dipertanggungjawabkan, seperti yang disebutkan Nabi saw kepada Abu Dzar tentang kekuasaan:

“sesungguhnya kekuasaan itu adalah amanat dan kelak pada hari kiamat akan menjadi penyebab kehinaan dan penyesalan kecuali bagi orang yang mengambilnya dengan cara yang benar dan melakukan kewajiban-kewajiban yang harus dipikulnya.” (HR Ibnu Taimiyah)

Jihad Bukan Kejahatan

Pengertian dan Hakikat Jihad

Menurut arti bahasa, jihad adalah bersungguh-sungguh. Jahada fi al amri, artinya berusaha dengan sungguh-sungguh. Dengan mendasarkan pada pengertian bahasa tersebut, oleh sebagian tokoh agama dan intelektual, kata jihad diimplementasikan dalam banyak aspek. Maka, menurut mereka, semua kegiatan kebaikan yang dilakukan dengan sungguh-sungguh adalah jihad. Menuntut ilmu, bekerja, atau berbagai kegiatan lain, bila dilakukan secara sungguh-sungguh dan bertujuan baik semua adalah jihad.

Tetapi, jihad tidak boleh dibatasi pengertiannya hanya menurut arti bahasa saja. Karena, di samping arti bahasa jihad juga memiliki makna istilah yang digali dari nash-nash syar’i yang menjelaskan tentang perintah jihad. Berdasarkan istilah syar’i itulah jihad memiliki makna yang spesifik yang berbeda dengan makna lughawinya (bahasa). Menurut Syekh Taqiyyudin an-Nabhany dalam kitabnya Syakhshiyyah Islamiyyah jilid II, jihad diartikan sebagai “qitaalu al-kuffari fii sabilillahi li i’lai kalimatillahi”, yaitu memerangi orang-orang kafir di jalan Allah dalam rangka meninggikan kalimat Allah (Islam). Lanjutkan membaca Jihad Bukan Kejahatan